Kring.. Kring.. Kring..
Jeon Jung-kook mengernyit ketika telinganya menangkap nada dering yang amat dikenalnya itu. Suaranya begitu nyaring sampai-sampai dahinya berkerut menahan geram. Tangan kirinya sibuk meraba-raba pada ruang kosong di sebelah kepalanya selama beberapa saat sebelum jari-jarinya menyenggol ponselnya yang dingin.
Dengan sebelah mata tertutup, pria yang baru saja berulang tahun ke-24 itu memaksa dirinya untuk terjaga dan mengetuk ikon bertuliskan kata "Off" di layar. Bunyi-bunyian yang sempat membuat kepalanya berdenyut beberapa detik lalu itu pun lenyap dalam sekejap. Ah, ini jauh lebih baik, desahnya.
Jung-kook kemudian mengerjapkan matanya berulang kali untuk menghalau kantuk. Ia tidak boleh terlelap lagi. Ada janji penting yang menantinya. Jika alarmnya berbunyi, maka itu pertanda bahwa sekarang sudah lewat pukul 4 sore. Jung-kook harus bergegas. Ia tidak punya banyak waktu sebelum 'orang itu' tiba di lokasi yang sudah mereka sepakati.
Jung-kook mengerang keras-keras sembari menyeret paksa tubuhnya keluar kamar. Ia sama sekali tidak terlihat bergairah saat menyambar handuk birunya. Namun, begitu ingatan tentang tempat yang akan didatanginya nanti berkelebat di benaknya, rasa malasnya mendadak sirna.
Mata Jung-kook berkilat-kilat penuh semangat. Pundaknya jauh lebih tegap sekarang. Kaki-kakinya melangkah pasti menuju kamar mandi yang terletak di seberang kamar tidurnya. Senandung gembiranya menggema di seluruh ruangan.
Bagaimana bisa Jung-kook tidak girang saat dirinya diajak berlibur keluar kota selama tiga hari? Lebih-lebih lagi, adalah Busan yang akan menjadi tujuannya nanti.
Ya, Busan!
Berkat undangan istimewa tersebut, Jung-kook punya alasan yang kuat untuk cuti bekerja. Bukan cuma itu, Jung-kook juga senang bukan kepalang karena setelah sekian lama ia bisa mengunjungi tempat wisata yang selama ini hanya tertulis dalam bucketlist miliknya. Jung-kook mengingatkan dirinya sendiri untuk berterima kasih secara terpisah kepada sosok yang sudah memungkinkan salah satu impian besarnya itu menjadi kenyataan.
"Yah, walau sebetulnya ini juga termasuk bagian dari pekerjaan," bisik Jung-kook geli saat ia keluar dari kamar mandi dan menyeka tubuh basahnya.
Tetapi setidaknya ia tidak mesti datang ke kantor untuk sementara waktu dan menatap wajah Han Yoo-ri, atasannya yang ambisius namun ringan lidah.
Ia mengecek jam di ponselnya. Pukul 16:47. Pria dengan rambut bercat platinum itu mempercepat pergerakannya. Karena ia akan menginap untuk tiga hari dua malam, maka ia mengemas cukup banyak pakaian. Tidak ketinggalan pula peralatan mandi, dompet, dan charger ponselnya.
"Oh, ya, hampir saja aku lupa membawanya," seru Jung-kook saat ia teringat bahwa ada kemungkinan laki-laki itu akan membawanya ke pantai.
Setahu Jung-kook, Busan dijejali dengan pantai-pantai indah nan memukau mata. Untuk berjaga-jaga, ia membenamkan satu dari sekian banyak kacamata hitam miliknya ke dalam tas.
"Oke, semua sudah siap."
Ya, semua kecuali dirinya. Meski ia tahu waktunya terbatas, ia tetap ingin memastikan bahwa ia berpakaian dengan pantas di depan orang yang sudah bermurah hati menawarkan liburan secara cuma-cuma kepadanya.
Jung-kook sempat termangu lama saat mematut diri di depan cermin. Namun, pada akhirnya pilihannya jatuh pada kaus putih berlengan panjang, celana jeans biru gelap, jaket kulit hitam, dan sneakers monokrom keluaran dua tahun silam. Puas dengan penampilannya saat itu, Jung-kook pun tersenyum.
Sekarang, ia hanya perlu beranjak ke tempat yang lelaki itu tunjukkan di ruang obrolan mereka. Mengunci pintu apartemen sederhananya dengan mantap, Jung-kook berangkat dengan hati berdebar.
YOU ARE READING
Agenda
Fanfiction"Sebenarnya aku tidak ingin tidur denganmu!" aku Kim Seok-jin setelah Jeon Jung-kook menciumnya panjang. Jeon Jung-kook menunggu. Jika itu bukan keinginannya, lalu mengapa Seok-jin membawanya sejauh ini hingga ke Busan, menginap di hotel kelas atas...
