Happy reading 📚
🧸🧸🧸
Entah mengapa aku selalu ketakutan dan merasa was was bahkan gelisah ketika hendak datang kesekolah, rasanya berat bagiku menjalani aktivitas dan menuntut ilmu disana. Sekolah Menengah Atas Pelita namanya, biasa disebut SMA Pelita.
Ntahlah., Aku mulai berjalan sedikit lesu diarea koridor sekolah. Sepi, karena ini masih menunjukkan pukul 06.15 belum pukul setengah tujuh. Hari hari aku bersekolah disini rasanya tak nyaman karena harus menerima perlakuan buruk dari teman tamanku, terutama genk yang paling hits disekolah yaitu genk nya Merry anak kelas 12 yang hendak lulus tahun depan.
Merry beserta antek antek nya selalu membully ku kapan saja dan dimana saja, aku tak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga mereka tega membully ku.
Aku ingin berhenti dan pindah sekolah namun, aku tak punya uang. Selama ini aku hidup sendiri sebatang kara karena ibuku meninggal ketika aku berusia 14 tahun, yah bisa dibilang kematian ibuku baru saja karena penyakit gagal ginjal akut yang tak terobati. Sedangkan ayahku, aku sudah ditinggal beliau sejak umur 5 tahun karena kecanduan minuman alkohol.
Aku pun mulai bekerja ketika umurku 14 tahun, apa saja pekerjaan itu akan aku datangi, yang penting tidak perkerjaan yang hina. Bisa dibilang aku kerja serabutan, walaupun gajinya sedikit aku akan tetap giat mengais rezeki untuk bertahan hidup didunia yang kejam ini, aku memelihara seokor kucing yang kunamai Sisi. Kucing berwarna putih hitam itu sangat manis, dialah yang selalu menemani ku dikala aku sedang sedih maupun senang, dan dialah satu satunya yang kupunya saat ini.
Maka dari itu aku mencoba sabar dan ikhlas menghadapi semua perilaku pembully itu, hingga sampai aku lulus sekolah dengan nilai tertinggi.
Oh ya kita belum sapa menyapa, Nira Maria namaku sapa saja Nira.
Aku sudah duduk di bangku ku yang paling belakang, bangku yang kotor penuh tulisan dan sampah diloker meja.
Anak yatim piatu
Gak punya orang tua
Miskin
Udik
Jelek
Hahaha anak pembawa sial
Mati saja sana
Dasar sampah masyarakat
Begitulah kira kira cacian mereka yang tertuang kan dalam coretan mejaku. Segera aku ambil lap dan aku beri air supaya basah agar mudah menggosokkannya. Aku kembali kemeja dan ku bersihkan serta kugosok gosok mejanya. Lumayan pegal karena tulisannya banyak sekali, huhh...akhirnya bersih juga.
Selanjutnya aku buang semua sampah yang ada didalam loker meja dengan segera agar baunya tidak merembet kemana mana.
Kulihat jam sudah pukul 06.30 pantas sudah terlihat ramai para siswa yang hendak pergi ke kelas, dan bahkan ada beberapa siswa kelasku yang sudah duduk di bangkunya mentapku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Kenapa aku tidak menyadari kehadiran mereka ya? Ah aku mungkin terlalu sibuk dengan kegiatanku sehingga tidak menyadari keberadaan mereka.
Terdengar suara keras diarah pintu kelasku., Brakk..!! Suaranya cukup memekikkan telinga.
"Nira..!! Heh Nira!" Teriak Merry sang ketua genk yang kerap membullyku. Saat itu juga aku sudah memiliki firasat bahwa ia akan mengerjaiku lagi, huft..sabar Nira.
"Hay gadis pembawa sial beliin kita makan dong" Ucapnya dengan tampang kemayu.
"Huuh lapernih, mi ayam 1 nggak pakek sayur pedesnya dikit terus tambahin ayamnya ya hehehe, Lo apa Mer?" Kata Cintya antek nya Merry.
"Gue nasi goreng, nasi sama bumbu harus menyatu nggak boleh ada nasi yang terlalu lembek dan nggak boleh ada yang terlalu keras, nggak pedes, oh ya nggak boleh ada sayur gue alergi" Ucapnya panjang lebar, dengan tangan yang diletakkan di pipi sembari diketuk seperti orang yang sedang berpikir.
CZYTASZ
Victim of violence
Tajemnica / ThrillerSetiap hari kasus hilangnya siswa disekolah ku semakin bertambah, sebenarnya apa yang terjadi? dan kenapa aku selalu menjadi korban bully?
