Hadiah untuk Bima

22.4K 1.2K 10
                                        

Hari ini ruang tamu yang biasanya terlihat minimalis kini berubah, banyak slinger yang menempel di dinding dengan beberapa balon warna-warni.

Iringan lagu selamat ulang tahun dinyanyikan oleh Mama, sedangkan anak yang bernama Bimala sebentar lagi akan meniupkan lilin yang berada dihadapannya sebagai pertanda hari jadi yang ke-8 tahun sudah resmi.

Mama tersenyum bahagia melihat anaknya yang bertambah usia, walaupun mereka hanya merayakannya berdua dengan cara sederhana seperti ini. Tapi Mama yakin hadiah utama yang akan ia berikan pada sang anak tidak akan mengecewakan justru adalah hadiah yang paling Bima tunggu-tunggu.

"Bima masih ingat permintaan Bima waktu itu?"

Bima mendongak kearah Mama, matanya bergulir keatas memikirkan perkataannya beberapa minggu yang lalu lantas tersenyum lebar.

"Bima mau Adik!" serunya, Mama ikut tergelak.

"Sebentar lagi Bima bakal ketemu sama Adik, dia lagi dijalan mau kesini" ucap Mama sembari mengelus surai coklat milik Bima yang langsung memekik kegirangan, kedua tangannya terangkat semangat tanda kemenangan.

"Beneran Ma?! Bima bakal punya Adik?" tanya Bima memastikan, pasalnya permintaan Bima itu sudah lama ia ucapkan pada Mama namun tidak kunjung mendapat balasan.

Bima terkejut tidak percaya saat Mama menganggukkan kepalanya, sebentar lagi ia akan memiliki Adik, Bima tidak akan sendirian lagi dirumah jika Mama pergi bekerja.

Kue ulang tahun yang berada dimeja sengaja tidak disentuh oleh Bima, setelah meniup lilin ulang tahunnya adik yang Bima tunggu-tunggu tidak kunjung menampakkan diri. Sedikit curiga dengan Mama apakah Bima dibohongi.

"Mama, katanya Adik Bima datang hari ini?"

Bahkan ia sudah menyematkan kata 'Adik Bima' disana, Bima benar-benar berharap kali ini. Mama menggigit bibir bawahnya, sedari tadi menelpon sang calon suami yang tidak kunjung diangkat membuat dirinya sedikit cemas.

Sudah belasan panggilan tidak diangkat, Mama akhirnya menyerah dan membiarkan Bima menopang dagu di meja dengan murung.

Beberapa jam setelahnya ponsel Mama berbunyi dengan nama calon suami disana, Mama segera mengangkatnya berharap tidak terjadi apa-apa hal yang tidak diinginkan.

"Halo, Mas?"

"Andini Maaf, kami ketiduran.."

Mama menghela nafas lega, setelah banyak pikiran negatif yang terbayang di otaknya mengingat jarak diantara keduanya yang jauh, sekitar 3 jam perjalanan jika menaiki mobil. Ternyata duda beranak satu yang beberapa minggu lagi akan menjadi suaminya itu hanya ketiduran.

"Aku tidak masalah jika kalian berangkat besok, Mas.."

"Kami akan berangkat sekarang. Arsa sudah merengek ingin bertemu dirimu"

Mama terkekeh kecil, sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan anak manis dari sang kekasih. Dirinya juga sudah dilanda rindu setelah pertemuan mereka satu bulan yang lalu. Jujur saja Mama rindu dengan suara tertawanya Arsa yang menggemaskan.

"Mas, hati-hati dijalan ya.."

Setelah panggilan singkat itu, Mama bergegas menuju dapur. Mama memotong beberapa sayuran kesukaan sang calon suami, tak lupa juga dengan cemilan kesukaan sang calon anak. Arsa sangat menyukai tiramisu, jadi Mama sudah menyiapkan semua itu jauh-jauh hari.

Setelah merasa semua sudah lengkap Mama menata hidangan itu dimeja makan, masih dengan Bima yang duduk disana yang sesekali merecoki makanannya.

🔸🔸🔸

"Arsa, kenalin ini namanya Bang Bima"

Arsa mengerjap pelan, mendongak kearah Ayah yang masih menggenggam tangannya. Arsa menutup bibirnya rapat-rapat dengan gugup setelahnya ia bersembunyi dibalik tubuh tinggi sang Ayah.

"Hai! ini Arsa ya?" Ucap Bima, setelah mengetahui namanya dari Mama ia mencoba untuk ramah dengan calon adiknya yang masih takut-takut.

Arsa semakin bersembunyi dibalik tubuh Ayah, Ayah menatapnya seraya mengusap surai hitam Arsa dengan senyum simpul memberi isyarat pada Arsa untuk menanggapi sosok yang menyapanya.

Hanya dengan sebuah anggukan dari Arsa saja, Bima tersenyum cerah.

"Arsa kelas berapa?" tanya Bima lagi.

Arsa tak menjawab, tapi jemarinya menunjukkan angka satu. Namun setelahnya ia menangis kencang membuat Bima terkejut karena ia merasa tidak melakukan apa-apa selain mengajaknya untuk berkenalan.

Ayah juga dibuat panik karena tangisan Arsa yang tiba-tiba. Ayah berbalik dan mensejajarkan tubuhnya pada sang anak, lalu mengusap wajah Arsa yang basah karena air mata.

"Arsa, kenapa Nak?"

Anak itu masih menangis walaupun sudah tidak sekencang tadi, bibirnya mengerucut gundah serta isak tangisnya masih terdengar.

"Asa belum bisa baca.." cicitnya, ia melirik kearah Bima, Ayah dan Mama lantas kembali memekik kencang menyuarakan tangisannya.

"Arsa tenang aja! Nanti Bang Bima ajarin ya?" seru Bima

"Tuh Bang Bima nya mau ajarin Arsa, nanti belajar sama Bang Bima ya?" kini Mama ikut bersimpuh dihadapan Arsa, mengusap pergelangan tangan mungil Arsa dengan sayang.

Bima terkekeh kecil, dirinya yang melihat Arsa menangis justru terlihat lucu. Bibirnya yang mengerucut,mata lentiknya yang basah karena air mata serta rengekan kecil dari Arsa justru terdengar menggemaskan bagi Bima.

Kini mereka berada di meja makan menikmati makan malam, Mama dan Ayah duduk berseberangan begitu juga dengan Bima dan Arsa.

Bima kembali memperhatikan Arsa, Adik kecil yang menggunakan jaket tebal berwarna biru langit diseberangnya ini hanya berbeda satu tahun dengannya tetapi mengapa dirinya terlihat mungil dan menggemaskan. Pandangan Bima tentang adik barunya sangat sesuai bahkan melebihi ekspetasinya.

Mulai hari ini
Arshaka, Adik laki-laki hadiah istimewa dari Mama akan menjadi satu dari beberapa bagian penting dari hidup Bima.

Setelah pertemuan itu, Arsa mulai terbiasa dengan kehadiran Bima di hidupnya. Setiap hari Sabtu dan Minggu Ayah akan mengantarkannya kerumah Mama untuk menginap karena sebagai proses pendekatannya.

Disaat Arsa datang, saat itu pula Bima merasa senang. Adik lucu nan manis yang Bima tidak pernah bosan untuk menatapnya.




💚

ARSHAKA [SELESAI] Where stories live. Discover now