Mana yang lebih bodoh? Mati kelaparan dan kehausan, atau mati di tangan psikopat yang sengaja kau biarkan berkeliaran di sekitarmu?
Oh, bahkan tanpa kedua pilihan itu pun Rubby tetap merasa bodoh karena berakhir di tempat ini. Dia dikurung di ruang bawah tanah dengan tangan dan kaki terikat, bersama seorang mayat dari pria yang tidak dia kenal. Parahnya lagi, orang yang mengurungnya adalah seseorang yang sudah dia curigai sejak pertama bertemu. Seharusnya Rubby menghindar dari orang itu jika dia memiliki sedikit kepintaran di otaknya. Tapi dia malah mengabaikan orang itu begitu saja.
Dan di sinilah dia sekarang. Terjebak selama berhari-hari di ruang bawah tanah tanpa mampu menelan setetes air pun. Hei, bagaimana dia bisa makan di samping mayat penuh darah yang mulai membusuk? Untung saja sebelum diculik dia sudah mengisi perutnya. Setidaknya dia bisa bertahan beberapa hari lagi, sampai seseorang sadar dia hilang, lalu mencarinya.
Bibir pucat Rubby membentuk seringai. "Diculik apanya?"
Tidak bisa dibilang penculikan jika kau sendiri yang menyerahkan diri untuk dibawa pulang oleh sang penculik. Itulah kenapa Rubby adalah gadis bodoh.
"Halo."
Rubby sempat mengira mayat di sampingnya mengajaknya bicara. Saking fokusnya melamun, sampai tidak sadar sang penculik datang.
Wajah tampan tak tersentuh dosa itu sempat mengecoh Rubby. Kalau saja ada sedikit cacat pada bentuk fisik pria itu, Rubby pasti tidak akan ragu menyebutnya kriminal. Jangan menyalahkan cara berpikirnya. Dia hanya memiliki cara berpikir yang sama dengan kebanyakan orang. Lagipula sudah disebutkan berkali-kali kalau dia bodoh.
"Apa kau tau ini hari ke berapa kau menginap di sini?" Tanya sang penculik, ralat, Rubby lebih suka mengatainya psikopat, sambil berjongkok dan tersenyum di depan Rubby.
Rubby tidak bisa seaktif waktu pertama kali sadar dan menyadari dirinya diikat di ruangan gelap berbau darah. Waktu itu dia terus berteriak seakan tidak ada hari esok, dan berulang kali memaki psikopat yang sesekali datang. Tapi sekarang dia hanya bisa memandang benci psikopat itu dengan mata sayunya.
Pria dengan kaki jenjang itu mengubah posisi jongkoknya menjadi duduk di lantai. Lagaknya seperti baru mendengar sebuah lelucon. "Kenapa aku bertanya? Sinar matahari saja tidak terlihat dari sini."
Mulut Rubby bergetar karena marah. Bahkan tangannya yang lemah seakan mendapat energi dari kemarahannya hingga mampu mengepal kuat. Andai saja tangannya bebas. Ingin rasanya memukul wajah tampan psikopat itu. Meskipun setelahnya dia akan mati, Rubby tetap ingin melakukannya. Toh, dia pun akhirnya akan mati hanya dengan berdiam diri di sini. Dia berjanji akan mati dengan tenang setelah melayangkan satu pukulan di rahang psikopat itu.
"Ini adalah hari kelimamu di sini, dan kau masih hidup tanpa makan ataupun minum!" Psikopat itu bertepuk tangan. "Aku tidak menyangka, tenyata kau sangat gigih."
Menyadari Rubby tidak bicara sama sekali, psikopat itu mengerutkan dahi. "Eh? Aku tidak ingat pernah menyumpal mulutmu dengan lem. Apa sudah kulakukan?"
Tidak ada respon satupun dari Rubby. Gadis malang itu menutup mulutnya rapat-rapat, masih dengan tatapan permusuhan yang terlihat jelas tertuju pada sang psikopat.
"Katakan sesuatu! Jangan diam saja!" Psikopat itu merajuk seperti anak kecil.
Rubby masih bungkam.
Kesal, psikopat itu mengambil satu dari puluhan pisau yang tertempel di dinding. Tangan kekarnya menarik pergelangan Rubby yang terikat, lalu memotong tali itu dengan sekali tebas. Menunjukkan seberapa tajam pisau itu.
Bisa saja itu menjadi kesempatan bagi Rubby untuk melarikan diri. Tinggal merebut pisau tepat di hadapannya, menusuk sang psikopat, melepaskan tali di kakinya, lalu mencari jalan keluar. Tapi bahkan meskipun kedua kaki Rubby dilepaskan sekalipun, gadis itu tidak akan mampu untuk sekedar berdiri. Kini tangannya hanya terkulai lemas di lantai.
"Kubilang bicara!! Atau benda ini akan menghilangkan satu bagian tubuhmu." Ancaman itu bergema ke seluruh penjuru ruangan yang terasa pengap.
Bukannya menuruti sang psikopat untuk bicara, Rubby malah menutup matanya perlahan. Napasnya semakin jarang dan tubuhnya terasa semakin dingin.
Tidak. Bukan ini yang diinginkan psikopat itu. Dia hanya terlalu sibuk mengurus hal-hal di luar sana hingga tidak ada waktu yang cukup untuk bermain dengan Rubby. Kenapa saat dia punya waktu, Rubby malah sekarat? Tidak begini rencananya.
"Harusnya kau turuti ucapanku, makan dengan baik selagi aku masih memberikannya padamu. Maka kau tidak akan kehilangan kesempatan untuk kabur seperti sekarang."
Psikopat itu diam-diam ingin Rubby memohon untuk diberi makan. Ayolah, dia ingin bermain! Dia tidak repot-repot menggotong tubuh Rubby sejauh tiga blok hanya untuk melihatnya mati tanpa melakukan apa-apa.
Sayangnya, reaksi Rubby sama sekali berbeda dengan apa yang psikopat itu inginkan. Meski terlihat lemah dan sangat tipis, terlihat bibir pucat itu tertarik ke samping. Rubby tersenyum. Kemudian tubuhnya ambruk ke lantai berlumut yang dingin. Dia sudah memutuskan. Menyerah. Opsi mati kelaparan terdengar lebih mudah untuk dilalui. Dia tau kematian dari psikopat pastilah jauh menyakitkan. Mati kelaparan adalah cara paling mudah untuk bebas dari tangan psikopat itu. Dengan begitu tidak ada penyiksaan.
"Hei, aku baru mengurungmu lima hari. Jangan menyerah, kau harus punya semangat hidup. Pikirkan..." Psikopat itu berhenti, berpikir. "Sial. Siapa yang paling cocok untuk menjadi alasan kau hidup?"
"Raiziel..." Gumam Rubby pelan sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang.
☠️☠️☠️
YOU ARE READING
Dawn Killer
Mystery / ThrillerRubby George Clooney harus terus berurusan dengan para kriminal karena kebiasaannya yang suka ikut campur. Meski berusaha acuh, gadis itu pada akhirnya akan selalu masuk dalam masalah yang ada di depannya. Berbekal identitas anonim, Rubby membantu p...
