DILARANG PLAGIAT
FOLLOW SEBELUM MEMBACA
SESUNGGUHNYA PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG SANGAT TIDAK TERPUJI DAN MENYIMPANG
****
TW/CW
- perasaan putus asa & kehilangan harapan
- kehilangan semangat hidup, pikiran untuk mengakhiri hidup
- struggle emo...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Alat uap itu berdengung pelan, menyemburkan rasa hangat dalam tubuhnya, perempuan itu tampak diam dan pucat. Wajahnya setengah tertutup masker transparan, matanya menatap kosong ke satu titik di dinding putih ruangan. Tidak ada suara lain selain desisan mesin dan detak jarum jam yang nyaris tak terdengar. Sunyi. Terlalu sunyi.
Ruangan itu kecil, dingin-putih dari lantai hingga plafon. Di sudut atas ada televisi yang sedang menayangkan sinetron kesukaan semua orang, satu meja kecil di sampingnya, ada beberapa obat yang belum dia minum untuk giliran malam selepas makan malam,serta bau yang mengandung aroma obat. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia. Sendiri. Bahkan suster berkali kali bertanya padanya, dan lagi lagi dia hanya bisa menjawab, "Iya dirumah pada kerja."
Benar, siapa yang peduli padanya setelah dia membuat kesempatan emas dengan sia sia. Lagi pula siapa yang ingin sakit seperti ini. Dia juga tidak mengira akan seperti ini.
Napasnya naik turun perlahan, masih berat, tapi kini sedikit lebih teratur. Uap hangat perlahan meresap ke dalam paru-parunya yang lelah. Rasanya menenangkan, namun juga membuatnya semakin sadar akan keadaannya. Ia duduk di sana, mengenakan baju pasien longgar, tubuhnya melemah, jiwanya menipis.
Dalam diam, pikirannya melayang ke segala arah. Ia membayangkan hari-hari sebelum sesak ini datang, saat berjalan cepat tak membuat dadanya nyeri, saat tertawa tidak disusul batuk yang menusuk. Ia mengingat kamar tidurnya, jendela kecilnya, lagu-lagu yang biasa ia dengarkan. Semua terasa jauh sekarang-seakan milik orang lain.
Sebenernya ada satu orang yang sampai kini tetap dia hindari, dia terlalu banyak bergantung, namun dalam keadaan seperti ini, dia tidak ingin orang itu ikut menderita karena bersama dirinya.
Tidak apa, walau tak ada pelukan ibu. Tak ada genggaman tangan teman. Tak ada suara yang bisa menghalau keheningan. Hanya dengungan uap yang terus bekerja, tak peduli pada isi hati seseorang yang sedang mencoba untuk tetap hidup.
Dalam sepi itu, Metana sadar betapa sunyinya perjuangan yang tak terlihat. Ia sedang bertarung. Tapi tidak ada penonton. Tidak ada sorak. Tidak ada pelukan hangat setelahnya. Hanya ruangan putih, napas yang berat, dan waktu yang berjalan tanpa belas kasihan.
Dalam sisa keheningan, ponselnya berbunyi, nama seseorang yang dia hindari muncul di sana. Seolah merasakan perasaan sepi yang setara, seolah orang itu merasakan bahwa dirinya memang tidak bisa apa apa tanpa orang itu.
Sudah berpuluh puluh kali orang itu menelpon, karena tak tega dan takjub dengan kegigihannya yang tak menyerah untuk menghubungi dirinya akhirnya dia memencet tombol hijau, mencoba mendengarkan apa yang akan di katakan orang itu.
"Di rawat ga bilang-bilang, sampai kapan Lo di RS?" Pertanyaan dengan nada yang begitu kesal, dirinya bisa merasakan bahwa laki-laki itu benar-benar jengkel padanya.