.
He's mute.
He's silence.
People said, he is a curse.
Tapi bagiku,
Dia selalu memahami caraku memandang dunia, pendengar terbaik dari yang paling baik. Buku paling keren yang pernah kupelajari, semesta baru yang paling tidak aka...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pagi Jakarta terasa asing bagi Amara. Udara masih lembap sisa hujan semalam, bercampur aroma aspal dan knalpot yang terlalu jujur bagi hidung anak daerah. Langit kelabu menggantung rendah, seolah ikut ragu menyambut hari pertamanya di kota yang katanya tidak pernah benar-benar ramah.
“Dah, Amara...”
Maya melakukan pat-pat lembut di kepala putrinya yang masih cemberut. Senyumnya hangat, tapi matanya menyimpan lelah—lelah karena tanggung jawab, karena jarak, karena harus melepas anaknya menghadapi dunia sendiri lebih cepat dari yang diinginkan.
Dia ingin mengantar Amara sekolah, sungguh. Tapi arah kantor dan sekolah Amara bertolak belakang. Jakarta tak memberi ruang untuk pilihan sentimental.
“Amara jangan cemberut, dong...”
Amara memaksakan senyum tipis. Tangannya mencengkeram tali tas ransel seperti pegangan terakhir. "Yah... Enjoy deh di sekolah baru. Tapi takut! Nanti kalau Amara diculik gimana? Kalau ada copet gimana?"
Kalimat itu keluar setengah bercanda, setengah serius. Amara datang dari Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah. Dan berita tentang kerasnya hidup di Jakarta—penculikan, copet, orang-orang yang tak ramah—tentu saja membuat Amara sedikit was-was.
"Hahaha, nggak apa-apa. Amara anak hebat. Bunda percaya Allah bakalan lindungin anak bunda yang cantik ini."
Nada suara Maya lembut tapi yakin, seolah menyalurkan keberanian lewat kata-katanya.
"Bismillah, deh."
"Tuh, bus kamu udah dateng."
Suara rem bus berdecit pelan. Amara mencium tangan Bundanya sebelum naik ke bus, menggenggam tasnya sedikit lebih erat dari biasanya. Dari balik kaca jendela, ia sempat melambaikan tangan kecil—perpisahan singkat yang terasa lebih berat dari yang ia duga.
Di dalam bus, Amara memilih duduk dekat jendela. Ia mengenakan headphone-nya selama melakukan perjalanan. Musik mengalun pelan, menutup bising klakson dan teriakan kondektur. Matanya menelusuri pemandangan ibukota: gedung tinggi, papan reklame raksasa, orang-orang yang berjalan cepat seolah waktu selalu mengejar mereka. Entah kenapa, Amara tersenyum tulus—campuran gugup dan harap.