Chapter 1

34 4 2
                                        

Udara dingin menerpa wajah seorang pemuda yang baru saja keluar dari dalam sebuah minimarket. Langit pun sebentar lagi berganti warna dari orange yang hangat menjadi biru gelap yang dingin. Meskipun dinginnya udara berhasil menembus jaket yang ia kenakan, banyaknya orang yang lalu lalang di sekitarnya memberikan sedikit perasaan lega pada dirinya.

Hari ini tetap ramai saja, ya. Pikir pemuda itu.

Tanpa berdiam diri lebih lama lagi, ia lalu pergi dari tempat itu.

Musim gugur sudah datang, suhu udara di sekitar juga mulai menurun. Daun-daun pada pepohonan mulai berubah warna menjadi kuning maupun merah. Hari berlalu dengan cepat bagi pemuda itu. Ia berjalan dengan lambat sembari menghindari kontak fisik dengan orang-orang yang hampir menabraknya.

Ia berjalan tanpa tujuan. Yang ia inginkan di benaknya pada saat itu adalah untuk pergi menjauh dari keramaian. Meskipun ia senang berada di dalam kerumunan orang-orang yang sibuk beraktifitas, pada saat yang bersamaan ia merasa jenuh akan hal itu.

Rasa lelah terus menghantuinya. Seolah ada suara-suara yang semakin membebani pikirannya, hingga tiba-tiba ia mencium aroma kopi yang harum. Hal itu membuatnya menghentikan langkahnya.

Ia mendapati sebuah cafē yang pada saat itu tidak dipenuhi orang-orang. Ini pertama kalinya ia melihat cafē tersebut. Mungkin ia sebelumnya hanya tidak sadar akan keberadaan tempat itu karena ia tidak terlalu memperhatikan sekitarnya.

Selama ini ia tidak pernah tertarik untuk pergi ke tempat-tempat seperti cafē, bar, ataupun klub malam. Ketika orang-orang seumurnya pergi ke klub malam untuk menghilangkan rasa jenuh akan kehidupan sehari-hari mereka, ia lebih memilih untuk menelusuri jalan-jalan yang ia belum pernah lewati.

Namun pada saat itu entah mengapa di benaknya seperti ada suara yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam cafē itu. Merasa sedikit ragu, pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam.

"Selamat datang!"

Pemuda itu kaget dengan sambutan mendadak dari seseorang yang ia pikir adalah salah satu pegawai cafē. Ia hanya bisa membalas sambutan itu dengan anggukan dan senyuman yang ia paksa.

Matanya lalu menelusuri setiap interior cafē, ternyata benar tidak ada banyak orang yang datang ke tempat itu. Ia merasa sedikit senang tentang hal itu.

"Anda bisa duduk di tempat manapun yang tersedia" Jelas si pegawai cafē memecahkan lamunan pemuda itu.

"Ah, ya, terima kasih.." balasnya.

Si pemuda lalu memilih untuk duduk di depan konter yang tersedia, tepat di depan si pegawai yang menyapanya. Ia juga tidak mengerti kenapa ia memilih untuk duduk di tempat itu. Dibenaknya ia berpikir kalau sekali-kali tidak mengapa.

"Anda mau pesan apa?" tanya si pegawai.

Pemuda itu membaca papan menu yang tergantung di atasnya. Ada lumayan banyak pilihan menu yang tertulis. Dari minuman seperti kopi hingga makanan seperti spaghetti tersedia disana.

"Aku pesan teh hangat saja", jawab si pemuda, "Dalam suhu dingin ini aku ingin sesuatu yang dapat menghangatkan tubuhku"

"Kalau begitu, bagaimana dengan teh herbal? teh herbal sangat cocok diminum untuk membantu meringankan pikiran dari kelelahan dan juga menghangatkan tubuh" Jelas si pegawai.

"Ah, ya.. boleh"

"Baiklah, tolong tunggu sebentar" balas si pegawai dengan senyuman hangat.

Pegawai tersebut lalu mulai merebus air menggunakan sebuah teko. Si pemuda yang awalnya hanya memandangi suasana di luar cafē melalui jendela lalu mengalihkan pandangannya ke pegawai tersebut.

Ia menyadari beberapa hal tentang si pegawai. Pegawai tersebut terlihat seumuran dengannya, atau mungkin lebih tua. Wajahnya lumayan tampan dan tidak terlalu tinggi, setidaknya pegawai itu sedikit lebih tinggi darinya. Tanpa ia sadari ia telah larut dalam lamunan dan memandangi si pegawai cafē yang sedang bekerja.

Hingga pada saat si pegawai hendak merebus daun teh, tanpa disengaja pandangan mereka bertemu. Si pegawai tersenyum kepada si pemuda yang lalu buru-buru mengalihkan pandangannya. Hal ini sungguh memalukan baginya.

Beberapa menit kemudian teh pesanan pemuda itu disajikan.

"Silahkan dinikmati"

Uap hangat mengepul di atas cangkir teh herbal yang ia pesan. Ia dapat mencium aroma menenangkan dari teh tersebut. Si pemuda lalu meminum teh herbal yang dipesannya secara perlahan.

"Ah.. ini enak.." Ucapnya tanpa ia sadari.

"Terima kasih, saya senang anda menikmatinya" Balas si pegawai dengan senyuman ramahnya kepada si pemuda.

Si pemuda merasa sedikit malu karena ucapannya terdengar olehnya, namun ia tak bisa berbohong. Teh herbal tersebut memang berhasil menenangkan benaknya dari rasa kelelahan. Ia merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.

"Tidak banyak yang datang kesini ya"

"Yah.. ini sedikit memalukan untuk diakui tapi memang benar apa yang anda bilang", balas si pegawai sembari tertawa pahit.

"Namun, kalau saya boleh jujur, itu bukanlah hal yang penting untuk cafē ini," Lanjut si pegawai, "Sebenarnya, cafē ini adalah milik orang tua saya, saya disini hanya membantu, hari ini orang tua saya sedang pergi jadi hanya ada saya sendiri disini yang melayani"

"Ah.. jadi begitu" Si pemuda merasa kagum dengan si pegawai cafē. Ia merasa dirinya tak akan bisa melakukan pekerjaan seperti menyambut tamu, menerima pesanan, ataupun menyiapkan pesanan dengan baik.

"Oh iya, bisa tidak untuk tidak terlalu formal padaku, itu membuatku merasa tidak enak" Jelas si pemuda kepada si pegawai cafē.

Mendengar itu, si pegawai hanya terkekeh dan menjawab "Baiklah, jika itu yang kamu mau"

Si pegawai lalu sadar akan sesuatu dan bertanya kepada si pemuda.

"Ah, aku belum memperkenalkan diri, namaku Chris," Lanjutnya, "Bagaimana denganmu?"

Si pemuda sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, lalu dengan ragu ia menjawab ".. Elliot, namaku Elliot"

"Baiklah, senang bertemu denganmu, Elliot!" Chris lalu tersenyum hangat kepada Elliot.

Elliot hanya bisa terdiam dan merasa sesuatu di benaknya menghilang ketika melihat wajah Chris secara lebih jelas. Senyuman itu secara tidak langsung membuatnya merasa tenang.

Sadar akan hal itu, Elliot lalu mengalihkan pandangannya karena malu dan hanya menjawab dengan 'Ya' kepada perkataan Chris.

"..Omong-omong, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang lelah?" Tanya Elliot penasaran.

"Yah.. aku hanya menebak dari ekspresimu dan menurutku kamu terlihat sedang lelah, ah, maaf jika itu menyinggung" Jawab Chris sembari tertawa malu.

Mendengar alasan itu Elliot hanya bisa tertawa kecil. Ini pertama kalinya seseorang memedulikan hal sepele seperti itu pada dirinya, namun ia senang akan hal itu. Dalam diri Elliot, ia merasa bahwa dirinya telah menemukan tempat untuk mengistirahatkan diri. Ia telah menemukan tempat untuk dirinya 'sembuh'.

.

Haloo, makasi telah menyempatkan diri buat baca cerita ku ^^

Maaf karena ini cerita pertama yg aku pernah tulis jadi novel, makanya masih jelek :'

Makasi banyak untuk bestie ku Arimiya01 buat bantuin revisi draft ceritanya pas masa pembuatan hehe

Mungkin akan ada revisi lagi pada chapter ini nantinya

Untuk chapter selanjutnya akan memerlukan waktu yg agak lama karena adanya kendala di kehidupan pribadi author, mohon bersabar ^^;

See you on the next chapter~ ☆★

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 14, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Healing SpotWhere stories live. Discover now