'Siapa dia? Kenapa dia cantik sekali? Dan apa-apaan! Kenapa hatiku berdegup kencang?!'.
Childe. Ya, itu namanya. Pangeran yang terkenal sangat dingin dan arogan. Hidupnya yang bergelimang harta tak membuatnya merasa bahagia. Dibalik ekspresinya yan...
Note : Disini gw buat Aether gk pisah sama Lumine dan Paimon gw jadiin adek tambahan. Disini Lumine manggil Aether itu onii-chan klo Paimon manggilnya Aether.
So, happy reading ges 🗿✨
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seorang laki-laki terlihat sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Dia tak sendirian terlihat disampingnya ada sosok yang melayang. Dia terlihat letih sehabis mengerjakan sebuah misi untuk mengalahkan para hilichurl.
"Huft...hari ini rasanya sangat melelahkan.".
"Kau sudah bekerja keras hari ini Aether!".
'Sialan, bocah ini! Rasanya ingin kujadikan santapan!'.
"Huh? Memangnya kapan aku jadi pemalas? Kurasa itu kau bukan? Hanya karena badanmu seperti anak kecil bukan berarti kau tak bisa membantuku.".
"Hehe, tapi kan aku sudah membantumu.".
".....".
"Maksudmu membantuku menghabiskan koin untuk membeli makanan yang kau inginkan?".
Aku tak habis pikir bagaimana bisa aku tahan dengannya. Menurutku dia itu tak berguna! Yang dia pikirkan hanya makanan, makanan, dan makanan. Makannya banyak tapi tetap saja tubuhnya kecil, sia-sia sudah koin hasil kerja kerasku. Walaupun begitu setidaknya aku tak akan sendirian saat berpergian.
"Itu...kau kan tau sendiri aku suka makan lagipula aku belum bisa mencari koin sendiri. Lain kali kalau aku punya koin kau akan kutraktir. Aku janji.". Dia merasa bersalah padaku.
'Damn! Padahal aku hanya ingin meledeknya tapi kenapa malah jadi begini?! Kau kakak yang buruk Aether!'
"Pfftt...aku kan hanya bercanda kenapa kau serius sekali? Toh sudah seharusnya aku merawat adik-adikku dengan baik makanya kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku oke?". Aku mengacungkan jempol padanya, bisa kulihat wajah muramnya sirna digantikan wajah gembira.
"Hehe...kau memang yang terbaik Aether!". Aku pun mengusap kepalanya.
"Bagaimana kalau kita kembali ke Mondstadt? Lumine pasti sudah menunggu kita.".