01

15 7 4
                                        

Ratu Typo

Call me Nana

1. Pertemuan

"Kamu yakin mau ke Bandung?"mama melirik ke arah Aruna yang duduk di sampingnya, kemudian kembali menatap jalan raya di depan.
Runa mengangguk pelan. "Kesempatan perdana bisa naik bus sendiri."
"Cari pengalaman atau mau ketemu Dia, Hm?" Mama memberi komentar di sela-sela tawanya,
"Masih belum lupain dia,ya? Atau kamu ke Bandung buat bertemu dia?"
"Itu masalalu,ma. Mama sok tau banget, ih." Runa melipatkan wajahnya hingga terlihat cemberut. "Justru aku ke Bandung supaya bisa melupakan dia!"

"Kalau mau melupakan, lebih baik, ya, Jagan ke Bandung sayang. Mending ke tempat yang nggak akan mengingatkan kamu dengan mantan pacar kamu itu, loh."

"Tuh kan, Mama mulai lagi, deh!"
"Kata kamu pacarmu pakai kacamata dan kalau tersenyum matanya langsung nggak terlihat, ya?"
Runa mengangguk malu. "Iya, bener, ma. Mama sih, belum pernah liat orangnya."

"Ya, gimana mau liat? Belum sempat mama ketemu dia, kamu malah udah putus duluan sama dia."
"Namanya juga pacaran, Ma. Pacaran jarak dekat aja mendua hati, apa lagi pacaran jarak jauh. Susah kalau mau bertahan."
Mama tak mampu menahan tawa, pipinya tertarik hingga membentuk lengkungan lebar di bibirnya. "Oke kembali ke masalah awal. Kamu harus nyari tiket dulu. Di sekitar sini banyak agen, nih, kita sekalian beli buat kamu aja, ya?"

"Yay! Kita coba di dekat sana aja, ma." Ujar runa menunjuk ke salah satu sudut jalan.
Mama langsung membelokkan setir. Mereka berdua menuruni mobil setelah kendaraan roda empat itu merapatkan tubuhnya pada trotoar.

Mereka berjalan santai menuju agen bus. Kios yang tak terlalu besar itu terlihat tak ramai. Di bagian depannya, yang merupakan teras rumah yang tertutup, terpampang beberapa plang nama-nama bus. Di dalamnya ada beberapa bangku dan satu meja yang dijaga oleh seorang perempuan paruh baya berkacamata.

"Bandung untuk tanggal dua puluh tujuh Januari ada, Bu.?" Mama mulai percakapan dengan ramah. Beliau duduk berhadapan dengan perempuan itu. Kursi yang tersedia di depan meja agen hanya ada satu. "Kalau bisa Eksekutif, ya," tambah mama.

Perempuan itu mengangguk lembut. "Sebentar, ya, Bu. Saya akan menanyakan tiket bus yang masih tersedia. Berhubung hari ini hari Minggu, banyak orang-orang yang pulang kampung."

Di tempat runa

Hujan mulai datang dengan skala sedang. Runa menggeser posisi duduknya agar tidak terkena cipratan air.
Beberapa menit kemudian, seorang pemuda datang tergesa-gesa memasuki tempat agen bus. Pemuda itu melipat payungnya dan duduk di samping runa. Tanpa ekspresi bersalah, dia menyalakan rokoknya dan menghisap batang rokok dalam-dalam.
Asapnya di hembuskan secara santai, tampaknya dia perlu menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karna hujan. Runa merasa terganggu dengan bau tak sedap dan mulai melirik orang yang ada di sampingnya itu.

Deg

Bibir Runa terkunci rapat. Laki-laki berkacamata yang sedang merokok itu terlihat memesona. Wajahnya oriental, hidung mancung, bibir tipis, serta rahang yang tegas. Tuhan pasti telah mendorong seorang malaikat nya masuk ke dalam dunia manusia. Laki-laki itu Mirip dengan seseorang yang berusaha Runa lupakan. Laki-laki yang pernah menjalin hubungan bersama Runa pada masa lalu.

nampaknya laki-laki itu tak sadar sama sekali ketika Runa memperhatikan wajahnya yang manis dan rupawan. Tapi tak apa-apa, orang tampan memang tak pernah salah. Pada akhirnya Runa tak jadi menegurnya. Runa menutup mulutnya dan sibuk mengatur debaran jantung yang berdegup kencang, seperti siap meledakan kapan saja. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, cepat sekali hingga runa tak mampu memprediksi apa yang terjadi pada tubuhnya.

Tanpa mempedulikan Runa, laki-laki bermata sipit itu mematikan batang rokok yang telah memendek. Sosok itu hanya terdiam sambil menatap jalanan yang basah, tampaknya ia menikmati deru kendaraan bermotor.

"Buk---" ucap sang petugas agen bus sambil menatap mama.
"Ibu dapat bangku nomor dua puluh tujuh. Keberangkatan bus pukul dua siang."

Mama mengucapkan terima dan segera membayar tiket. Dia berdiri dari tempat duduknya dan gantian pemuda manis itu yang menduduki bangku yang sejak tadi diduduki oleh mama.

Mama menghampiri Aruna, mengulurkan tangannya dan memberikan tiket itu kepada Runa. Runa yang sedang mematung membiarkan jemari Mama terulur tanpa disambut.

"Ehem!" Mama sengaja terbatuk, berusaha menyadarkan Runa.

Runa masih mematung dan terdiam.
"Runa! Runa!" Ucap sang mama dengan suara yang sedikit keras.
"Eh,iya ,ma?" Runa tersentak.
"Kok, bengong?" Mama turut memasang wajah bingung. "Ini tiketnya, kamu dapat bangku nomor dua puluh tujuh. Busnya berangkat pukul dua siang."

Runa segera mengambil tiket itu, lalu menatap mama.
Sebenarnya, dia tak ingin beranjak dari tempat itu, tapi mama keburu menarik tangan putrinya.

Runa mengendus kesal...


Thanks yang udah mampir ke cerita pertama Nana

Vote + Comment + Follow

Masih pemula sy bestie :)

Btw sorry banget ya, ceritanya beda dari yang kemarin
Cerita Nana yang kemarin ke delete jadi di ulang lagi deh :(

Thank you yang udah nunggu

CINTA DALAM DIAMStories to obsess over. Discover now