Dangerous Obsession/1

21 0 0
                                        


"Lo mau lakuin apa?"

"Lo masih gak nerima gue kan?" tanya balik Gio.

"Yah. Dan gak akan pernah nerima lo."

Gio terkekeh. Mendengar pengakuan Cana, rasanya dadanya seperti tertusuk oleh ribuan jarum. Sakit namun tak berdarah. "Oke." Gio membalikkan badannya. Menatap lapangan di bawah.

"Menurut lo. Kalau gue terjun ke bawah gimana ya?"

"Maksud lo?" tanya Cana tak mengerti atas ucapan Gio.

"Gue mau terjun ke bawah."

"Lo gila ya!" ujar Cana tak habis pikir.

"Daripada gue terus-terusan gangguin lo. Dan lo juga gak nerima-nerima gue. Mending gue langsung aja terjun ke bawah. Biar hidup gue kelar. Pikiran gue tentang lo juga kelar," ujar Gio.

Cana menggeleng. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pria dihadapannya ini. "Lo jangan bodoh deh karna gue nolak lo terus. Lo jadi mau bunuh diri. Please deh, masih banyak cewek di luar sana, bukan cuma gue aja. Lo bisa cari cewek yang bisa nerima lo."

"Tapi di hati gue, cuma lo Cana. Gue gak bisa cari cewek lain. Nama lo udah terkunci di hati gue. Gue cinta banget sama lo, Na," ujar Gio dengan wajah seriusnya.

"Gak. Gue gak percaya kalau lo cinta sama gue!" Cana masih belum percaya ucapan cinta cowok itu padanya. Karena menurutnya semua cowok itu sama. Dikejar-kejar cuma rasa penasaran saja. Tetapi pas sudah bosan dan rasa penasarannya sudah terjawabkan, mereka akan meninggalkan wanitanya begitu saja. Itu yang Cana dengar dari bibir teman sekelasnya. Walaupun ia belum pernah mengalami pacaran.

"Lo perlu bukti? Oke gue bakal buktikan. Lo mau bukti apa? Gue beneran terjun kesitu?" tanya Gio bertubi-tubi.

"Gak! Gue mau lo menjauh dari gue. Cukup bukti itu saja."

"Sorry. Tapi gue gak bisa. Gue gak bisa jauh dari lo. Kalaupun gue menjauh. Gue udah gak ada lagi di dunia ini."

"Lo ...." Cana tidak tahu lagi mau berkata apa.

"Lo beneran mau ngelakuin itu?"

Gio mengangguk. "Iya."

"Jangan!"

"Sorry Cana. Tapi percuma gue hidup. Kalau orang yang selama ini sebagai penyemangat hidup gue. Gak cinta balik gue. Daripada gue sakit hati. Lebih baik gue mati aja "

"Lo maunya apa sih!? Jangan ngelakuin aneh-aneh deh. Lo udah bikin kepala gue pusing tau gak!" Cana memegang memijat kepalanya yang berdenyut.

"Gue maunya lo jadi pacar gue."

Cana menghela nafasnya. Dengan berbagai cara yang dilakukan cowok itu, tidak pernah membuat Cana menerimannya. Sekarang pria itu akan melakukan hal yang mengerikan seperti ini. Cih. Cowok itu sungguh sangat cerdik. Dia tahu, Cana tidak akan membiarkan cowok itu mati sia-sia. Dan terpaksa ia harus menerimanya.

"Oke. Gue mau jadi pacar lo. Tapi lo harus berhenti ngelakuin hal bodoh itu."

"Lo beneran mau jadi pacar gue?" tanya Gio sekali lagi.

"Gue gak suka mengulangi perkataan gue," ujar Cana dengan muka datarnya.

Bibir Gio melengkung membentuk senyuman. "Akhirnya lo nerima gue juga," ujar Gio. Tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Gio mendekati Cana. Merangkul bahu cewek itu.

"Gak usah pegang-pegang gue!" Cana menepis tangan Gio.

"Mulai sekarang lo resmi jadi pacar gue."

Dangerous ObsessionWhere stories live. Discover now