Hidup dan mati adalah perkara yang hanya di ketahui oleh Dia yang sempurna. Begitu pula takdir, tidak dapat diperkirakan akan seperti apa. Menenggelamkan manusia pada relativitas unik yang kadang bisa di katakan mukjizat.
Aku ada di dalamnya. Seolah baru kurang dari satu menit bercanda ria dengan Appa dan Eomma di dalam mobil. Hujan dan petir di luar tidak mampu menembus hangat dalam mobil. Lalu setelahnya semua terasa berubah. Menyatakan dengan telak bahwa ruang dan waktu tidak mutlak adanya, sangat cepat terasa berubah-ubah. Relativitas.
"Jendeuk kau melamun."
Tertarik pada kenyataan. Membuat ku praktis mencari sumber suara yang memanggil ku. Jelas tahu siapa yang akan memanggil ku dengan panggilan itu.
"Sorry, apa kau mengatakan sesuatu Eonni?"
Memutar jengah manik matanya. Tatapan kesal jelas tertuju pada ku, tanpa mengelak aku memang salah. Tidak seharusnya aku melamun ketika bekerja.
"Ck apa yang mengganggu mu ? Kita harus menyelesaikan proyek ini atau kita akan mendengar ceramah dari pak tua menjengkelkan itu. Kau harus fokus."
"Maaf, aku akan fokus kembali."
Jisoo Eonni, satu-satunya yang ku punya di dunia ini. Malam itu nyata telah memisahkan ku dari Appa dan Eomma. Praktis membuat ku seorang diri. Guncangan begitu keras, tidak terlalu mengetahui bagaimana. Wajah ku sontak tertanam pada pelukan Eomma, ketakutan membuat mata ku tak ingin terbuka. Erat jari ku menarik baju Eomma.
Seketika keadaan begitu hening dalam pendengaran ku. Degungan merambat perlahan sampai suara petir seolah membelah diri ku. Aroma hujan tergeser oleh mesin yang terbakar. Ku rasakan tubuh ku di balut rasa sakit, terutama pada punggung ku. Mendongak, ketika ku rasakan pelukan Eomma melemah.
Kembali, kilat dan petir membuat tubuh ku kaku seketika. Tetesan darah Eomma menetes pada pipi ku. Napas ku terasa hilang, tubuh ku mulai bergetar tanpa henti. Ketika ku dengar suara lirih Appa di bangku kemudi memanggil ku.
"Jennhh ie ahh."
Keadaan Appa sama dengan Eomma. Wajahnya ditutupi oleh pekat merah darah. Tangannya berusaha menjulur ke arah ku. Selain air mata ku yang mulai menetes keluar, tidak ada satu pun organ di tubuh ku yang mulai bergerak. Seolah semua telah mati. Petir kembali menyambar dibarengi dengan Appa yang mulai menutup mata.
"Appa."
Tidak ada jawaban.
"Eomma."
Tidak ada jawaban.
Ketakutan mengambil alih setiap inci dari sel pikiran ku, menyebar deras ke seluruh tubuh. Ingin beranjak memastikan sebelum kilat da petir kembali menghampiri.
"Kyaaaaaa."
Brakkk
"Oh Tuhan, kemari lah nak. Tidak apa. Ssstthhh tenanglah."
Sepasang tangan menangkup ku. Membawa ku bersamanya.
"Appa hhh Eomma."
"Tenanglah, paman akan menyelamatkan mereka."
Tidak lama suara ledakan terdengar bersamaan dengan petir yang kembali hadir. Tubuh ku di dekap erat dalam pelukan. Kilatan api terlihat, membumbung tinggi dan membawa seluruh napas ku bersamanya. Setelahnya adalah kegelapan mutlak.
Marco Manoban, malaikat baik hati yang dengan murah hati menyelamatkan ku. Jika saja saat itu paman Marco tidak muncul, aku tidak akan ada lagi. Kurang lebih dua tahun hidup bersama keluarga Manoban. Hampir saja aku menjadi anak angkatnya, kemudian Paman Kim, kakak dari Appa membawa ku.
YOU ARE READING
Reverse [BAD GUY] ~ Jenlisa
FanfictionBAD GUY Versi 2. Berpegang pada rasa terima kasih serta balas budi akan hidupnya yang lampau. Jennie Kim dengan berani berpindah pada jalan baru. Mempertaruhkan sesuatu untuk bermain, tapi bagaimana jika ia terseret dalam permainan ?
![Reverse [BAD GUY] ~ Jenlisa](https://img.wattpad.com/cover/286397551-64-k365583.jpg)