"Hahaha"
Tawa riang mengiringi ruangan kelas 11. Ruangan yang dilapisi oleh cat berwarna ivory itu dihiasi oleh aktivitas para murid yang beragam. Mulai dari bercanda ria, bernyanyi hingga bermain gitar. Ukiran senyum terpaut pada wajah setiap anak. Bagaimana tidak? Ini adalah jam favorit mereka. Jam kosong.
"Tha, asal lo tau, sekelas pada ngakak gara-gara lo," ucap salah satu dari ketiga gadis yang sedang berkumpul di meja yang berada paling belakang.
Retha hanya diam menahan malu mengingat peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Peristiwa yang membuat pelipisnya dilapisi oleh hypafix atau yang biasa disebut dengan plester luka.
"Komuk lo dapet banget di situ." Tambah Karin yang disambut dengan tawa kencang dari Luna.
Retha bergeming. Peristiwa empat hari yang lalu itu masih melekat jelas dalam memorinya.
Ya, empat hari yang lalu...
"Mampus, gue udah telat!" Pekik Retha ketika melirik arloji putih yang melingkari pergelangan tangannya.
Ia menarik sedikit pedal gas motor lebih kuat sehingga kecepatannya semakin bertambah.
Scoopy merah miliknya mulai melaju kencang. Menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya. Ia kembali melirik arlojinya lagi. Pupil matanya membulat ketika mengetahui bahwa dirinya telah telat 10 menit. Ia mulai menyesal karena semalam tidur terlalu larut hanya karena ingin menamatkan film yang baru saja ia temukan. Sebenarnya ia tak berniat untuk menonton film. Ia hanya ingin menyelesaikan tugas yang esok akan dikumpulkan. Tetapi karena potongan film itu muncul pada iklan di internet dan membuat rasa tertariknya menggebu, ia pun memilih untuk menonton film tersebut saat tugasnya telah usai.
Tugas ekonomi dari gurunya yang terkenal killer tak mungkin akan ia lewatkan. Dia tak ingin jika nasibnya akan sama seperti Luna minggu lalu. Berdiri di depan tiang bendera sembari berpose hormat bersama beberapa anak lain yang berani melewatkan tugas ekonomi.
"...Indonesia raya. Merdeka. Merdeka..."
Lantunan suara mereka terdengar jelas dan disambut oleh puluhan sorot mata yang bertebaran di jendela.
"Bruukk!"
Di tengah jalanan yang cukup ramai, Retha-gadis itu terjatuh bersama motornya. Pelipisnya berhasil membentur jalanan aspal hingga menghasilkan cairan berwarna merah segar. Dengan tubuh yang sudah terbaring lemas disertai nyeri yang kuat pada bagian kepala, Retha merogoh sakunya dan langsung menyalakan benda berbentuk pipih.
Sementara di kelas, ketika salah seorang siswa sedang mempresentasikan tugasnya di layar proyektor. Muncullah sebuah panggilan video yang berasal dari laptop sang guru. Tanpa pikir panjang sang guru pun langsung mengangkatnya.
"Pak, saya benar-benar meminta maaf. Saya tidak bermaksud bolos sekolah, pak. Saya kecelakaan jadi saya minta izin kepada bapak untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ingat, ya, pak. Saya tidak bolos jadi jangan berikan nilai D pada rapot saya."
Sekelas pun langsung tertawa mendengar penuturan dari Retha. Suaranya terdengar sangat cemas terlebih wajahnya. Wajahnya sangat menunjukkan ekspresi melas yang berhasil mengundang tawa seisi kelas.
"Harusnya gue foto tuh buat kenangan," ujar Luna yang masih cengar-cengir mengingat peristiwa tersebut.
Di meja sebelah, Riko duduk sembari membawakan lagu dengan gitar kesayangannya. Suara Vano yang serak-serak basah mengiringi petikan gitar Riko. Membuatnya terdengar semakin merdu.
".. Look at me now. I'm falling."
Suara Vano yang cukup keras pun mengundang atensi beberapa siswa.
"I can't even talk. Still stuttering."
YOU ARE READING
UNCONDITIONAL[ON GOING]
Teen FictionTentang hati yang ditumbuhi oleh sebuah rasa. Tentang rasa yang ada tanpa adanya karena. Juga tanpa alasan dan syarat yang bermakna. Rasa itu tumbuh tanpa adanya karena ataupun syarat yang bermakna. Cause, I like you unconditional. |#1teenstories[01...
![UNCONDITIONAL[ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/307962276-64-k97826.jpg)