SHE 🌺

62 51 114
                                        

" Hanya menatap laut, hatiku menjadi lebih tenang karena di sana aku bisa melihat senyumanmu meski ini hanya ilusi. " -H's

Seorang pria menatap lukisan yang terpajang di depan matanya. Lukisan yang begitu besar yang hanya bisa dinikmati oleh sepasang mata saja. Perlahan sudut bibirnya terangkat, begitu memori indah kembali berkelana dalam pikirannya.

tok..tok..

" Permisi Tuan " seorang pria paru bayah berdiri di depan pintu dan menundukkan kepalanya memberi hormat untuk atasannya yang kini menatap dirinya.

" Katakan "

" Izin berbicara Tuan, seorang wartawan dari Perusahaan CYAN Entertainment ingin mewawancarai Tuan " Pria itu kembali menatap lukisannya sebelum kakinya melangkah keluar dari ruangan itu.

" Nona~ " Wartawan yang ingin bertemu dengan pria itu berdiri dan menundukkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya begitu dirinya di panggil.

" Halo Tuan, senang bertemu dengan anda, saya wartawan dari CYAN Entertainment. Maaf menganggu waktu anda. "

" Tidak masalah, silahkan duduk " Pria itu mendaratkan pantatnya di kursi dan menyilangkan kakinya.

" Terimakasih Tuan. Saya datang ke sini untuk mewawancarai Tuan tentang kehidupan pribadi Tuan. Apakah saya di izinkan untuk bertanya ? " Wartawan itu sedikit memelankan suaranya takut menyinggung CEO perusahaan terbesar di dunia.

" Silahkan "

" Wah saya baru sadar pemandangan di sini benar-benar sangat bagus, sangat memanjakan mata. " wartawan itu menarik nafasnya, menghirup udara yang begitu segar di balik kaca.

Sudut bibir pria itu perlahan membentuk kurva senyuman yang menghiasi wajah tampannya begitu matanya menatap laut yang berada di balik kaca transparan. " Saya menyukai laut. Dia mengingatkanku dengan matahari yang tersenyum "

" Benarkah ? Lalu seperti apakah mataharinya ? "

" Dia begitu manis. Aku menyukainya. Dia selalu mencari gara-gara denganku, setiap hari~.. ck " Pria itu berdecak dan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja begitu dirinya kembali mengingat hal konyol yang selalu terjadi setiap harinya.

" Mau mendengar kisahnya ? " Wartawan itu menganggukkan kepalanya antusias.

" Kisah itu di mulai pada 10 tahun yang lalu.. "

----

Seorang siswi berlari sekuat tenaga begitu dirinya keluar dari mobil, langkah kakinya ia percepat begitu guru petugas menghitung angka 5, 4, 3, 2, ... sebelum pagar di kunci pada angka 1..

" Yah~ Bu.. belum juga angka 1 !!! " siswi itu mengengam pagar yang terkunci dengan lemas. Ini pertama kalinya ia terlambat.

" No comment ! Semua yang terlambat namanya akan di catat dan datang ke ruang OSIS. " Guru pengawas membuka pagar yang di tutup dan mengekori murid-murid yang terlambat sampai ke ruang OSIS.

----

" Ketika semua murid yang terlambat satu per satu memasuki ruangan OSIS, dia satu-satunya yang menarik perhatianku. "

----

" Nama ? "

" Anantha Glarivika " Antha memalingkan wajahnya dengan kesal sembari mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jari jemarinya.

" Kelas ? "

" XI-MIPA "

----
" Kenapa ? "

R•I•V•E•R - Memory RiverHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora