Dia menaruh bucket bunga digenggamannya disebelah nisan, Jihoon mengelus pelan nisan tersebut lalu beralih mengelus kecil tanah makam itu.

"Udah lama, tapi kenapa gue gak bisa ikhlasin lo sih?" Gerutunya.

Setelah sekitar hampir 15 menit an, Jihoon beranjak dari tempatnya. Dia mengedarkan pandangannya kearah lain, enggan menatap makam didepannya.

"Gue pergi dulu, kasian Mashiho lama nunggu di mobil"

Jihoon melambaikan tangannya kemudian pergi darisana, sesampainya di parkiran, dia langsung saja masuk kedalam mobilnya.

"Lama lo nunggu?" Tanya Jihoon, Mashiho menggeleng lalu menutup ponselnya.

"Kak Jihoon ngapain sih kesini?" Tanya Mashiho, heran aja Jihoon sore-sore ke makam, mana ngajak-ngajak dia lagi.

"Gak papa sih, gabut aja." Jawab Jihoon sambil terkekeh.

Mashiho mendengus kesal, dia melirik Jihoon yang sudah menyalakan mobil dan menancapkan gas.

'Harus buat laporan nih ke Jaehyuk, Kak Jihoon agak mencurigakan,'  batin Mashiho.

Jadi tadi itu Mashiho mau pergi ke Gramedia buat beli buku, dia ketemu Jihoon yang lagi ngomel-ngomelin mobilnya sendiri di parkiran kayak orang gila, usut punya usut ternyata bensinnya abis dan dia gak punya uang buat beli.

Karena Mashiho ini orangnya baik hati dan tidak sombong, dia minjemin duitnya ke Jihoon, hoo tapi itu semua tidak gratis.

Tapi ya mau gimana lagi, yakali Jihoon mau dorong-dorong mobilnya ampe rumah, malu-maluin aja, lagian dia juga mana kuat.

"Mau beli apa?" Tanya Jihoon.

"Buku psikologi, disuruh sama dosen, katanya bukunya cuma ada di gramed, soalnya itu limited edition." Jawab Mashiho.

"Oh"

Mashiho sebenarnya rada bingung sih, Jihoon kan agak gak suka sama dia karena mungkin dia keliatan mencurigakan, sama kayak Doyoung. Tapi sekarang Jihoon malah keliatan santai aja sama dia, Mashiho jadi takut Jihoon punya penyakit yang aneh-aneh.

"Kak Jihoon, kemaren pas gue mau jenguk kak Junkyu, lo kok gak jadi masuk dan malah diem didepan pintu? Mana tiba-tiba pergi gitu aja lagi"

"Hah? Ehmm... Itu... G-gue tiba-tiba aja baru inget kalau ada kelas"

"Ohh, oke"

'Tidak semudah itu ferguso, gue gak percaya, tapi akting aja dulu,'  Batin Mashiho.

Tanpa Mashiho sadari, Jihoon mencoba menetralkan detak jantung yang secara tiba-tiba berdetak kencang.

'Santai aja Jihoon, santai. Anggap aja gak terjadi apa-apa,'  Batin Jihoon.

;grudge

"Jaehyuk! Woi Jaehyuk! Anjir enggak denger, WOI JAMET BUDEK!"

Heeseung mendengus ketika melihat Jaehyuk yang celingak-celinguk mencari orang yang memanggil namanya. Heeseung berjalan kearah Jaehyuk kemudian memukul kepalanya cepat.

"Gue panggilin daritadi juga." Ujarnya kesal.

Jaehyuk hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu terkekeh, "Kenapa?"

"Gimana? Lusa lo ikut?"

"Winter ikut gak?" Tanya Jaehyuk, Heeseung yang satu jurusan dengan Winter memutar bola matanya bosan.

"Ikut, tapi sama pacarnya"

Jaehyuk cemberut, kenapa sih kisah asmaranya itu jelek banget, dulu dia pernah ngegebet anak Hukum, eh ternyata orangnya udah punya suami, terus Jaehyuk juga pernah nembak anak Psikologi, tapi ditolak gara-gara tingkah laku Jaehyuk katanya kayak orang gak normal, sekarang si Winter yang malah udah punya pacar.

Kasian Jaehyuk.

"Yaudah deh, gue juga ikut. Sekalian cari-cari, siapa tau ada yang nyantol nanti"

Tapi ya walaupun kasian, Jaehyuk ini orangnya gampang move on, emang sifat buaya nya itu udah memasuki stadium akhir. Akut parah.

"Hmm... Nghokey." Heeseung memberikan jempolnya lalu berjalan meninggalkan Jaehyuk, Jaehyuk sendiri lebih memutuskan untuk pergi kearah kantin, seperti biasa dia cuma ngambil susu pisang sama roti buat ngeganjel perutnya.

Suara dering telepon ngebuat Jaehyuk mau gak mau nunda kegiatannya tadi, dia ngambil ponselnya disaku celananya. Iya, hp Jaehyuk udah bener, dia tadinya mau benerin di counter gitu, tapi karena temennya ada yang bisa benerin hp, jadinya dia benerin di temennya aja.

Katanya sih, harga temen, pasti lebih murah lah, kan dikasih diskon.

Jaehyuk mengangkat panggilan tersebut.

"Apa?"

"Rekamannya udah gue kirim"

"Jadi bener?"

"Iya, satu lagi. Nanti lo yang dateng"

"Sip"

Jaehyuk mematikan panggilan tersebut, dia memakan rotinya dengan santai sambil memikirkan rencananya kedepan.

"Semoga berhasil." Harapnya.

;grudge

double up ga nih?

grudge | treasure ✔Où les histoires vivent. Découvrez maintenant