Selalu ada namamu di bawah hujan.
Petra berlari semakin cepat. Bahkan ketika tanah licin dan becek nyaris menjatuhkannya. Meski hujan, meski dingin, ia tetap melaju. Dengan ransel yang berat berisi tumpukan buku dan sekotak bekal; Petra tetap memaksakan langkah kakinya membawa diri menuju suatu tempat di mana sosok pria yang dia cari, selalu bersembunyi di sana.
Gin, sosok pria terluka yang membuat Petra menjadi magnet saat pertama bertemu dengannya. Pria aneh yang kehadirannya tidak pernah di harapkan siapa ‘pun. Kecuali, Petra. Ya, Petra selalu berminat terhadap segala hal tentang Gin, yang adakalanya tampak begitu dark seperti musuh, namun tidak jarang tampak seperti bayi. Reaktif tapi sangat halus.
Petra merapatkan jaket. Hujan di bulan Februari memang membunuh.
“Kenapa hujan-hujanan lagi? Mulai tidak waras?” ucap Petra yang melihat Gin berdiri menghadap langit dengan seragam yang sepenuhnya keluar di balik ikat pinggang. Gin yang mendengar itu, tersenyum kecut lalu mengusap mata tanpa memperhatikan Petra yang berdiri di belakangnya dengan napas tak beraturan.
“Selalu ada namamu di bawah hujan....” ucap Gin lalu berjalan menuju perut pohon lebat dengan langkah malas. Sementara Petra mengekori Gin lalu duduk di sampingnya.
Gin mengusap-usap rambutnya di bahu Petra, sehingga ia harus menggebuknya menggunakan kotak bekal.
“Gin, stop it!” Petra sibuk menghindar dan menepis, sementara rambutnya yang tadi basah kuyup; sekarang semakin tuntas.
“Dingin tahu!” cetus Petra sedikit kesal. Gin menggelengkan kepala seperti orang habis keramas. Kini, Petra ‘pun berhadapan dengan wajah yang sialnya terlalu cute untuk dikatakan berantakan.
Memiliki seorang ayah pebisnis besar dan ibu yang sama-sama kaya, tidak lantas membuat dompetnya selalu tebal. Beberapa receh untuk jajan saja sudah bagus. Memang sebuah ironi yang sempurna untuknya.
Namun, sampai saat ini Petra tidak tahu jenis hubungan apa yang sedang berputar-putar di antara mereka, dan tidak ingin mempermasalahkannya. Yang jelas, nalurinya sebagai kakak kelas membuat ia begitu peduli padanya.
Petra sangat bersyukur menjadi wanita yang menemukannya.
“Makan yang banyak, nanti mati loh!” Gin hanya tersenyum kecil sembari menggigit tempe orek dengan terus menatap mata Petra. Di matanya, tergambar sebuah cerita getir yang membuat tatapannya sengsara.
Teringat akan sebuah Insiden akhir semester pertama ketika penerimaan rapor. Ibunya ngamuk-ngamuk di sekolah karena nilainya hancur. Menyiksa dan memaki-makinya dengan kata-kata kasar yang membuat Petra sukses melongo hebat dengan mulut bergetar. Mendapat perlakuan seperti itu sebagai seorang remaja di hadapan teman-teman, tentu menjadi siksaan hebat untuknya. Gin yang nakal, yang jail, Gin yang sering membuat teman-temannya sensi, Gin yang sering menantang berkelahi. Pada saat itu, ia harus membiarkan pertahanannya roboh bersama harga diri yang terlempar ke tanah, lalu diinjak-injak secara tragis.
Libur semester pertama berakhir, namun, masalah yang menimpanya tidak mencapai ending. Penampilannya kusut karena tidak terurus, dan yang terlihat, dia semakin intens mengusili teman-temannya. Dia pernah diseret ke ruang BP karena menarik bra anak-anak cewek, membawa DVD XXX ke sekolah, merokok di kamar mandi dan segala bentuk tindakan-tindakan aneh untuk mencari-cari perhatian.
YOU ARE READING
Pareidolia
Teen FictionKau tidak akan menemukanku di awan, atau 'pun di kanvas imajinasimu! Aku ada di sini, lihat aku!
