Ungkapan lelah keberapa ini, senja? Ke 1 juta kali, kah? Hmmm, mungkin saja ya.
Gelap itu bukan berarti akhir kan, senja? Gelap yang kau serap sampai menyatu dengan uratmu itu bukan sekedar bias kesedihan kan?
Kokohnya tembok cina pun tak bisa diciptakan lurus, ada banyak liukan dan tanjakan. Jadi, it's okay to not be okay, senja.
Senja, kamu sempurna, tapi cobaan tidak memandang kesempurnaan. Kamu hidup artinya kamu siap untuk di uji, bukan?
Senja, rasa lelah itu wajar, kan? Superhero sekalipun juga bisa merasa lelah. Jadi, tenang saja, ya.
"Wulan, hari ini ada berapa warna dilangit?"
Lelaki tampan itu mendongakkan wajahnya, bersatu dengan sinar sore sang surya yang sedikit tidaknya mampu menenangkan hatinya yang resah.
"Uumm, aku rasa ada 6" Wanita yang duduk disampinya itu ikut mendongak mencari jawaban dari pertanyaan sederhana sang arunika.
Sore itu dilewatkan secara tenang dalam pandangan, meski didalam hati masing-masing dari mereka menyuarakan resah dan rasa ingin menyerah.
Bagi senja, sang arunika semesta yang hidupnya hanya ada warna hitam saja, hari ini terasa sama saja seperti hari-hari sebelumnya, monoton, kelam, gelap, dan menakutkan.
Kehilangan penglihatan itu menyedihkan, ada banyak hal yang ingin dilihat dan dipandang namun harus diurungkan.
"Jangan takut, senja. Tangan yang menggenggam tanganmu saat ini akan selalu menemanimu, memberi kehangatan disetiap garis dingin ditelapak putih ini, kamu jangan khawatir, ya."
Senja mengangguk, ia percaya pada wulan, wanita yang menemaninya selama bertahun-tahun ini, yang wujudnya hanya pernah senja lihat dalam mimpi.
"Terimakasih, lan. Ronamu yang tak terlihat saat ini akan selalu ku minta pada tuhan untuk diperlihatkan nanti, nanti di dimensi yang berbeda"
Wanita itu tersenyum manis, semanis gula jawa yang dicampur santan. Wulan memandang wajah senja yang dari tadi mendongakkan kepalanya. Wajah yang nyaris sempurna itu selalu mampu membuat wulan berdecak kagum, wulan berani bersumpah atas cintanya pada lelaki baik disebelahnya ini.
"Katamu, aku selalu datang dalam mimpimu, kan? Tidak perlu menunggu untuk dijemput ke dimensi lain, senja. Yang kamu lihat didalam mimpimu itu adalah aku"
"Lebih tepatnya, anggap saja aku kan maksudmu, lan?"
Senja terkekeh pelan, terdengar miris.
Inginnya senja adalah melihat wulan, bukan bayangan yang hadir didalam mimpinya setiap malam.
Senja bangun dari duduknya diikuti oleh wulan yang juga bangun dari duduknya.
Pandangan yang selalu kosong itu terarah lurus kedepan.
Kaki sang arunika itu melangkah pelan, mencoba menyapa setiap butiran debu dibawah sepatunya.
"Katamu, lupakan setiap hal yang membuatmu sedih, arunikamu tak boleh sedih kan, lan?"
Wulan mengangguk ribut menjawab pertanyaan senja, meski anggukan itu tidak akan pernah dilihat senja barang sedetik pun.
"Aku tidak akan pernah mengecewakan matahariku, lan. Kamu matahariku, jadi jika kamu tidak ingin melihatku sedih, maka aku tidak akan sedih"
Senja tersenyum simpul.
Selama ini, selalu wulan yang bertekad untuk tidak mengecewakannya, sekarang waktunya senja juga memiliki tekad itu.
Kekurangan yang terus diratapi hanya menghasilkan sedih dan keterpurukan, bukan?
Kekurangan yang senja miliki dianggap kelebihan oleh orang-orang baik disekelilingnya. Jadi, apa lagi alasan senja untuk bersedih?
Kata wulan, dibanding melihat setitik hitam dikertas putih, kenapa tidak kita lihat banyaknya bagian putih dikertas itu.
Satu kekurangan tidak pantas kita jadikan alasan untuk tidak bersyukur.
Biarkan keinginan senja untuk melihat langit orange menjadi sekedar keinginan.
Ingin ia kubur keinginan itu agar tidak ada lagi alasannya untuk bersedih.
Sekarang, cinta dari banyak orang akan ia pupuk untuk menjadi alasannya tetap bahagia.
Keluarganya, wulan, dan juga sahabat-sahabatnya akan selalu menjadi benih-benih yang akan ia pupuk dengan ulet dan telaten, bahagianya ada pada mereka.
Senja :
Wulan, sekarang aku abadikan kamu dikamera ini dulu ya. Nanti, kapan-kapan, disaat Tuhan mengizinkan, aku akan melihatnya secara langsung dengan dua kornea tak sempurna ini.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.