Sulit. Tapi tidak apa-apa.

17 3 0
                                        

Perkenalkan. Namaku Aghni Pratista. Sejak lahir dan sampai di umurku yang ke dua puluh satu tahun beberapa hari yang lalu, Tita adalah nama panggilan yang kudapatkan.

Aku tidak tahu, lebih tepatnya aku belum menemukan apa makna dari umur dua puluh satu tahunku.

Tetapi yang pasti. Aku sudah memutuskan. Bahwa di tahun yang sama aku mendapatkan umur itu, aku dengan ikhlas melepasmu. Melepaskan namamu dari hatiku yang hampir sepenuhnya terisi oleh namamu. Satu tahun? Dua tahun? Tidak. Tidak sesingkat itu. Hampir separuh dari umurku, kuhabiskan untuk memujamu.

Sayang beribu sayang. Cinta sendirian itu berpihak kepadaku. Jika kamu membaca ini, kamu bisa tanyakan semua kepada teman-temanku. (beberapa guruku) Bahkan kedua orang tuaku. Seberapa banyak aku mencintaimu. Seberapa besar kasih yang kutujukan kepadamu. Tanyakan kepada mereka jika kamu tidak mempercayaiku. Bahwa aku dengan sangat begitu menaruh sayang kepadamu melebihi apapun di dunia ini. Meskipun tentu orang tua dan keluargaku adalah yang nomor satu.

Bukan sekali dua kali aku dikatai bodoh karena mengharapkanmu yang tidak pasti kejelasannya. Bukan. Tentu bukan salahmu. Mungkin memang aku yang bodoh. Setelah kejadian beberapa tahun lalu setelah aku memblokir nomor WhatsApp-mu itu, nyatanya aku tetap tidak bisa melupakanmu. Aku sangat yakin kamu tahu alasanku. Baik. Aku memang tidak ada hak untuk cemburu saat kamu menjadikan adik kelasku sebagai kekasihmu.

Sudah tahu aku tidak bisa melupakanmu, tetapi aku seolah-olah telah melupakanmu. Bodohnya aku. Jadi bukan salahmu kalau kamu tidak membalas perasaanku. Kamu mana tahu kalau aku tidak bilang kepadamu? Sayangnya aku memang secupu itu.

Tapi untuk yang akhir-akhir. Dengan segala responmu atas tindakan baikku, aku tertampar. Aku sadar. Aku memang tidak pernah menempati posisi di hatimu. Aku sadar. Kamu memang tidak pernah menyediakan tempat untukku.

Aku sudah menempuh asam garam jalanan sewindu mencintaimu. Tidak satupun aku lupa apa saja yang telah aku lalui.

Dengan perjalanan panjang itu, mungkin memang ini saatnya untukku memilih jalan yang lebih baik. Meskipun tidak mulus, setidaknya aku tidak sendirian seperti sewaktu aku menujumu.

Demi apapun tidak mudah. Aku berani bersumpah. Karena sebelumnya aku sudah pernah mencoba. Tetapi untuk kali ini, akan kupastikan menjadi terakhir kalinya aku berusaha untuk melupakanmu. Dan akan kupastikan pula. Aku akan berhasil melepasmu.

Elegi TanpamuStories to obsess over. Discover now