Perempuan itu entah sudah yang ke berapa kali menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Padahal, rambutnya masih di posisi semula dan tak lagi menjuntai kedepan. Pandangan matanya juga tidak tenang. Kadang ke kiri, ke kanan, bawah, dan semakin membuat wajahnya menunduk tiap kali Mea menanyainya perihal Rama. Entah apa yang disembunyikan Eren darinya.
"Dia ngapain lo lagi?"
Eren hanya menggeleng sebagai jawaban, dan jemari tangannya lagi-lagi hendak menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga andai saja Mea tak lebih cepat menggenggamnya lebih dulu.
"Eren, kita bukan dua orang asing yang tidak harus terbuka satu sama lain. Kita sahabat, bukan?"
"Jadi aku harus bagaimana?" Wajah tirus yang selalu terlihat cantik dan lemah dalam bersamaan itu, begitu terlihat frustasi saat mendongak memandang Mea kali ini. Membuat Mea semakin iba melihatnya. "Aku harus bagaimana Mea? Aku tidak tahu harus bagaimana?"
Hening, Mea tak sanggup berkata-kata saat telinganya menangkap nada bergetar milik Eren di depannya. Entah apa yang sudah dilakukan Rama padanya. Begitu gelisah dan ketakutan. Tak salah ia menjuluki laki-laki itu seperti iblis berwajah malaikat. Bersikap layaknya serigala yang berbulu domba. Mea tak akan pernah memaafkannya jika benar laki-laki itu telah menyakiti sahabatnya.
"Akhiri," ucap Mea lugas pada akhirnya. "Akhiri hubungan yang tak lagi saling menghargai. Sebagai kekasih, apalagi manusia."
Eren terdiam. Pandangannya mengabur perlahan tanpa sadar.
"Putusin Rama. Dia bukan manusia." Eren seketika melepas tangannya dari genggaman Mea. "Kenapa?"
Eren mengusap cepat sudut matanya sebelum bulir bening itu luruh ke pipi tirusnya yang dipoles make-up tipis.
"Aku tidak bisa." Deru napas yang menjadi tidak setabil, detak jantung yang menggila tanpa disadari. Pun keringat dingin yang tiba-tiba muncul di dahi dan lehernya. Eren bicara tentang kejujurannya. "Aku tidak memiliki keberanian untuk memintanya. Aku, Aku juga tidak sanggup melepaskan diriku darinya, pun melepaskannya dariku."
Pada akhirnya isak tangis yang berusaha Eren tahan mati-matian tetap menyeruak minta dikeluarkan. Eren menutup wajanya dengan kedua tangannya, menangis sesenggukan di balik telapak tangannya. Terlalu malu melihatkan wajah betapa kacau ia setelah mengenal sosok Rama yang begitu dicintainya.
YOU ARE READING
Toxic
Romance"Akhiri hubungan yang tak lagi saling menghargai. Sebagai kekasih, apalagi manusia."
