P R O L O G

46 7 14
                                        

Sekolah...

Ah, ini terdengar mengesalkan bukan? Iya begitulah yang ada dipikiran setiap pelajar dari berbagai penjuru dunia. Sekalipun ada yang bersuka hati pada tempat yang satu ini, tetap saja ada satu keadaan atau situasi tertentu yang membuat kita semua kesal atau jenuh. Benar? Iya tentu! Jangan baca cerita ini bila anda sekalian tidak setuju, hehe.

Hari Senin di tahun ajaran baru, segerombol anak-anak berseragam yang merupakan siswa baru terlihat ramai memasuki gerbang kokoh sekolah ternama itu. Intelligence High School, namanya.

Konon kabarnya sekolah menengah atas yang berkonsep boarding school (asrama) ini merupakan sekolah incaran banyak orang, sampai ada kabar tak enak yang terdengar bahwa katanya sekolah ini berisikan murid-murid kelewat ambis juga guru-guru 'killer' bahkan ada desas-desus kalau ada hal yang mencurigakan dari sekolah ini.

Seorang gadis bergidik kala kakinya menginjak pekarangan luas sekolah ini, menggigit bibir bawahnya gugup.

"Sial, kenapa gue bisa ada disini akhirnya? Padahal awalnya gue nolak nyokap yang mencak-mencak nyuruh sekolah disini karena surat beasiswa gak jelas itu," monolog gadis berkacamata tersebut.

"REA!"

Si gadis berkacamata menoleh, menemukan gadis lain yang memakai seragam sepertinya. Tunggu, dia tahu betul wajah itu... Mata minimalis cenderung memancarkan aura lesu, juga tubuh kurus tinggi bagai bambu runcing. "CHERISA?!"

Keduanya bertos-ria, ala-ala anak hitz (pakai Z).

"Si anjing, kok bisa lo disini juga?" tepat setelah Rea berujar, Cherisa menampar bibir temannya itu.

"G*bl*k! Kalo mau berkata kasar liat tempat dong, lo lagi di sekolah elit ini," katanya mengundang emosi Rea.

"Si bngst kagak ngaca."

Cherisa hanya mengeluarkan cengiran. Kemudian mereka pun berjalan, sepakat keduanya akan mencari gedung asrama murid dan menjadi teman sekamar. Omong-omong mereka ini sohib sejak zigot, namun rumah mereka tidak begitu dekat.

Ah ya, sekilas tentang asrama. Dari peraturan yang tertera, 1 kamar berisikan 4-5 orang. Gedung asrama untuk perempuan dan laki-laki pun terpisah. Ada gedung utama merupakan gedung sekolah yang diapit keduanya. Tak heran jika sekolah ini terlihat begitu luas dan megah.

"Jadi, apa lo dapet ini juga secara tiba-tiba?" tanya Rea menunjukkan selembar kertas yang ia sebut sebagai undangan 'beasiswa tidak jelas'.

Cherisa mengguncangkan bahu Rea dengan cukup keras. "BENER! KOK BISA SIH YA?!"

Rea menendang perut Cherisa yang berdiri dihadapannya itu. "Orang gila! Gak usah pake gituin bahu gue juga dong," omelnya.

Cherisa cuek, dia kembali berceloteh. "Gue tau sih gue pinter, cuma aneh aja ya gak sih?"

Rea jengah, "terserah lah, gue pusing. Bingung sih jelas, tapi bodoamat yang penting sekolah biar hidup gue gak suram kayak muka lo Cher," jawabnya.

"ASU!"

"Aku selalu untukmu."

"STRES!"

Rea mengedikkan bahu tak peduli, ia pun merapikan barang bawaannya.

Sementara itu seorang murid baru sama seperti mereka masuk ke dalam kamar dengan wajah datarnya. Rea dan Cherisa berpandangan.

"Adek... umur berapa? Kok bisa masuk sini? Nge-cheat ya?" Rea berkicau diikuti sahutan Cherisa, "Lo pasti pinter banget ya dek? Loncat kelas kah? Ceritain dong."

9irls (GS)Stories to obsess over. Discover now