BREAKING NEWS
Penyanyi solo yang berada di bawah naungan State Entertaiment ini yaitu Seira Claine diketahui masuk ke dalam salah satu grup pengedar narkoba....
"Bisa tolong hapus.." seorang gadis muda ini memohon sambal merintih dihadapanku. Hah..merepotkan.
"Saya tidak menyangka anda sendiri yang datang ke sini, dari pihak direktur tidak bergerak ya?" Aku tersenyum, mencoba bersikap tenang layaknya laki-laki yang sedang mengurusi satu bocah yang sedari tadi menangis.
"Aku mohon.." ucapnya sambal berjongkok di depan meja ku, sampai aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku hanya melirik sedikit, kenapa aku merasa iba? Aneh.
"Bangun" satu kata yang kuucapkan sepertinya tidak mempan.
"Hah..bangun, anda menganggu jam kerja saya" Aku mengangkat tubuh kecil itu, ringan, itu yang ku pikirkan.
"Tidak seribet ini harusnya, beri saya uang, maka akan selesai" kalimat deal ku. Yang ku ingat saat itu aku berdoa semoga cepat selesai.
"Berapa?' tanya nya. "ada di surat perjanjian"
"Saya bertanya karena tidak mampu segitu", aku hanya ber'oh' saat itu "jika begitu semampu anda" bodoh. Kenapa bicara begitu? Rugi.
"Sudah saya transfer, terimakasih. Maaf mengganggu waktunya." Seira menundukkan wajahnya sambil keluar ruang kerjaku. Gadis yang sopan, dan...malang?
Yang kalian baca itu adalah transaksi ku dengan penyanyi Seira Claine itu, pekerjaan di dunia entertainment itu sangat gelap, termasuk medianya. Mereka memeras uang hasil jepretan tidak sopan mereka, tidak semua tapi kebanyakan seperti itu, dan yah salah satunya perusahaan ku ini.
Sekedar info saja, nama perusahaan media ku ini cukup terkenal dan terpercaya, termasuk artikel di atas tadi. Benar, Seira masuk grup itu, dia seperti nya tertarik untuk membelinya. Di usianya yang masih 22 tahun itu. Lebih anehnya agensi nya sama sekali tidak membantu.
"Rugi deh Kael Kael.." ucapku sambil melihat surat perjanjian tadi.
Setelah kejadian itu, aku terus terfikir oleh Seira. Apa aku merasa iba? That's weird.. cause I never feel like that.
Kehidupan masa lalu ku yang cukup suram membuatku enggan untuk berbuat baik, aku orang yang jahat. Tidak berarti membunuh, hanya saja lebih tidak peduli.
Aku berniat keluar karena memang sudah malam, ku buka pintu ruangan ku, ada seorang ibu paruh baya di hadapanku dengan tatapan marah.
PLAK
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kanan ku. Orang gila.
"ANAK GAK TAHU DIRI, UDAH 3 BULAN GA NGASI DUIT, MASIH UNTUNG DI BESARIN SAMPE SEGEDE GINI!" ibu tidak tahu diri itu meneriaki ku. "berisik, keluar." Ketusku sambil menyeka darah di ujung bibirku.
"KASI DUIT GA?!" ucapnya sambil mengambil tas ku dan membuang semua isinya.
"Mana dompetmu?!" tanya nya sambil berteriak. Aku tidak peduli, ku tekan tombol darurat di samping saklar lampu, dan beberapa saat kemudian satpam datang.
"Jangan bolehin masuk lagi." Perintahku.
"Siap pak" saut mereka bersama sambil menyeret ibu tua itu keluar.
Keadaan lantai di sini berantakan. Aku tidak peduli, ku tinggalkan begitu saja. Mau bagaimana lagi, toh besok akan dibersihkan.
Aku melajukan mobilku ke sembarangan arah, ntah kemana aku pun tak tahu. "Ah ke tempat ini.." ku pandangi bangunan itu, berfikir, menentukan haruskah aku masuk atau tidak. "Sekali ini aja deh." Final ku.
Melepaskan jas dan dasi ku, menyisakan kemeja putih saja. Cukup menawan untuk di lihat.
Aku masuk ke dalamnya melihat manusia yang sedang menikmati jahatnya malam dunia ini.
Ada yang hanya minum, ada yang sudah gila dengan pasangannya, ada yang merasa dirinya bebas dengan menari seperti itu, dan tak lupa lampu disco yang senantiasa mengisi setiap sudut ruangan.
"Weh Kael, join sini!" panggil salah satu kenalanku. Aku menghampiri segerumbulan manusia itu sambil tersenyum.
"Gimana hari ini?" tanya mereka, "biasa sih, nambah terus, meskipun ga banyak" ucapku santai sedikit sombong, mereka tampak bersorak sambil tertawa menanggapi perkataanku.
"By the way, whats wrong with your face?" tanya salah satu dari mereka. "Ah..no problem, cumin kena tampar." Aku sedikit teringat tadi, sedikit perih. "Siapa nih berani ganggu sultan kita?" mereka membuat candaan untuk menghiburku. Aku menghargainya dengan tertawa, mereka tidak jahat tapi juga tidak baik.
Aku melanjutkan minum sambil melihat sekeliling, mencegah agar aku tidak mabuk. Aku tipe yang kuat minum, sejauh ini tidak pernah mabuk selain di rumah. Karena aku tidak akn tahu apa yang terjadi denganku nantinya, jadi lebih baik mabuk di rumah.
Tiba-tiba saja pandanganku terfokuskan ke salah satu seorang pria di sana. "Dia siapa? Kaya pernah lihat. Orang terkenal?" tanya ku. "Steven Arthur kan? Aktor yang lagi naik daun" sahut salah satu dari mereka.
"gila sih ya, enak kali ya punya wajah kek gitu, lihat aja ceweknya banyak" salah satu dari mereka berkomentar lagi. "Ahaha yang baju kuning mantep tuh" ucap lainnya lagi.
Mereka meneruskan perbincangan yang ew mesum mereka. Meski pun begini aku sangat menghargai derajat wanita. Karena itu bahkan aku tidak membalas perlakuan ibu ku tadi.
Aku larut sedniri pada pikiran random ku sendiri. Ingin Kembali ke rumah tapi ah, tidak perlu. Malas, tapi di sini aku juga membuang waktu.
Ku putuskan untuk pulang. Berpamitan dengan yang lain meskipun mereka tampak kecewa, padahal ini sudah pukul 2 pagi.
Melajukan mobilku, ku buka jendela mobil, mendengarkan suara-suara tenang dari ponselku yang memutar piano collections yang sengaja ku buat playlist sendiri.
Angin menerpa surai hitamku, banyak yang terjadi hari ini.
Memperhatikan jalan meskipun aku tahu tidak ada yang berubah.
Ah- maaf, ralat.
Ada caffe yang baru di buka dekat apartemen ku.
Ya itu saja, perubahannya. Tapi siapa sangka dari caffe itu terjadi banyak hal yang mengejutkan nantinya.
***
Matahari terbit, aku membuka kulkas mencari makanan untuk ku nikmati. Tapi tidak ada, kemana semua? Haruskah aku pergi belanja hari ini?
Lalu aku mengingat ada caffe yang baru opening kemarin malam. Baik, mari kesana.
Aku masuk ke dalam caffe itu, tercium bau wangi roti-roti yang baru dipanggang. Para pelayan menyambutku.
Aku memesan satu kopi dan sandwich untuk sarapan. Selagi menunggu makanan datang, aku bermain dengan ponselku, biar kelihata sibuk saja. Karena jujur, tidak ada yang special dengan notifikasi di hp ku.
Berniat iseng, aku membuka twitter Seira, hanya untuk memastikan saja. Ingat? Oke memastikan, sudah ku bold okay? Karena kemarin Seira sempat menangis di hadapanku. Ku harap dia baik-baik saja.
Ku lihat Seira baru mengunggah foto selfie nya dengan caption "weekend I'm coming" sambil tersenyum. "manis.. " ucap ku pelan tidak sadar.
"1 caffe latte sama 1 sandwich ya" ucap pelayan yang tidak terdengar asing bagiku.
Aku reflek langsung menoleh ke arah pelayanan itu dan aku terkejut saat menyadari bahwa itu adalah Seira Claine.
Kebetulan yang aneh bukan? Apa yang dia lakukan di sini? Dan kenapa harus tepat ketika aku melihat sosial media nya?
••••
Hai? Ini East, iya timur.
Ini cuman tulisan biasa aja, ga ngarep apa pun juga. But I'll trying to make it ringan banget and alurnya cepet so don't worry.
See ya, bestie!
YOU ARE READING
HER (¹)
Teen Fictionit's all about her, the only one person who did 'that' to me. The only one, yes she is. Just her.
