perempuan berambut sebahu itu sedang berjalan menuju rumahnya, wajah yang menunduk dengan raut wajah takut dan sedih, dia melewati lorong rumah nya itu dengan sangat lambat berharap waktu berjalan dengan pelan, "gue harus gimana nanti kalau mama tau pasti marah" ia berbicara sendiri beriringan dengan langkahnya.
Ditatapnya rumah yang cukup sederhana itu, rumah yang penuh keharmonisan dan kasih sayang tapi itu berlaku untuk hidupnya dulu, hidupnya sekarang sangat berbanding terbalik dengan hidupnya yang dulu, semenjak kedua orang tuanya resmi bercerai.
"Aku tuh capek mas hidup sama kamu yang main gila diluar sana" ucap Widia dengan napas yang memburu, dia sudah muak dengan tingkah suaminya itu yang sering main perempuan diluar sana.
"Wid dengerin aku dulu, aku khilaf maaf" bela Arga pada dirinya sendiri, "khilaf kamu bilang mas? kamu itu laki-laki gila tau gak, setiap kamu seperti ini selalu aja bilang khilaf".
"Aku minta maaf Wid" sesal Arga, "gak mas, aku mau kita pisah mas, aku capek, pokoknya aku akan urus surat perceraian kita" tegas Widia dengan napas yang memburu.
kedua manusia itu tidak mengetahui adanya gadis kecil yang duduk di tangga menyaksikan pertengkaran itu dengan mata tertutup menahan tangisnya dan kedua tangannya menutupi telinga.
gadis itu ialah SARAH MYESHA KIRANA anak satu-satunya dari keluarga yang sedang bertengkar itu.
Ia menghela napas panjang mengingat kejadian yang merubah hidupnya itu, dengan berat hati dia melangkah memasuki rumah, "mama Ara pulang" ucapnya dengan ceria, terlihat sosok wanita keluar dari dapur, itu Widia ibu Sarah, "anak mama udah pulang gimana hasil rapot nya?" tanya nya dengan penuh harap.
Seketika raut wajah Sarah berubah menjadi khawatir, dia memang sudah besar walaupun sudah besar mama nya masih menanyakan nilainya setiap pembagian rapot, hal itulah yang menjadi ke khawatiran bagi Sarah.
"Sarah dapet peringkat 3 ma" ucap nya menunduk dengan suara yang kecil nyaris tidak terdengar, beda dengan Widia dia mendengarnya wajahnya langsung memerah karena marah, dan satu tamparan mendarat di pipi Sarah.
"sshhh" Sarah meringis menahan tamparan mama nya itu, dia selalu mendapatkan tamparan dan makian jika peringkatnya turun "maafin Ara ma" terdengar suara yang bergetar.
"kamu itu bodoh sudah berapa kali mama bilang pertahankan nilai kamu, kamu mau mama tinggalin sendirian atau gak kamu pergi aja ikut papa kamu yang brengsek itu"
Sarah menggeleng cepat "gak ma, Ara gak mau jangan tinggalin Ara ma" air matanya lolos terjun mendengar namanya yang ingin meninggalkannya.
iya cuma mama nya yang ia punya sekarang, jika mama nya pergi ia tidak tau hidupnya akan seperti apa, "maaf ma, Ara janji bakal belajar yang rajin lagi" ucap nya dengan tersedu-sedu.
seperti inilah hidup nya sekarang dituntut mendapatkan nilai yang diharapkan mama nya, dituntut dewasa dengan keadaan dan bertahan hidup untuk dirinya sendiri.
disinilah ia sekarang didalam kamar sedang memaki dirinya sendiri, "lo bodoh banget sih Sarah, bego, tolol bisa-bisanya bikin nilai lo turun gini" ia menjambak rambutnya sendiri, ntah sudah berapa lama ia menangis dan memaki dirinya sendiri.
ia terbangun sepertinya ia tertidur setelah berlama-lama menangis tadi, ia duduk di atas kasur yang selama ini menjadi saksi hidupnya sekarang bagaimana ia menangis setiap malamnya, "kapan gue hidup kayak dulu lagi? gue juga mau kayak anak-anak lain yang hidupnya harmonis tanpa ada kekerasan, gue cape" ucapnya dan kembali berbaring menatap langit-langit kamarnya.
yah seperti inilah kegiatan seorang Sarah myesah Kirana yang meratapi nasibnya sekarang ini.
to be continued...
YOU ARE READING
Angan
Teen Fiction"kapan gue hidup bahagia lagi kayak dulu?" ucap gadis yang sedang duduk di taman. JANGAN LUPA VOTE AND COMMENT
