"Lo beneran gak mau datang, Hel?" tanya Lia, wajahnya mencerminkan frustrasi yang mendalam.
Dia sudah berusaha membujukku untuk pergi ke acara pernikahan Gilbert. Bukan karena aku tidak ingin, tapi ada sesuatu yang menghalangiku.
"Lo tahu, kan, gue harus ke acara ulang tahunnya anak bos gue hari Sabtu ini," jawabku, mencoba terdengar meyakinkan. Jika bukan karena pekerjaan, lebih baik aku menghabiskan waktu di rumah saja.
"Yaelah, Hel! Acara anak bos lo jam 6 sore, dan nikahannya Gilbert jam 8 malam. Jangan bilang lo belum move on, ya?" Tuduhan itu menghantamku, dan alisnya terangkat, menantangku untuk jujur.
"Gak mungkin lah kalau gue belum move on," jawabku, meski dalam hati aku mulai ragu. Memang, cinta pertama itu sulit dilupakan, terutama cinta yang tak terbalas selama masa SMA. Tapi itu bukan alasan untuk terkurung dalam kenangan.
Lia mendengus, wajahnya semakin jengkel. "Gue gak dekat sama dia, Lia. Gue cuma kecipratan undangannya, kebetulan buat sekelas." Selama tiga tahun di SMA, kami tak pernah benar-benar dekat; bisa dihitung dengan jari berapa kali kami mengobrol.
Aku melihat Lia menghela napas berat. Sepertinya dia sudah lelah memaksaku. "Itu cuma alasan lo doang. Pokoknya, gue gak mau tahu. Sabtu ini, gue harus ketemu lo di acaranya Gilbert. Kalau enggak, gue bakal kasih tahu dia bahwa lo pernah suka sama dia selama 6 tahun dan belum move on," ancamnya sebelum pergi sambil membawa lukisannya yang harus segera dikirimkan.
Ancaman itu menggigit. Siapa juga yang belum move on? Sudah tujuh tahun sejak terakhir kali aku bertemu Gilbert; tidak mungkin aku masih menyukainya. Baiklah, aku harus segera menyelesaikan laporan ini sebelum manajer memintanya.
Happy birthday to you Happy birthday to you Happy birthday, happy birthday Happy birthday to you
Lagu itu samar-samar terdengar saat aku melamun, menikmati segelas cola di tengah keramaian anak-anak kecil yang merayakan ulang tahun anak bosku.
Ting!
Suara pesan masuk mengganggu lamunanku. Pesan dari Lia: "Tunjukkan kalau lo udah move on. Hari ini jam 8 malam."
Keningku berkerut. Memangnya harus kutunjukkan bahwa aku sudah tidak menyukainya lagi? Sambil menghela napas, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku memang sudah move on. Buat apa berharap pada cinta yang bertepuk sebelah tangan selama enam tahun?
Raguku mulai muncul. Mungkin aku harus datang, bukan untuk membuktikan kepada orang lain, tapi kepada diriku sendiri bahwa aku sudah melupakan Gilbert.
Dengan tekad, aku menemui bosku dan berpamitan bahwa aku harus ke pesta pernikahan sahabatku. Ya, aku berbohong agar tidak memberikan kesan buruk dengan meninggalkan acara bos di tengah jalan.
Aku melangkah masuk ke pesta pernikahan yang megah. Gaun putih sederhana melekat di tubuhku, dipadukan dengan heels putih untuk acara bertema night garden.
"Hai, datang juga lo!" seru Lia, langsung menghampiriku dan menarikku ke tempat duduk di mana teman-teman sekelas kami berkumpul.
Aku hanya tersenyum sebagai balasan. Di ruangan itu, banyak teman-teman SMA yang sudah lama tidak kutemui.
Pesta dimulai, kedua mempelai masuk diiringi musik romantis dan taburan bunga oleh pengiring mempelai. Di sana, Gilbert tampak sangat tampan dengan jas hitam dan senyum lebar yang merekah, menggandeng pengantin cantik di sampingnya.
Deg.
Rasa itu muncul kembali. Ternyata dugaan Lia benar; aku masih menyukainya. Kenyataan ini membuatku tersenyum miris—bukan untuk mereka yang bahagia, tetapi untuk diriku sendiri yang mungkin akan terus menyukainya. Mereka sangat serasi, pikirku.
Aku duduk meneguk segelas air jeruk nipis untuk menenangkan hati dan mulai berpikir, sampai kapan aku harus tersiksa? Mencintai seseorang selama enam tahun, bahkan mungkin lebih, tanpa pernah terbalas.
"Keren juga lo minum vodka langsung segelas," suara seorang teman membuatku terhenyak. Rasa pusing tiba-tiba menghantam kepalaku. Sayup-sayup aku mendengar seseorang berbicara padaku, mengatakan bahwa minuman yang kutenggak adalah vodka.
Sialan, siapa yang mengganti lime-ku dengan vodka? Kesadaranku mulai menghilang. Selamat, Helena, kamu mungkin akan mengacau di pesta pernikahan ini. Seseorang, tolong bawa aku pulang.
13-08-2016
Suara tawa membangunkanku, kepalaku terasa berat seperti dihantam. Ah, pesta pernikahan Gilbert. Aku teringat segalanya dan sontak membuka mata, menyadari bahwa aku mungkin telah mengacaukan acara tersebut karena segelas vodka.
Bus? Aku mengerutkan dahi, bingung mengapa aku berada di dalam bus. Aku melihat sekeliling; sederet anak SMA sedang bercanda, dan suasana tampak ceria.
Bagaimana aku bisa di sini? Apakah aku sedang berhalusinasi? Apakah efek alkohol masih mempengaruhiku? Berbagai pertanyaan membanjiri pikiranku.
Tanpa sengaja, aku melihat kaca bus di sampingku. Ya, itu aku! Tapi apa yang aku kenakan? Bukankah tadi aku mengenakan gaun? Sejak kapan gaun bisa berganti menjadi seragam SMA dengan sendirinya? Apa yang terjadi?
"Hel, lo gak mau turun dari bus?" Suara perempuan dari sebelahku membangunkanku dari lamunan.
Lia? Kenapa dia terlihat sangat muda? Yang lebih aneh, dia juga memakai seragam yang sama denganku.
"Woi, kenapa lo jadi aneh habis bangun tidur? Masih mimpi lo?" tanya Lia dengan raut wajah bingung, memperhatikan tingkahku.
Aku menatapnya dengan mata membulat. "Lia? Kenapa kita di sini? Pernikahan Gilbert gimana? Terus, kenapa kita jadi cosplay anak SMA gini?" tanyaku, kebingungan dengan semua yang terjadi.
Hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang di pernikahan cinta pertamaku, Gilbert, lalu meminum segelas vodka yang tidak disengaja. Ah, apa ini efek alkohol? Aku tidak terbiasa dengan alkohol, dan aku yakin ini adalah efek samping yang membuatku berhalusinasi.
"Hah? Lo gila ya? Hel, sadar deh. Kita lagi study tour! Bu Raini suruh kita masuk ke bagian produksinya. Lo mau di parkiran bis ini sendirian?" ucap Lia, suaranya jengkel.
Aku mencoba menenangkan diri, tapi kemudian mataku tertuju pada kalender di dinding pabrik.
Hah? Tahun 2016? Ini pasti tidak benar.
Ya Tuhan, kalau memang ini mimpi, jangan bangunkan aku dulu.
______________________________________________________________________
30 Juni 2021.
hai, semoga kalian suka ceritaku ya
FYI ini terinspirasi dari ceritaku hehehhee.
KAMU SEDANG MEMBACA
HELLENA
Teen Fictioncinta bertepuk sebelah tangan? pasti sudah biasa bagi sebagian orang hal ini dialami oleh helena, cintanya selama 6 tahun tidak pernah dibalas. tetapi bagaimana jadinya kalau kamu diberikan kesempatan kedua balik ke masa lalu mu agar cintamu terbal...
