Kamu sungguh luar biasa ya. Semua yang kau lakukan benar-benar di luar dugaan. Kau berlaga seakan kaulah orang yang paling membenci kepura-puraan. Tapi ternyata, keberadaanmu sendiri sebuah kepura-puraan.
Bagaimana mungkin aku tidak mempercayaimu? Kau pemain watak ulung. Tutur katamu dikemas sedemikian rupa. Tidak cantik, tapi meluluhkan hati. Membuat akalku seketika tidak berfungsi. Bagaikan kerasukan arwah seekor keledai.
Lebih dari setengah dekade aku mempercayaimu. Mengikuti semua perintahmu. Rela mengorbankan yang tersayang hanya untukmu. Kata-kata dan polahmu begitu menghipnotisku.
Semua orang lelah. Mereka menyerah terhadapku. Tak lagi mau meyakinkanku bahwa aku berhak bahagia. Sia-sia sudah. Hatiku sudah di bawah kendalimu. Otakku sudah membeku. Tak lagi berfungsi. Bak seonggok tubuh tak bernyawa yang dikendalikan oleh virus.
Ku percaya kau menyayangiku. Kau bilang aku seperti adik kecilmu. Semua belenggu ini atas nama rasa sayang. Tak ingin aku tersesat, katamu.
Aku sadar betul aku muak dengan segala penjara semu ini. Tapi entah mengapa aku tak ingin berontak. Aku hanya ingin menikmati segala kesengsaraan dan membiarkanmu menyiksaku lebih lanjut. Sudah ku bilang. Otakku sudah membeku. Semua ku lakukan atas dasar percaya. Aku sangat mempercayaimu dengan segala tutur busukmu itu.
Hingga kau mendua. Kau memohon untuk kembali. Ku izinkan kau membelenggu jiwa yang sudah bebas ini. Dan kau menusukku untuk kedua kalinya. Kenapa kau ini?
Kau bilang halang rintang jarak menahan kita bersatu. Aku percaya. Kau bilang restu orang tua menjadi penghalang. Aku percaya. Kau bilang kau tidak ada waktu. Aku percaya.
Tapi demi ia yang kau sayang, kau rela menempuh jarak, tanpa mempedulikan resiko dan seberapa banyak waktumu yang terbuang. Tapi untukku? Setelah bertahun-tahun menanti, yang ku dapat hanyalah rasa sakit dan bualanmu yang menjijikkan.
Realita menamparku sangat kencang. Membuka mataku lebar-lebar. Semua ucapan dan tindakanmu hanyalah omong kosong. Semua tipu daya. Kau tidak pernah mencintaiku sedikitpun. Tak jua menyayangiku. Kau hanya menebar buih racun untuk bersenang-senang. Penderitaanku kau jadikan sebuah hiburan.
Sungguh tak lagi mampu berpikir. Apa yang ada di pikiranmu? Mengapa kau berbuat seperti ini? Terima kasih untuk membuang waktuku. Aku menyia-nyiakan segalanya hanya untukmu.
Terima kasih sudah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.
Sachi,
Bogor, March 8, 2022
