"Anggara lo pulang bareng temen gue ya. Hari ini gue sibuk kebetulan kalian satu arah." Pinta seorang gadis yang bernama Tasya.
Anggara jordan, Pria itu menyerngit heran. Pasalnya ia sama sekali tidak tau siapa yang akan dibonceng nya. Tasya adalah teman satu kelasnya saat duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dan sekarang menjadi teman satu sekolah menengah atas, namun beda kelas.
"Aku ga kenal." Ucapnya singkat lalu memakai helm fullface miliknya.
Tasya berlari lalu menghadang pria itu. "Please, hari ini aja. Janji deh," Tasya mengatupkan kedua tangannya. Memasang mimik wajah memohon. Dari balik helm itu Anggara memutar bola mata malasnya.
"Buruan."
Dengan langkah terburu. Tasya menarik orang asing itu menghadap ke Anggara yang masih setia menunggu diatas motornya.
"Lo hari ini pulang bareng dia ya." Tasya menyuruh gadis yang dandanannya seperti preman itu. Rambut di cepol asal. Seragam keluar. Satu tangannya memegang tas yang disampirkan di bahu. Serta mulut yang sedari tadi mengunyah permen karet.
"Gue ga mau. Lo udah janji bakalan nganter gue." Ucapnya dengan nada ketus.
"Oemji Liona. Hari ini gue beneran sibuk. Temen gue juga ga keberatan kok nganterin lo. Oke bestie, gue pamit dulu." Tasya langsung ngacir pergi tanpa berdosanya meninggalkan dua orang asing ini.
"Lo nganterin gue?" Tanya Liona tanpa minat menatap pria yang akan mengantar nya pulang.
"Hmm, Buruan naik." Perintah Anggara singkat.
Liona naik ke atas motor tersebut, "Cempaka, Dua lima B,"
Anggara hanya berdehem sebagai jawabannya. Pria itu menaikkan klos motor. Lalu pergi membelah jalanan yang cukup ramai.
*****
Sepanjang jalan mereka hanya diam membisu tak minat mengobrol. Hingga mereka tiba di salah satu perumahan.
Liona turun dari motor. Lalu mengambil sesuatu didalam saku seragamnya, "Kembaliannya ambil aja."
"Aku bukan ojek," Tolak nya halus. Memang bener Anggara hanya sekedar mengantar tanpa meminta upah.
"Gausah sok baik." Liona menaruk kasar selembar uang merah kedalam saku Anggara. Laku nyelonong masuk tanpa mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama." Dengus Anggara melihat punggung Liona yang sudah ditelan oleh dinding. Ia pun memutar motornya lalu pergi.
*****
Dddrrrttt
Anggara sudah sampai di rumahnya. Saat ini pria itu tengah memakai kaus oblong berwarna hitam serta celana seragam yang sama sekali belum diganti.
Tertera nama seorang gadis disana. Dengan malas Anggara mengangkatnya. "Hallo, Anggara!!" Suara cempreng itu menusuk gendang telinganya.
"Bisa ga sih, gausah nge-gas?!"
"Ga bisa! Kebiasan dari lahir. Temen gue udah lo antar kan? Dengan keadaan selamat sehat wal-afiat?"
"Udah, Malah dikasih bayaran." Anggara berkata jujur. Uangnya pun masih tersimpan di seragamnya. Ia berniat mengembalikan nya besok.
"Anjir si Liona. Tampang lo sih mirip kang ojek yang mangkal di pasar hahahaha." Gelak tawa terdengar dari sebrang sana.
"Yaudah lah. Thanks udah ngantar sahabat unyu gue. Besok-besok kalo gue gabisa nganter dia. Lo jadi ojek dadakan ya. Oke see you brother. Muaaah."
Sambungan pun terputus. Anggara bergidik ngeri. Sungguh kesialan apa yang menimpanya mempunyai teman alay seperti Tasya.
Liona. Arrghh, ia harus bertemu gadis sombong itu untuk mengembalikan uang itu.
"Keep Calm, Ngga. Kamu harus yakin besok pertama dan terakhir ketemu sama para nenek sihir."
Anggara menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Rasanya lelah sekali hari ini. Ditambah ia ketemu sama orang aneh. Sungguh ingin rasanya ia pindah sekolah.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar dari pintu berbalut warna coklat. Anggara turun dari kasurnya untuk membuka pintu. Ternyata itu Mama nya Siti.
"Bang, ambilkan dulu cucian di Loundry tempat biasa. Ini kartunya, dan ini uangnya. Pesanan kue lagi banyak. Tolong ya Bang,"
Anggara mengangguk patuh, "Abang berangkat ya Ma." Setelah menyalami punggung lembut itu pria tersebut langsung pergi.
Setibanya di tempat Loundry, Pria itu langsung menuju pintu masuk. Tetapi, tak sengaja retina matanya melihat kearah warung yang berada disebelah. Tampak seorang gadis memakai kaos oblong berwarna putih, rambut di cepol asal.
Duduk di bangku kayu yang masih tampak kokoh, sembari kaki diangkat satu, sedang menikmati pisang goreng dan segelas kopi susu, "Bu, Gorengannya tambahin goceng ya!"
Merasa diperhatikan gadis itu menoleh, "Woi! Ngapain lo ngeliat gue. Timbilan itu mata!" Sewotnya.
"Lah si anjir. Ngintilin gue lo ya!"
Anggara menyorot gadis itu sebal. Sungguh postur tubuh wanita, tapi kelakuan mirip preman pasar. Ia pun melanjutkan langkahnya kedalam menghiraukan gadis yang tak lain Liona.
"Gajelas tuh bocah, udah ngelirik sembarangan pula!" Dumel gadis berkulit putih itu.
Ia pun keluar sambil menenteng bungkusan berisi pakaian. Lalu berjalan kearah Liona. "Nah, uang kamu."
"Gue bukan pengemis." Tolaknya, Anggara membuang napas nya kasar.
"Ini uang kamu. Aku hanya sekedar mengantar pulang atas perintah Tasya."
Liona memutar bola mata nya. Lalu ia mengambil kasar lembaran merah itu dari tangan Anggara, "Udah kan? Cabut lo sepet mata gue liatnya,"
Pria itu hanya tersenyum kecut. "Aku pamit."
Liona tak bergeming sama sekali. Gadis itu menghiraukan pamitan Anggara. Fokusnya hanya pada kelezatan pisang goreng, sesekali ia menyesal nikmat kopi susunya, "Ah, mantap."
"Gadis aneh." Bisik Anggara lalu berjalan pulang.
YOU ARE READING
Tuntas
Teen FictionKita bisa apa? Aku terlalu bahagia mendapatkan mu, hingga aku lupa bahwa akan datang sakit yang mendalam atas kepergian mu. - Anggara Jordan Sama-sama gengsi, dan tiba saatnya kehancuran menguasai diri kita. - Liona Yolanda ***** Diterbangkan oleh...
