Bagian 2: Berbeda

3.1K 381 26
                                    

"Good evening, sir. Welcome to The Aston Sentul Hotel. How can I help you?"

"Saya sudah memesan kamar melalui ticket.com. Suite room dengan double bed atas nama Jonathan Robsahm."

"Pffft!" Haruka tidak kuasa menahan tawa. Jelas sekali ia tergelitik karena sudah seringkali menyaksikan ketidaktahuan orang-orang akan kemampuanku dalam berbahasa Indonesia.

"Ah... baik. Sebentar ya pak." Mata wanita penerima tamu itu sedikit membelalang lalu berusaha seprofesional mungkin menyembunyikan ekspresi kagetnya. Ia cepat beralih memandang layar monitor dan mencari namaku.

"Baik, saya ulangi ya pak. Satu suite room dengan double bed atas nama Pak Jonathan Robsahm?"

"Betul."

"Tunggu tunggu. Kamu pesan suite room...?" Haruka yang tadinya tertawa seketika memandangku dengan ekspresi serius.

"Iya. Supaya lebih romantis dan cocok juga buat kamu yang mager ke luar kamar. Kenapa?" Tanyaku balik.

"Gapapa." Haruka menggeleng-gelengkan kepalanya bak anak kecil. Bibirnya termanyun.

"Kamu mau kamar yang lain?" Tanyaku lagi memastikan.

"Nggak nggak. Apa yang kamu pesan, kita ambilnya itu!" Seru Haruka sambil menjentakan jarinya di atas meja resepsi. "Btw aku nggak mau tahu harganya. Aku mau tutup kuping dulu."

Aku hanya bisa menahan tawa. Haruka. Dia memang selalu suka seperti itu.

***

"Susah nggak Jo jadi bule di Negara Rumpun Melayu begini?"

Setelah sampai di kamar hotel, Haruka langsung berceletuk dengan sebuah pertanyaan lucu.

"Nggak." Jawabku tanpa berpikir panjang. "Malah aku merasa lebih baik, meskipun orang-orang suka salah sangka kalau aku berasal dari Inggris atau Amerika."

Mata heterokromia biru hijau, rambut coklat keemasan, hidung mancung, kulit putih kemerahan, dan berpostur tubuh tinggi adalah apa yang dikenali orang-orang di sekitar terhadapku. Sebagai informasi, aku berasal dari salah satu negeri Nordik, Norwegia.

Politik apertheid di Afrika tahun 1948 adalah pemicu penyebarluasan rasialisme anti-hitam sekaligus supremasi dari kaum kulit putih. Meskipun politik tersebut sudah dimusnahkan sejak bertahun-tahun silam, di abad maju seperti sekarang ini, orang-orang bermental rasis tetap saja masih mengakari kehidupan masyarakat di negara mana pun, termasuk Indonesia.

Tidak jarang aku menemukan orang-orang yang merasa inferior ketika berada di dekatku. Rasanya seperti... mereka memujaku. Tapi Haruka adalah satu dari segelintir orang yang mengenalku karena aku adalah Jonathan, aku adalah aku. Dan itu adalah alasan kedua kenapa aku mencintainya.

"Kalian punya wajah yang sama. Ras kaukasoid memang tipikal." Celetuk wanita berambut hitam logam itu sembari melepas jaket denim dari tubuhnya.

"Bagaimana denganmu, nona keturunan Jepang? Sulit beradaptasi dengan lingkungan...?" Godaku sembari meninggikan alis kanan. Kusampirkan jaket parka hitamku ke gantungan tiang berdiri di dekat pintu.

"Pertama, aku keturunan Jepang generasi ketiga jadi 75 persen darahku adalah dari genetik orang Indonesia. Kedua, aku hanya nggak suka bergaul dengan banyak orang. Dan ketiga, Chitra adalah nama asliku." Sanggah Haruka seraya menatapku.

Ia berjalan mendekat dan berjinjit. Mendongak ke arah wajahku.

"Ini sudah malam dan kamu bertambah tinggi."

"Itu karena kamu sudah melepas sepatumu," Ucapku sembari menyunggingkan senyum. "Tinggimu hanya sebatas pundakku."

"Hei! Itu nggak benar! Aku setengah dari lehermu!" Ujar Haruka sedikit kesal.

HaruJoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang