Bagian satu
Restoran terbaik adalah rumah sakit
*
Setiap orang memiliki tempat terbaik untuk menikmati makan siang bersama pasangan, bagiku Rumah sakit merupakan tempat terbaik. Setidaknya karena disanalah aku bisa menemui kekasihku tersayang tanpa harus merasa was-was akan ditinggal di tengah suapan pasta yang nikmat. Aku melirik Kabi yang duduk di sampingku, sibuk menyantap makanannya. Duduk sedekat ini dengannya malah semakin menariku untuk terus menerus memperhatikannya, mencari-cari, menerka-nerka, sebenarnya ada apa disana, diantara aku dengan dia.
"Kamu gak makan?" Suara beratnya membuyarkan seluruh fikiran, dia menatapku, sesaat sebelum kembali menyuapkan sesendok nasi kemulutnya.
"Makan dong Tar, magh kamu nanti kambuh" Sekali lagi kabi menatapku, kali ini ia benar-benar menghentikan aktivitas makannya dan mendorong piringku yang masih utuh lebih mendekat.
"Makan" Kabi mendesak, suaranya memang terlalu tenang untuk dapat disebut paksaan, namun juga terlalu tegas untuk dibilang menyarankan. Aku tersenyum tipis sebelum akhirnya mulai menyentuh makananku. Kabi memang selalu berhasil membuatku tunduk dengan ketenangannya dan selalu berhasil membuatku tidak lagi mendebat apapun yang dia katakan dengan segala kepintaran yang ia punya. Tentu saja karena aku tidak pernah bernar-benar mengerti apa yang sebenarnya ia bicarakan, jadi bagaimana mau mendebat? Menimpali saja rasanya tak sanggup.
Lagi-lagi selera makanku hilang. aku meliriknya untuk kesekian kali, lalu mengedarkan seluruh pandangan pada seisi kafetaria, dan berusaha menyuap lagi. Hitungan tahun sudah terlewati bagiku untuk belajar merasa nyaman dengan suasana tempat ini, bau karbolnya, warna pucatnya, rasa hambarnya, bahkan dengan orang-orang berjubah putih itu, bertahun-tahun tapi tetap merasa asing, bahkan bersama dengan kabi-pun saat ini menjadi terasa asing.
"Akhir-akhir ini makan kamu dikit, kenapa? Lagi gak enak makan? Suka mual-mual lagi?"
"Diet, aku lagi diet bi!" sergahku memotongnya, dia melongo kaget.
aduh! Detik itu juga aku langsung menyesali perkataanku, bukannya berhasil memotong ceramahan Kabi aku malah meberinya umpan untuk terus mengeluarkan keahliannya. Tapi kali ini aku salah, kali ini ia hanya tertawa hambar, menggelengkan kepalanya dan tak bicara lagi. Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya kita berdua yang sibuk berkutat dengan makanan masing-masing, tentu saja aku tidak benar-benar sedang menikmati makananku, dan Kabi tak lagi menyuruhku untuk terus makan.
"Kabi"
"Ya?" Kabi menoleh, menyimpan gelas air minum yang telah kosong itu di atas meja. Sementara aku hanya mampu menelan ludah, tiba-tiba merasa gugup. Lagi, otaku kembali aktif menyuarakan pertanyaan-pertanyaan. Melontarkan berbagai ide-ide konyol mengenai betapa gagah dan tampannya Kabi bila saja ia hanya sebuah tokoh fiksi, tak nyata, sehingga aku bisa paham mengapa hubungan ini terasa begitu tak masuk akal. Selalu banyak hal-hal yang ingin aku utarakan, rasa yang ingin aku sampaikan, yang akhir-akhir ini lebih memilih untuk tetap bermain dalam kotak hitam di kepalaku. Untuk kesekian kalinya aku mencoba untuk bisa mengutarakannya lagi. Kukira kali ini aku akan berhasil setidaknya mengeluarkan satu saja fikiran yang selalu mengganggu, tapi semuanya berakhir hanya menjadi perkiraanku saja saat tiba-tiba seorang perempuan muncul di hadapan kami.
"Dok, bisa cek pasienku sebentar"
Kabi mengecek jam di tangannya sebelum merespon, "oke, nanti saya nyusul" Ucapnya dengan sebuah isyarat yang entah apa itu namun membuat perempuan- yang sudah pasti akan aku jadikan tokoh paling menderita dan teraniaya di dalam ceritaku kelak- itu langsung mengangguk canggung dan melangkah pergi.
YOU ARE READING
MAKNA RASA
RomanceJika berada dalam satu posisi dimana kamu mulai mempertanyakan makna dari apa yang tengah kamu rasakan, apa yang akan kamu lakukan? Kintara Marmora memilih untuk memutus hubungan yang sudah terjalin cukup lama dengan seorang Dokter spesialis mapan b...
