Secuil Pesan Untuk Ayah

90 6 2
                                        

Malam ini,
adalah malam tepat 7 hari mengenang kepergianmu.
Dimana aku harus mengikhlaskan sebuah keterpaksaan yang tak pernah aku minta; Harus hidup tanpamu.

Ketahuilah, bahwa aku tak pernah ingin kau pergi.
Tetapi, mungkin inilah maksudnya.
Kau tak mau aku harus terus bergelut dengan rasa tidak bersyukur, dan rasa tidak pernah merelakan.
Kepergianmu adalah sebuah fase untuk mengisyaratkan jawaban bahwa aku, harus menjadi kuat dan tangguh ada di bumi.

Sialnya, masih banyak hal yang belum mampu aku kasih untukmu.
Aku ingin kau sadar akan setiap mimpiku, dan aku ingin kau bangga dengan sesuatu yang sudah aku idam-idamkan sejak dulu, yaitu menjadi berhasil dimatamu.

Aku jadi ingat beberapa waktu. Pada saat yang tepat, kita dulu sering saling cerita. Tentang buku-buku yang harus aku baca menurutmu, tentang musik-musik masa lalu yang aku bahas denganmu. Di ragamu, aku jadi tau arti berjuang dan tanggung jawab.
Pagi-pagi lagi kau sudah bangun. Begitu semangat untuk melaksanakan tugasmu, sebagai ayah dalam sebuah keluarga.

Di temani sarapan buatan bunda, kita menyantapnya bersama-sama. Meja makan, depan tv, adalah saksi dari aksi kita. Setelahnya, kau antar aku ke sekolah. Diatas motor bebek tua yang cat-nya saja sudah pudar dan tak semestinya. Dengan kecepatan seadanya, kita melaju dalam perawakan kota. Sesampainya disana, kau menurunkanku tepat di depan pintu gerbang. aku menyalamimu. Memegang sebuah jemari yang tak lagi seperti dulu, sudah sedikit legam dan keriput. Senyumku menyala seiring dengan berjalannya laju motormu; Penuh rasa.

"Ayahku sudah begitu berumur" batinku.

Akankah kau tau Ayah?
Bahwa Aku sangat rindu dengan peristiwa-peristiwa itu, sungguh.
Aku rindu perihal apapun caramu. Tawamu, candamu, gaya ceritamu, semuanya.
Sesuatu yang tak bisa untuk kembali Aku ulang, dan harus merelakannya dengan bentuk kenangan.

Kita adalah dua orang keras kepala penuh rasa malu.
Padahal kita sama-sama tau kalau kita punya cinta. Tetapi, hanya tentang memeluk saja kita penuh gengsi.
Ada sesuatu yang ingin ku katakan meskipun mungkin sia-sia karena ragamu tak lagi disini.

Aku menyayangimu Yah.
Aku menyayangimu, Sungguh.
Kau harus tau itu.
Mungkin Kau bukan yang terbaik. Terlepas bagaimanapun kau tetap yang terbaik untukku, Aku bisa bilang dengan yakin, kalau hidupku tidak akan lebih baik kalau Ayahku bukan Ayah.
Aku bukan Aku, kalau Ayahku bukan kau Yah.

Pada akhirnya kenyataan mengiyakan kita untuk berpisah. Raga kita harus terpaksa saling berjauhan. Tetapi aku percaya bahwa kita selalu dekat. Sebab segenap sisimu bersamaku, dan secuil nyawaku bersamamu. Begitu juga sebaliknya.

Kini, biarkan Rumah, Bunda, dan Adik menjadi fikiran aku, abang, dan kakak. Ayah, jaga baik-baik diri disana.
Jangan lupa untuk jumpa dengan anakmu yang pertama.
Ia pasti sungguh merindukanmu sama halnya seperti sang maha merindukanmu.
Semoga tenang, semoga damai; Kalian.

Ini cuma soal waktu.
Kelak, kita akan bertemu kembali.
Saat sudah saatnya nanti, aku janji akan membawakan sebuah pencapaian yang biasa aku sebut dengan mimpi itu Yah.
Maka kau akan melihat semuanya dengan penuh rasa.
Bangga karena anakmu bisa,
Haru karena akhirnya kembali berjumpa.

Dan satu lagi Yah. Kita udah bisa tutup pintu belakang.


Bentala NayanikaStories to obsess over. Discover now