Lamaran untuk Dinda #1

59 0 0
                                        

Tokoh Utama

Adam Owen
Mahasiswa jurusan Politik dan Ekonomi tahun ketiga. Umur 20 tahun. Tinggi 188. Badan tegap. Bahu lebar. Dada bidang. Warna rambut coklat terang. Warna mata biru. Berkepribadian ceria. Cerdas. Diplomatis. Hampir serba-bisa. Alim-alim nyebelin. Suka mendebat kakaknya dan Dinda. Adam adalah anak terakhir, Kakak perempuannya bernama Rose Owen. Ayahnya bernama James Owen dan ibunya bernama Jasmine Owen.

Dinda Ishadi Hanafi
Asisten dosen matematika dan menempuh pendidikan S3. Umur 25. Berjilbab. Selera fashionnya ga ketebak kayak cuaca. Tinggi 157. Bodi mungil. Warna rambut hitam. Warna mata coklat terang. Berkepribadian ceria. Sembrono. Cerdas tapi sering tololnya. Suka kontradiksi. Alimnya oke, tapi dosanya lebih gak oke. Diam-diam naksir adik temannya sejak SMA.

***

"Aduh, nungguin anak bujang ini kok lama banget," sarkas Dinda yang sebenarnya sedang memprotes lamanya Adam yang katanya mau berkencan dengannya.

Adam bedecak. "Aduh Mbak Dinda, sabar dong. Ini Felix gak kujung menghubungi aku," Adam sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

Sebenarnya Dinda tidak terlalu lama menunggu Adam. 20 menit berlalu dan Dinda ditemani secangkir kopi beserta biskuit coklat kesukaannya yang tentu diberikan sang tuan rumah. Siapa lagi kalau bukan Adam.

Pandangan Dinda sesekali masih mengikuti Adam yang mondar-mandir. Cowok berondong itu cuma memakai bokser dan hoodie hijau. Dinda mendesah, memuji sekaligus merutuki ketampanan adik temannya ini meski bajunya alakadarnya.

Bunyi telepon yang ditunggu Adam akhirnya tiba juga. "Felix ....," Dinda tak begitu menyimak percakapan Adam dan Felix selanjutnya, ia justru asyik dengan tayangan TV Adam tentang kesehatan reproduksi manusia.

"Ok makasih, Felix," ucap Adam yang disusul dengan ucapan selanjutnya. "Dah beres. Aku siap-siap bentar ya, Mbak," ketika tak ada respons dari Dinda, awalnya Adam tak curiga. Akan tetapi begitu mendengar kata 'free sex' dari reporter ia langsung melompat dan menyambar remot TV dan mematikan layar datar itu.

Sepersekian detik Dinda dan Adam saling bertatapan. Mereka berpikiran berbeda. Pikirannya Dinda begini. Nih anak ngapain tiba-tiba matiin TV? Pikirannya Adam. Mbak Dinda tadi nonton apa ya? Ia jadi parno dan takut sendiri.

"Lo ngapain sih, Dam?" Sembur Dinda sambil merebut lagi remote TV. Logat kotanya keluar saat sedang kesal.

"Mbak Dinda tadi nonton apa?" tanya Adam was-was.

"Film porno lo," jeda. Adam mematung sebagai respons, hanya matanya yang mengerjap-ngerjap bingung. Dinda tergelak. "Ya gak mungkin lah aku nonton itu," Dinda masih tergelak. Berhubung tak ada respons dari Adam, jadi ia lanjut bicara. "Emang kamu punya? Kalau kamu punya pun aku gak minat, mending aku nonton sendiri daripada ada temannya yang bukan muhrim dan lagian aku gak nonton film porno alay-alay, orang film plotnya gak jelas aja gak aku tonton," jelas Dinda dengan logat yang kembali normal. Setengah puas karena berhasil mengerjai Adam, tapi kesal karena tiba-tiba dia nyerocos. Lantas Dinda menyalakan TVnya lagi yang menayangkan 'Menurunnya Gairah Seksual dan Keengganan Generasi Muda Memiliki Anak'.

Adam tersenyum. Ia mendesah lega setelah tahu tontonan Dinda. "Kirain," ia ikut tekekeh.

"Serius kamu punya film porno?"

"Enggak atuh, entah Mbak Dinda percaya atau enggak."

Giliran Dinda yang terkekeh lagi. "Ehe, aku percaya padamu, anak muda."

"Enak aja Mbak Dinda ngatain aku anak. Kelihatan anak gini udah bisa bikin anak," kesal Adam yang merasa selalu diperlakukan seperti adik oleh Dinda. Meski sebenarnya benar Dinda menyebutnya 'anak muda', kan umurnya masih 20 tahun. Dinda juga anak muda yang usianya 25 tahun.

Dinda cukup terkejut mendengar perkataan Adam barusan. "Astagfirullah hal adzim, Adam. Istighfar. Kita nih cuma berdua di rumah kamu. Gak takut khilaf???" Sebenarnya Dinda yang lebih takut khilaf. Makanya dia beristighfar berkali-kali. Dinda siap menerkam Adam bulat-bulat kalau cowok itu suaminya. Sayangnya bukan. Kalau Adam mah orientasi seksualnya bisa dipertanyakan, soalnya Adam itu laki-laki baik-baik yang tidak pernah pacaran. Kan cowok ganteng kalau gak playboy ya *** (sensornya ... terusin sendiri).

"Takut sih, Mbak. Makanya aku mau cepet-cepet mandi," Adam segera berlalu ke kamar mandi. Dinda kembali cuek. Syukurlah karena rupanya gadis itu tak menyadari arti 'mandi' di benak Adam. Saat mengambil handuk di jemuran, Adam banyak-banyak istighfar karena yang dikatakan Dinda barusan merupakan kebenaran. Adam mengusap-usap wajahnya. Anak Om Nafi satu ini memang harus segera dirabi. Efeknya bahaya.

Setelah selesai mandi, bebersih, dan berpakaian kasual khas musim panas, Adam siap untuk keluar. "Mbak, ayok," ujar Adam ketika menutup pintunya. Dinda yang semula masih asyik menonton TV, langsung tersentak begitu mendengar suara Adam. Ia menatap Adam dari atas sampai bawah, menilai.

"Udah? Gak ada yang ketinggalan?"

"Nggak ada. Hatiku udah kebawa sama kamu," ujar Adam berseri-seri.

"Gombal! Dasar bocil."

"Dinda!" suara rendah Adam agak mengancam. Gak tau aja Dinda ngatain begitu, Adam dikatain bocil padahal udah bisa bikin bocil.

Dinda tersenyum tipis untuk menutupi munculnya rasa merinding di sekujur tubuhnya. "Iya iya, sori. Lupa."

Bersambung

KarminaStories to obsess over. Discover now