Bimillahirrahmanirrahim…
Maha besar Allah yang telah menganugerahkan rasa cinta pada setiap manusia. Sehingga mereka bisa merasakan indahnya dicintai dan indahnya mencintai karena Allah. Ketika Allah telah menghendaki sesuatu dengan mengatakan ‘Kun Fayakun’ segalanya dapat terjadi. Termasuk pertemuan antara dua orang lawan jenis yang disatukan dalam satu ikatan suci bernama pernikahan. Namun bagaimana jika nama perempuan lain juga tertulis didalamnya? Haruskah aku memilih mundur? Atau tetap maju dengan mempertahankan rasa cinta meskipun ada perempuan lain?
Namaku Farhana Deswilla Hanif, kerap dipanggil Hana. Mahasiswi semester akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Surabaya. Aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Dan aku tinggal bersama kakak lelakiku bernama Aydan juga Ayahku yang bernama Pak Hanif, biasanya kami lebih suka memanggil beliau dengan sebutan Abah. Sementara Umma, InsyaAllah beliau sudah tenang di surganya Allah.
Awalnya kehidupanku baik-baik saja, semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku memiliki kehidupan yang Alhamdulillah berkecukupan, juga keluarga dan sahabat yang menyayangiku. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika suatu hari seorang lelaki sholih datang mengkhitbahku. Lalu nikmat-Mu mana lagi yang aku dustakan ya Allah?
Namun ternyata Allah memiliki skenario lain dalam kehidupanku, kedatangan lelaki yang menghitbahku justru memunculkan masalah baru. Rupanya calon suamiku memiliki masa lalu yang belum terselesaikan dengan Jihan sahabatku di kampus.
“Farhana, aku dan mas Khalif pernah saling mencintai saat duduk dibangku Madrasah Aliyah. Kami berkomitmen untuk tidak mengembangkan rasa cinta terlalu jauh karena kami tahu tidak ada solusi lain untuk orang yang saling mencintai kecuali menikah. Sementara saat itu kami masih berstatus sebagai pelajar, bagaimana mungkin kami akan menikah? Masih banyak mimpi juga cita-cita yang belum tercapai, dan kami memutuskan untuk memendam perasaan itu hingga tiba waktu yang tepat. Dan sekarang dia telah kembali, namun membawa cinta bukan lagi untukku, melainkan itu untukmu. Kamu pasti mengerti perasaanku saat ini bukan?”
Kugenggam jemari Jihan yang terdapat selang infus disana, “Sebagai sesama perempuan aku sangat mengerti itu Ji.”
“Bagaimana jika namaku juga tertulis di lauh mahfudz sebagai jodoh mas Khalif? Apa kamu akan mengizinkanku menjadikan mas Khalif sebagai mahramku? Apa kamu rela menyerahkan calon suamimu padaku yang mungkin usianya tidak akan lama lagi ini?” ucap Jihan dengan berlinang air mata.
Dalam sesaat pengakuan sahabatku yang bernama Jihan mampu menggoyahkan niatanku untuk menikah dengan mas Khalif. Otak dan hatiku berjalan tidak sinkron, masih terdapat ketidakrelaan disana. Ya Allah sang pemilik hati, apa yang harus hamba perbuat?
Rupanya ujian itu tidak berhenti sampai disini, ada kenyataan lain yang lebih pahit dan perlahan mengungkap masa laluku juga Jihan.
***
ESTÁS LEYENDO
Mahram
De TodoJodoh sudah tertulis di lauh mahfudz, namun bagaimana jika ternyata tertulis pula nama wanita lain disana? Haruskah Farhana rela membagi cintanya?
