Prolog

444 43 6
                                        

Arlita Naraya Tirta

Rutinitas sehari-hariku sering dibilang membosankan oleh banyak orang, termasuk teman-temanku. Bagaimana tidak, setelah 5 hari bekerja dari pukul 8 hingga 5 sore, tak membuatku berkeinginan berlibur atau sejenak keluar untuk menenangkan pikiran di saat weekend tiba. Tidak, aku lebih menyukai hari mingguku ku isi dengan bermalas-malasan di kamar kos sembari menonton serial Netflix ataupun drama Korea.

Beberapa kali temanku mengenalkan seorang pria untuk sekedar mewarnai hidupku yang membosankan itu, namun aku tak pernah menanggapinya lebih. Meskipun terkadang aku yakin jika sang pria mengharap lebih dari itu dan saat itulah aku akan mundur dengan berbagai alasan. Aku hanya merasa jika belum saatnya aku berada dalam sebuah hubungan. Begitulah prinsipku.

Hingga aku bertemu seorang pria yang membuatku terpukau saat pertama kali mendengar suaranya. Entah mengapa, aku menyukai suaranya. Lalu pertemuan-pertemuan lainnya yang tak ku sengaja terjadi membuatku menaruh hati pada pria itu. Lucu memang, aku yang berprinsip tak ingin menjalin hubungan dengan pria saat itu, rubuh begitu saja ketika menerima segala tindakan yang ia lakukan untukku. Atau hatiku saja yang memang terlalu mudah untuk diluluhkan? Dalih tak ingin mencinta, hanya alibi saja, karena tak pernah ada lelaki yang sepertinya sebelumnya.

***

Arnanda Narendra Bimana

Di umurku yang sudah menginjak 35 membuatku selalu dikejar oleh pertanyaan yang muak ku dengar. Segala ide perjodohan yang keluargaku dan kawan-kawanku atur tak ada satupun yang membuatku berkeinginan untuk mengenal lebih jauh wanita-wanita itu. Karena hatiku mengatakan, mereka bukan yang aku inginkan.

Hingga aku mendapat tugas menangani kantor cabang di Bandung. Setidaknya aku bisa terhindar dari perjodohan lainnya. Merasa sedikit bebas, aku menghubungi sepupu-ku yang bekerja di salah satu perusahaan milik negara di Bandung. Karena lama tidak bertemu, aku mengunjunginya di tempat dia kost. Lalu seorang perempuan yang bukan sepupuku menyambutku datang.

Penampilan ala kadarnya itu membuatku terpana, aku tak pernah melihat perempuan yang seperti itu. Daster sepaha dengan warna yang sudah pudar, wajah yang tak dihiasi make up, dan dengan rambut yang asal-asalan ia cepol. Namun, entah parfum apa yang ia pakai hingga tercium olehku.

Lalu untuk pertama kalinya sejak sekian lama, hatiku berdebar mendengar perempuan yang tak ku ketahui namanya itu memanggilku dengan "mas". Hatiku tergelitik ingin mengenalnya lebih jauh. Tidak, aku ingin memilikinya saat itu juga. Konyol memang, namun aku tak mampu membohongi diriku.

*****






Ada yang tertarik dengan cerita ini? Kalau iya like dan komen ya. Kalau banyak yang exited, bakal langsung ku publish 4 part sekaligus.

Have a nice day:)

Nothing, But You...Stories to obsess over. Discover now