Feyrin baru saja akan masuk ke dalam mobilnya ketika sebuah tangan menariknya dan menghempaskannya hingga punggungnya membentur badan mobilnya. Segera setelah ia menoleh dan melihat siapa pemilik tangan itu, ia berusaha untuk melepaskannya.
"Kamu ikut aku sekarang." Aldert menarik Feyrin menuju mobilnya dan memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak mau. Lepas!" Feyrin menahan dirinya di depan pintu mobil sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari Aldert.
"Jangan paksa aku untuk kasar ke kamu, Feyrin," kata Aldert. "Sekarang kamu masuk baik-baik, atau aku akan kasar ke kamu."
"Aku tidak mau, Aldert. Bisa tidak kamu jangan paksa aku? Aku tidak ada urusan lagi sama kamu," kata Feyrin.
Aldert menatap Feyrin tajam. "Jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar ke kamu." Setelah mengatakannya, Aldert mendorong paksa Feyrin masuk ke dalam mobil dan mengikatnya dengan seat belt.
"Tolong—mmpphh!" Aldert menutup mulut Feyrin dengan tangannya sambil berkata, "Kalau kamu teriak, aku akan lebih kasar lagi ke kamu. Lebih baik kamu diam, dan ikuti semua yang aku katakan."
Kedua mata Feyrin berkaca-kaca. Ia sudah berusaha keras untuk menjauh dari Aldert, tapi pria itu juga tetap berusaha keras untuk mendekatinya. Bukan tanpa alasan ia memutuskan untuk menjauh dari Aldert, itu karena sikap Aldert yang sangat egois.
Ia memaklumi Aldert yang posesif kepadanya, baginya itu tidak masalah. Namun, melihat Aldert yang membatasi ruang geraknya, ia mulai merasa tidak nyaman. Beberapa hari terakhir sebelum mereka berpisah pun, Aldert semakin hilang kendali terhadap emosinya dan selalu bersikap kasar kepadanya. Ia menjadi takut kepada pria itu.
Mobil berhenti di depan rumah Aldert. Feyrin menatap rumah itu horor, jika sebelumnya ia sangat senang datang ke sini, sekarang tidak lagi. Baginya kalau ia masuk ke dalam rumah itu, tidak ada lagi jalan keluar baginya untuk keluar dari rumah itu.
Aldert melepaskan ikatan seat belt. Setelah ikatan terlepas, Feyrin menatap pria itu, kemudian berkata, "Aldert, tolong jangan seperti ini. Kita sudah putus, aku sudah tidak punya urusan lagi sama kamu."
"Sejak kapan aku setuju putus dari kamu? Feyrin, mau sampai kapan pun, aku tidak akan mau putus dari kamu," kata Aldert.
"Kamu egois."
"Terserah kamu mau bilang apa." Aldert keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya. "Keluar, Feyrin. Atau kamu mau aku tarik keluar dari dalam sana?"
Feyrin menghela napasnya pasrah.
"Aldert!" jerit Feyrin ketika Aldert menggendongnya keluar dari dalam mobil.
"Kamu terlalu lama, Sayang."
Aldert mendudukkan Feyrin di atas meja makan. "Kamu mau makan apa?"
"Daging sapi panggang," jawab Feyrin.
Aldert mengecup pipi Feyrin. "Aku akan segera menyiapkannya."
Feyrin memperhatikan punggung Aldert yang bergerak ke sana kemari mengambil bahan dan peralatan memasak. Pria itu memang jago dalam segala hal, termasuk memasak. Ia sebagai perempuan merasa tersaingi karena rasa masakan Aldert jauh lebih enak daripada masakannya.
"Memikirkan apa?" Aldert melihat sekilas ke arah Feyrin, dan kembali fokus pada masakannya.
"Tidak ada."
Aldert berbalik dan menghampiri gadis itu lalu mengangkatnya untuk turun dari atas meja makan. "Kamu bisa tunggu aku di ruang tamu, aku akan memanggilmu jika sudah selesai." Feyrin mengangguk patuh.
Di ruang tamu, ia kembali memikirkan hubungannya dan Aldert. Mungkin ia akan mencoba untuk beradaptasi lagi dengan sikap Aldert yang selalu berubah-ubah setiap saat, dan memaklumi semua permintaan pria itu. Mau bagaimana pun, ia juga masih mencintai Aldert. Waktu yang ia lewati dengan Aldert pun bukan waktu yang sebentar, dua tahun adalah waktu yang lama baginya. Entah berapa lama Feyrin berpikir, sampai akhirnya ia tertidur di sofa.
Aldert keluar dari dapur dan menghampiri Feyrin yang tertidur di sofa ruang tamu. Ia duduk di samping gadis itu sambil memperhatikan wajah Feyrin yang terlihat damai saat tertidur. Tangannya terangkat menyampirkan helai rambut yang mengganggu pandangannya ke belakang telinga gadis itu.
"Maaf karena aku egois akhir-akhir ini," bisik Aldert.
Aldert bukannya tidak menyadari apa yang ia lakukan selama ini, ia bahkan sadar betul apa yang telah ia lakukan. Membatasi ruang gerak gadis itu, melarangnya berinteraksi dengan pria lain selain dirinya, dan berbuat kasar kepada gadis itu. Ia sadar kalau hal itu menyakiti Feyrin, tapi entah kenapa ia tidak bisa berhenti melakukannya.
"Eugh." Perlahan-lahan Feyrin membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Aldert yang tersenyum hangat kepadanya, dan ia membalasnya. "Maaf, aku ketiduran."
"Tidak masalah," balas Aldert. "Kalau kamu masih mengantuk, tidurlah di kamar."
Feyrin menggelengkan kepalanya. "Apa daging panggangku sudah siap?"
Aldert mengecup kening Feyrin. "Sudah siap, kamu tinggal menyantapnya. Tapi sebelum itu, kamu ke kamar mandi dulu untuk membasuh wajahmu."
Feyrin menganggukkan kepalanya.
Setelah makan malam, Aldert menarik Feyrin ke dalam kamarnya dan memeluk gadis itu. "Aku menginginkanmu, boleh?"
"Apa aku diperbolehkan untuk menolak?"
Aldert terkekeh. "Tidak."
"Kalau begitu lakukan," kata Feyrin.
Aldert menunduk, dan mulai mencium bibir Feyrin. Lidahnya menelusup masuk ke dalam mulut gadis itu, menelusuri setiap bagian di dalam sana menggunakan lidahnya.
Feyrin mengalungkan lengannya ke belakang leher Aldert, ketika pria itu mengangkatnya dan membawanya menuju ranjang. Suara decapan lidah mereka yang saling beradu memenuhi setiap sudut ruangan di kamar itu.
YOU ARE READING
Misunderstanding
Romance21+ (FOLLOW DULU UNTUK MEMBACA, KARENA SEBAGIAN CHAPTER ADA YANG DIPRIVATE) Blurb: Aldert dan Feyrin adalah sepasang kekasih yang hampir dua tahun berpacaran. Tapi karena sebuah kesalahpahaman yang sepele, hubungan di antara mereka berubah menjadi t...
