Kalian seorang murid? Merasakan sekolah penuh makna? Adakah di antara kalian anak yang pendiam dan terlihat suram? Atau anak biasa-biasa saja tanpa masalah apa-apa? Atau anak populer yang ceria dan disukai banyak orang?
Menjadi kesukaan guru, dikagumi semuanya, terlihat sempurna di mata.
Itulah aku.
"Chara!"
Seseorang memanggilku, dia terlihat panik dan tergesa-gesa. Berlari menuju ku yang ada di ujung lorong sekolah.
"Kenapa Lyn?"
Namanya Ailyn, orang pertama yang menghampiri ku saat orientasi beberapa bulan lalu, dan menjadi teman dekat ku sekarang. Dia orang pertama sekaligus terakhir, karena sisanya aku yang menghampiri orang lain.
"Di ruang komputer ada yang berantem Ra!"
Berantem? Siapa dan kenapa harus di ruang komputer?
"Anak kelas kita? Guru-guru di mana?"
"Iya Haru sama Clovis. Guru-guru udah di sana tapi mereka masih aja adu mulut Ra."
Gawat. Haru, siswa bermasalah, hobinya keluar masuk ruang BK, tidak ada murid di sini yang tidak mengenalnya.
Ia sekelas denganku di kelas A. Bagaimana anak bermasalah seperti nya bisa berakhir di kelas A?
Jawabannya simpel.
Ia sangat pintar, jenius malah.
Haru selalu menduduki peringkat dua dalam bidang akademik. Walau bermasalah ia selalu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan nilai sempurna. Walau terkesan tidak mendengarkan, jawabannya selalu tepat ketika guru bertanya.
Entah bagaimana, pikir semua orang. Tapi aku tahu persis alasannya. Ibunya pernah bekerja sebagai guru di SMA terbaik, juga sekolah internasional terkenal. Ia juga pernah menjadi dosen di universitas ternama, dan sekarang menjadi ibu rumah tangga. Tidak heran kalau ia membuat Haru belajar dengan baik. Bagaimana aku tahu? Tentu aku tahu, karena Haru adalah temanku sejak kecil.
Nah, kali ini apalagi yang ia perbuat?
Aku dan Ailyn bergegas menuju ruang komputer, kenapa Ailyn memanggilku?
Jawabannya mudah, karena aku memiliki 1001 cara untuk membungkam mulutnya.
"Di sini Ra."
Kami tiba di tempat kejadian, terdengar amat rusuh di dalam sana.
Haduh, Haru ngapain lagi sih?
Aku membuka pintu ruangan dan benar saja, Haru tengah mencengkam kerah baju Clovis sambil memaki, ia terlihat sangat marah. Hei hei, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Haru terlihat semarah itu?
Teman-teman yang lain hanya bisa diam dan menatap ngeri. Bahkan anak laki-laki yang lain pun paham. Jangan pernah mengganggu monster Haru, titik.
Aku harus segera bertindak sebelum situasi menjadi semakin runyam.
"Haru!"
Baru saja aku berseru, Haru sudah menatapku tajam.
"Kamu mau aku berhenti kan?"
Eh? Apa? Reaksinya tidak seperti biasanya.
Tanpa membiarkan aku berpikir sejenak, Haru kembali bicara.
"Mau atau tidak?!"
Ia bertanya lagi dengan nada jengkel. Aku merasa didesak, semua mata menoleh ke arahku, akhirnya tanpa sadar kepalaku mengangguk dengan sendirinya.
"Tutup matamu."
Hah, tutup mata? Untuk apa? Tingkah laku Haru sangat aneh.
"Cepat."
"Kalau aku menutup mata kamu akan berhenti?"
"Bahkan menurut sambil tersenyum ceria saat kamu membawaku ke ruang pribadi ku."
Ruang pribadi, sebutannya untuk ruang BK, tidak salah sih, mengingat betapa seringnya ia mampir ke sana. Hanya menutup mata kan? Ya sudah kulakukan saja.
"Jangan coba-coba membuka mata sebelum aku beri izin."
Baiklah, baiklah. Santai saja, ucapanmu dingin sekali Haru.
Aku menunggu aba-aba darinya, kalau menurut perhitungan ku ini sudah 1 menit 28 detik. Suara lantang Haru juga sudah tidak terdengar, apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku masih belom boleh melihat?"
"Maju tiga langkah Ra."
Itu suara Haru, dan suaranya juga tidak sedingin tadi. Aku melakukan apa yang ia katakan, maju tiga langkah dari tempat ku berdiri sekarang.
"Terus?"
"Buka mata."
Suruhnya singkat, aku pun menurut. Perlahan membuka mata ku dan menyisir sekeliling ruangan.
"I-ini?"
Apa yang kulihat setelah ini benar-benar mengejutkan.
"HAPPY BIRTHDAY CHARA SAGARA!"
benar-benar mengejutkan. Tiba-tiba saja seluruh komputer menyala, menampilkan huruf yang bila digabungkan menjadi kalimat 'HBD CHARA!'
Jadi ini alasan Haru bertengkar di ruang komputer.
Semua teman-teman memakai topi kerucut dan tersenyum ruang, suasana dingin benar-benar sudah hilang. Para guru ikut bernyanyi 'selamat ulang tahun', dan persis di depanku, berdiri anak laki-laki yang memegang kue dengan kedua tangannya, tersenyum hangat sambil menatapku dengan kedua mata birunya.
"Tiup lilinnya Ra."
Ternyata kejadian Haru dan Clovis yang bertengkar hanyalah tipuan, ini adalah perayaan ulang tahun ku. Kejutan untukku.
Haru masih menungguku meniup lilin, aku menarik nafas, bersiap untuk meniup dan membuat harapan-
-tapi gagal.
"Pfft."
Aku tak tahan lagi, ini terlalu lucu.
"HAHAHAHAHA."
Tawa ku benar-benar lepas kendali.
"Apa-apaan telinga kucing itu Haru? Sangat imut!"
Dari tadi telinga kucing itu membuatku gagal terharu. Bayangkan saja, rambut Haru yang keren mirip idol, wajah v-line dengan mata biru tajam seperti dirinya memakai bando kucing!
Ditambah ia memakai seragam sekolah!
Ditambah lagi itu Haru!
Parah kalau seseorang tidak tertawa ketika melihatnya.
"Be-berisik, cewek-cewek itu memaksaku memakai ini!"
Wajah Haru memerah, astaga itu malah membuat segalanya menjadi lebih lucu.
"Hebat bukan Ra? Itu ide ku loh, kamu harus berterima kasih padaku."
Ailyn terihat bangga sekali, ku akui idenya memang hebat. Kapan lagi aku bisa melihat Haru dengan telinga kucing begitu?
Sambil tersenyum dan meredam tawa aku mengacungkan jempol kepada nya.
"Terima kasih Lyn, ini benar-benar kado terbaik!"
"Aku tahu persis apa yang disukai mu, bukan begitu Ra?"
Aku tidak sadar kalau Ailyn tersenyum penuh arti, aku terlanjur larut dalam pesta ini, menjawab spontan tanpa berpikir.
"Iya!"
Begitu kata tersebut keluar dari mulutku, semua orang memandang ke arah ku.
-next✨
YOU ARE READING
Job for Ghosts!
Fantasy"If i told you about the darkness inside of me, would you still look at me like I'm the sun? even though I'm actually a dark night, not a bright star or a shining sun? If i told you that i'm actually a cruel monster, would you still see me as a prin...
