bab 1

16.3K 458 25
                                        

MELEPAS DERITA

Bab 1

"Jangan lupa lelenya digoreng garing, Vir, trus bikin sambel tomat yang agak banyak biar anak mantuku yang lain juga bisa ikut makan." Lagi-lagi Ibu Mertua mengomandoku seperti mandor pada anak buahnya.

"Iya, Bu." sesingkat itu jawabanku.

"Loh ini bumbu tempenya kok rasa mecin sih? Sudah dibilangi kalo goreng tempe itu bumbunya bawang putih sama garem digerus halus. Kok ya males banget wong tinggal nggerus sebentar, dikit-dikit pake mecin," omel mertuaku panjang lebar setelah memasukkan jari telunjuk ke dalam mulutnya yang sudah dicelup ke bumbu rendaman tempe.

"Biasanya dibumbu mecin juga habis kok, Bu." Aku yang sedang sibuk memasukkan irisan tempe ke dalam penggorengan berisi minyak panas tak terlalu menanggapi ucapan Ibu Mertua. Jika dulu aku langsung ganti bumbu jika mendengar mertua mengomel, sekarang sudah tidak kulakukan lagi. Toh masakanku yang katanya kurang ini itu nyatanya juga habis dilahap seisi rumah, bahkan aku yang sudah capek-capek masak pun sering tak kebagian.

"Kesel aku ngomongin kamu iku, pengko! Susah memang kalo ngasih tau orang males, capek ngomong ga pernah dipake. Bisa bisa semua orang di rumah ini jadi generasi micin gara-gara kamu, Vir." Kanjeng Mami alias Ibu Mertuaku mengeloyor keluar dapur sambil bersungut-sungut.

Kulirik sekilas mertuaku yang sedang mengayun kaki ke ruang tengah itu. Ada sedikit sesak yang menyelusup di hati. Bagaimana bisa dia bilang aku malas hanya karena mengganti bumbu rendaman tempe dengan serbuk mecin andalan. Sedari jam setengah lima pagi aku sudah berkutat dengan sapu korek di halaman belakang yang luasnya bisa buat lapangan voli kampung, belum bersih-bersih di dalam rumah yang tak kalah besar, lalu masak untuk satu rumah dengan tujuh kepala.

Sudah tiga tahun aku menjabat sebagai menantu di rumah ini, aku menikah dengan Mas Wisnu anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Selama itu pula kubaktikan tenagaku untuk menjadikan rumah dan penghuni di dalamnya selalu terawat. Ibu Mertuaku sering bilang seharusnya aku sujud syukur seribu kali karena dipersunting oleh Mas Wisnu yang sudah diangkat sebagai PNS, sedang aku hanya SPG brand kosmetik di toko kecil yang tidak memiliki masa depan secerah masa depan Mas Wisnu. Belum tahu saja Kanjeng Mami kalo SPG terima bonus bisa melebihi gaji Mas Wisnu yang PNS golongan 2.

Benda bulat di dinding menunjuk pukul tujuh kurang lima menit, dengan cekatan kupindahkan lele dari penggorengan ke atas piring. Satu kilogram lele, dua papan tempe dan secobek sambal tomat sudah terhidang manis di atas meja makan, tak lupa teh hangat menemani santap pagi para juragan tersayang.

"Udah selesai semua, Mbak Vir? Baru aja aku mau bantu." Rina, istri dari Bima anak kedua dari mertuaku melongok ke dapur. Perempuan berprofesi sebagai guru honor di SD kabupaten yang baru lima bulan menjadi mantu di rumah mertuaku ini tengah berbasa-basi denganku.

"Halah gayamu mau bantu segala, Rin. Udah mateng semua tuh, tinggal makan!" kutunjuk arah meja makan dengan mendongakkan dagu. Rina mencebik, lalu seketika tersenyum saat mendapatiku melihatnya.

Alasan saja bilang mau bantu, palingan juga mau siap-siap mengisi perut, biasanya juga begitu, sudah hafal di luar kepala. Mantu kesayangan Kanjeng Mami yang bebas mau bangun jam berapa saja dan tidak pernah disuruh-suruh sepertiku di rumah ini karena berasal dari keluarga sepadan, katanya.

"Ummm, yaudah kalo gitu aku mau makan dulu ya, Mbak Vira. Soalnya bentar lagi mau berangkat ngajar, takut telat. Hehe...."

Kuputar bola mata malas, sambil mengeloyor pergi dari hadapannya.

Gegas kuraih handuk bersiap untuk mandi, guyuran air yang mengenai kulit seketika menghilangkan lelah karena sedari pagi buta berkutat dengan pekerjaan rumah.

Menatap pantulan wajahku di cermin, seragam kerja khas brand kosmetik 'Mawadah' terlihat pas membalut tubuhku.

Kulangkahkan kaki menuju meja makan hendak mengisi perut yang kosong.

Lagi-lagi pemandangan yang menyesakkan dada terlihat di depanku, hanya tersisa satu potong tempe dan sedikit sambal tomat di atas meja, padahal tadi saat masak sengaja aku lebihkan agar aku tak kehabisan seperti sebelumnya. Juga meja makan yang tadinya tertata sekarang terlihat berantakan dengan beberapa piring kotor bekas makan dan gelas bekas minum.

Rasa lapar pun hilang seketika, berganti dengan rasa dongkol yang teramat sangat, tenggorokan rasanya seperti tercekat dan mata menjadi panas karena mulai mengembun. Sudah capek capek memasak sedari pagi, giliran mau makan ternyata hanya habis semua tinggal sepotong tempe saja. Aku tahan sekuat tenaga agar bulir bening yang menggenang itu tidak lolos.

Kuputar badan kembali masuk ke dalam kamar, menghempaskan bobot tubuh di pinggiran ranjang. Berkali-kali kuhela nafas panjang untuk mengurangi sesak di dada.

"Kenapa belum siap-siap berangkat, Vir?" aku menoleh ke asal suara. Terlihat Mas Wisnu sedang menyemprot parfum ke baju dinas yang melekat di tubuhnya.

"Mas sudah makan?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

"Sudah donk, sayang. Kamu sudah makan juga kan tadi? Ibu bilang kamu sudah makan sebelum kami, makanmu juga banyak banget katanya." Mas Wisnu terkekeh sedang tangannya mengelus kepalaku yang tertutup hijab. Kugelengkan kepalaku pelan sambil netraku menatap dalam netranya.

Tes

Tes

Tes

Satu, dua, tiga, dan banyak lagi bulir bening berhasil lolos dari mataku, air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya menetes juga satu persatu. Kuhirup dalam-dalam oksigen lalu kuhembuskan dengan kasar.

"Kenapa, Vir?" Mas Wisnu menatap heran padaku yang tengah menangis.

"Aku belum makan, Mas, padahal aku yang sudah susah payah masak semuanya dari tadi. Tapi yang tersisa hanya sepotong tempe dan sambal yang cuma seuprit," jawabku terbata di sela isak tangisku.

"Kamu nggak usah ngomong aneh-aneh, jelas Ibu tadi bilang kamu sudah makan duluan. Jangan terus-terusan menyudutkan Ibuku. Tidak baik, Vira, ibuku juga ibumu." Ucapan Mas Wisnu bukan meredakan tangisku tapi malah membuat air mataku makin deras.

"Kamu itu kenapa sih, Vir? Timbang perkara makan aja selalu dibuat panjang sampe nangis gini. Ya kalo memang belum makan kan kamu bisa beli di luar, atau kamu bisa makan yang ada di meja aja dulu, jangan dikit-dikit nangis. Lama-lama capek aku liat kamu yang selalu nangis karena perkara sepele. Ya sudah, Mas mau berangkat kerja, assalamualaikum," sambungnya lagi seraya melangkah keluar kamar meninggalkanku yang masih terduduk di atas kasur.

Terdengar deru motor Mas Wisnu menjauh dari rumah. Selalu begitu kalo marah, judes dan tak acuh denganku, apalagi kalo menyangkut ibunya.

"Kamu nggak usah ngadu-ngadu ke anakku, percuma. Anakku ga akan percaya kalo kamu jelek-jelekin aku. Dasar mantu gak guna! Makan yang ada di meja itu apa susahnya, sih. Dasar aleman! Udah sana ga usah drama, cepet beresin meja makan, cuci piring dan gelasnya." Suara Ibu Mertua tiba-tiba mengagetkanku. Terlihat setengah badannya melongok ke dalam kamar sambil mulutnya mencab-menceb khas mertua di film ikan terbang. Lalu melengos pergi setelah menyuruhku.

Segera kuhapus air mataku, melangkah ke depan cermin untuk menambahkan riasan agar tak terlihat sayu. Kuraih tas kerjaku setelah memastikan riasan dan penampilanku rapi.

"Vira berangkat, Bu. Assalamualaikum," pamitku pada Ibu yang sedang duduk manis di depan TV. Kuambil kunci motor lalu melajukannya menjauh dari rumah indah sang mertua.

"Vir, cuci piring dulu!"

"Vira berhenti, Vira!"

" Hei Vira berhenti! Dasar mantu kurang ajar! Tidak berguna!"

Bersambung....

MELEPAS DERITA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang