Mengukir banyak momen indah di kehidupan seorang gadis berkepribadian cuek, lalu meninggalkan nya bertahun tahun lamanya hingga datang kembali menghantui lewat mimpi.
Keterlaluan? Takdir yang tersusun memang seperti itu, sulit melupakan nya yang tel...
"jika memulai sebuah cerita harus dengan prolog, maka izinkanlah aku memulai cerita kita dengan sebuah momen" -Adriaan Arev Allaric-
🍁🍁🍁
Hei, masih inget aku? Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingat aku?
"Siapa?"
Huh, cuek sekali. Tapi aku suka.
"Hah?"
Pandangan nya mulai memutih dan ia pun membuka matanya, lalu mengubah posisi nya yang semula berbaring menjadi duduk dengan wajah yang masih mengantuk.
"Tuan putri udah bangun?" Tanya Mika menyeloteh "kenapa?" Tanya Lia dengan wajah datar nya. "Pake nanya lagi, liat tuh udah jam berapa" ujar Mika pada dirinya.
Lalu manik matanya melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas rak buku milik nya, jarum jam pendek menunjukan angka 7 dan jarum yang panjang menunjukan angka 0.
"Ya udah gue mandi dulu" ucap Lia lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi "heh santai sekali anak itu, ini kan hari pertama masuk sekolah, awas aja kalo Ampe telat gara gara dia" gumam Mika
"Gue denger, Mik" sahut Lia dari arah pintu, "kuping lu ya emg bener bener" ucap Mika "Mulut Lo yang kalo ngomong suka nyaingin toa" celetuk Lia sambil melempar sebuah handuk bewarna ungu pastel pada wajah Mika.
Mika langsung menangkap sebuah handuk bewarna ungu pastel yang dilemparkan padanya sebelum melesat di wajah cantiknya, "gausah dilempar Liaa, lu kira ini bola basket lu lempar lempar?" Celoteh Mika.
Lia yang tak menggubris perkataan Mika pun semakin membuat Mika geram, Mika berjalan mengambil tas ransel nya yang bewarna hijau mint kemudian keluar dari kamar.
"Gue tunggu di teras, cepetan ya lu" ucap Mika kemudian berjalan dengan cepat menuruni satu persatu anak tangga.
🍁🍁🍁
Mading sekolah SMA Asteria menjadi pusat perkumpulan para siswa, pasalnya di Mading itu tertempel kertas putih bertuliskan pembagian kelas untuk anak kelas 10 yang baru masuk tahun ini.
Desak desakan dengan beberapa orang pun enggan di lakukan oleh gadis yang menggendong tas bewarna biru dongker di pundak kanannya, ia lebih memilih untuk menunggu sepupunya yang akan memberitahu kelas yang akan ditempati nya.
Bruk.
Seorang lelaki berpakaian rapih menabrak Lia yang sedari tadi hanya diam berdiri di jarak 1 meter dari Mading yang penuh dengan para siswa.
Lia yang terkejut karna ditabrak dari belakang itu pun mengeluarkan suara "jalan nya biasa aja, pake sopan santun" ujar Lia dan didengar oleh lelaki yang menabraknya.
"Permisi" ucap lelaki itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lia dan pergi menuju Mading untuk melakukan hal yang sama dengan siswa lain.
Lia mengerutkan dahinya, tidak suka dengan sikap lelaki tadi, tapi ya sudahlah lupakan. Ternyata menunggu itu memang tidak enak, Mika lama sekali walau hanya sekedar melihat nama dia dan dirinya yang tertulis di kertas putih yang tertempel di Mading sekolah.
Sepertinya kesabaran Lia untuk menunggu Mika sudah habis, lalu ia berjalan ke mendekati Mading dan berdehem, "ekhem"
Semua siswa yang berkumpul disana segera menoleh ke arah Lia "awas" usir Lia "kalo mau liat ya harus rebutan juga dong kayak gini, enak aja lu usir usir gue" ucap salah satu siswa dengan manik mata yang ditatap oleh Lia "gue bilang AWAS" ucap Lia sambil menekankan kata awas.
Wajah Lia yang begitu datar malah meyakinkan para siswa untuk menyingkir dari hadapan Gadis itu, lalu Lia mendekati Mading dan mencari namanya yang tertulis di absen nomor 38.
"IPA 2?" Batin Lia dan lanjut mencari nama sepupunya, ya siapa lagi kalau bukan Mika. "IPS 3?" Batin Lia lagi lalu berbalik badan dan menjauhi Mading untuk mencari sepupunya.
"Liaa" suara yang memanggil namanya itu berasal dari arah belakang, Lia pun menoleh ke arah suara. "Mik"
"Liaa, susah banget sumpah cuma buat liat Mading doang, desek desekan huh untung gue gak sesak napas" celetuk Mika "IPS 3, kelas Lo" ucap Lia
"Lah kok? Lu bisa tau?" Tanya Mika heran karena dirinya saja yang berdesak desakan sedari tadi tidak tahu kelas nya, sedangkan Lia yang hanya berdiri di dekat tiang penyangga bangunan sekolah malah tau? Mustahil.
"Lo abis dari mana?" Tanya Lia balik "hehe, dari toilet" cengir Mika "sumpah li, gue tadi udah ke desek org sampe kebelet jadi gue ke toilet dulu hehe" sambung Mika sambil mengangkat kedua jari tangan kanannya membentuk V.
"Gue kelas IPA 2, lu kesana aja kalo nyari gue" ucap Lia "okeh siap!" Sahut Mika "ya udah gue mau nyari kelas gue dulu ya, lu juga kan?" Tanya Mika dan diangguki oleh Lia.
🍁🍁🍁
Ruangan kelas dengan dinding bewarna putih dan pintunya yang bewarna hitam, ditambah dengan tulisan IPA 2 yang tertempel di depan pintu
Semua siswa duduk dengan rapih ditempat duduknya masing masing, kecuali Lia. "Itu tempat gue" ucap Lia "Gue pengen duduk disinii, ayolah boleh ya" "Gue duluan disini" ucap Lia.
"Lo kan cewek, ngalah dikit lah" "Harusnya cowo yang ngalah" bantah Lia. "T-tpi gue mau duduk deket jendelaaa" "Siapa cepat dia dapat" ujar Lia "Ayolah please, ya boleh ya"
"Gak" ucap Lia "Hey, cantik cantik ga boleh pelit" "Gue ga suka digombalin" ucap Lia lagi "Dih cewek aneh" Lia hanya terdiam, lelaki yang menandai teman sebangkunya ini sungguh menyebalkan.
"Lo beruntung banget bisa sebangku sama gue," Lia mengerutkan dahi nya tanpa menoleh ke arah lelaki disampingnya, lelaki itu tau bahwa Lia keheranan.
"Karna gue ganteng, jadi Lo beruntung" "Terserah Lo" ujar Lia membalas. Bukan apa apa, pasalnya ia kasihan kalau tidak membalas lelaki itu, nanti lelaki itu akan jadi kacang.
"Huh cuek banget" "Tapi gue suka" bisik nya
Membuat Lia mematung dengan perkataan lelaki itu, bukan karna tersipu malu atau salah tingkah. Tapi, perkataan itu, mengingatkan Lia dgn bayang bayang org yang sering menghantuinya lewat mimpi.
Orang yang selalu mengganggunya setiap tidur di alam bawah sadar, meski suaranya berbeda, tapi kenapa bisa kebetulan.
🍁🍁🍁
Delia Stephanie alias Lia
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.