cerita 1

12 3 0
                                        

Langkah pemuda berjaket jeans itu lebar-lebar. ia tak peduli, seolah tuli dengan suara teriakan yang memanggilnya sedari tadi.

"Tunggu, hei! jangan pergi!" teriak seorang gadis berambut nyaris sebahu dan bergelang dengan bandul berbentuk kuda Nil. jangan tanya seberapa cantik gadis itu.

Yarasa Indriana Luvi. gadis berdarah tiga negara. Jepang, Indonesia, dan Turki. salah satu gadis yang berhasil memporak-porandakan hati siswa peserta MOS minggu lalu.

bagaimana tidak, kulitnya yang putih halus, wajahnya yang cantik dan imut, dan daya tarik iris mata yang berwarna sebiru laut. tidak heran jika Aca-menjadi topik perbincangan se-SMA Tirta Buana.

Langkah kaki Aca semakin cepat mengejar sosok yang berada jauh darinya. Harus kalian tahu, tubuhnya bukan tipe ideal seperti model. Dia pendek.

"Tunggu!!" percuma, sosok itu sudah lebih dulu hilang di belokan menuju kelas IPA 3. Aca berdecak, kalau tetap memaksa mengekor, dia akan tertangkap basah oleh guru piket dan hukuman menguras tangki air akan menanti.

Aca menghela napas pendek, matanya beralih pada langit yang berwarna biru cerah. Cowok itu, adalah potongan kisahnya yang hilang, dan Aca ingin kisahnya menjadi lengkap dengan hadirnya seorang pemuda ketus dalam garis takdirnya.

🐻

Pak Alvin baru saja menerangkan materi logaritma sebelum pria berusia sekitar 30 tahun itu pamit. kelas yang sebelumnya sepi kini mulai berisik. Para murid cowok mulai berkerumun menjadi satu kelompok untuk bermain game online yang baru populer. berbeda dengan murid cewek yang berkumpul untuk membahas kosmetik, artis tampan yang sedang naik daun atau yang lainnya. yang berhubungan dengan gadis ABG.

Dan Aca?, gadis itu berbeda dengan yang lain. dia tak terlalu suka membahas artis, dan tak paham dengan kosmetik atau apalah itu. ia lebih memilih duduk tenang sambil mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang seraya membaca atau menggambar sesuatu.

"nih," segelas jus jambu dingin mendarat di atas mejanya. Aca mendongak sesaat, "sumpah panas bett...! nggak kuat, pen nyemplung aja gue ke kali belakang sekolah." keluh gadis di hadapannya sambil mengibaskan tangannya untuk mereda walau percuma.

Binar Cahya Lintang. gadis tomboy berdarah Minang itu baru mengenal Aca di acara MOS Minggu lalu. keduanya bertemu saat tergabung dalam tim yang sama untuk menyelesaikan game menyebalkan dari senior.

-krucuk.

Binar melirik Aca yang terkejut dengan suara keroncongan yang berasal dari perutnya sendiri, sedetik kemudian tawa Binar menggema.

"Laper neng, haha..." gelak Binar. Aca mengangguk malu kemudian bangkit. "mau kemana dah."

"Aku mau ke kantin aja deh, nggak kuat," jelasnya sambil tersenyum, "Kamu mau ikut nggak?"

"Berhubung gue lagi mode hemat daya, Lo sendiri aja ya" Aca memutar bola matanya jengah, kemudian pergi meninggalkan Binar yang sudah menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja.

Keadaan kantin sedang ramai. Stand makanan yang berderet seolah kebanjiran. Akhirnya Aca memilih stand kari ayam karena antriannya tak begitu padat. jujur, berada terlalu lama dalam keramaian akan membuat Aca diserang pusing mendadak.

sembari menunggu, dia duduk pada kursi yang terletak tepat di tengah ruangan. Pandangannya berkelana, ada banyak sekali murid berseliweran. Entah butuh waktu berapa lama untuk Aca bisa mengenal keseluruhan murid di sekolah yang terbilang besar ini.

fokusnya berhenti pada sekelompok siswa yang duduk di pojok kantin. jika menghafal nama seluruh murid adalah hal tersulit untuk Aca, berbeda dengan empat pemuda yang saat ini ia tatap lekat-lekat. jangankan nama panggilan, nama lengkap pun Aca tahu.

Pemuda dengan rambut yang terikat itu namanya Semesta Raksamana Cakra. Kapten futsal yang memiliki karisma luar biasa. di depannya, pemuda berkacamata yang sibuk dengan bukunya itu, Ilham Catur Wardana. pemegang rekor nilai ujian nasional tertinggi saat SMP dan ujian masuk SMA, banyak menyabet juara di berbagai olimpiade. Kalau pemuda berjas rapi dengan tatapan tajam bak elang itu, Antartika Devan Bramasta. sesuai namanya, pemuda itu dingin. dan untuk pemuda yang duduk dengan pandangan fokus pada layar ponsel, adalah pemuda yang berhasil membuat Aca jatuh bangun untuk mengejarnya.

Raga Juan Aditya. laki-laki bermata coklat gelap tajam, berambut hitam, bergolongan darah A, berzodiak Leo dan penyuka warna biru. jangan tanya bagaimana Aca bisa tahu segalanya tentang pemuda itu. segala akun sosial media sudah di galinya hingga akar.

"Gimana Sam, Lo jadi enggak sih mau nembak tuh cewek?" tanya Ilham, membuat Semesta menghentikan kegiatannya mengaduk-aduk mangkuk mie ayam.

"Gue takut dia udah punya cowok. kalo gue di tolak mau taroh di mana muka gue."

"katanya orang ganteng se-kabupaten, nembak cewek aja takut. main barbie aja sono," sahut Raga, masih tak melepas perhatiannya dari ponsel.

"ya, iya sih. tapi gimana ya, gue jadi durian gitu. bingung."

"Dilema bego'!"

"gue cekek juga Lo biar hidup." geram Antartika.

"jangan bang! adek masih perawan, belom mau mati dulu!!" Haruskah mereka bunuh diri sekarang, menghadapi sifat Semesta yang abstrak membuat Antartika, Raga, dan Ilham harus sering-sering mengelus dada.

perbincangan mereka terhenti saat seseorang sudah berdiri dekat dengan mereka, lebih tepatnya dekat dengan Raga. untuk sejenak, Semesta dan Ilham melongo, memandang ciptaan Tuhan yang kelewat sempurna ini.

Aca Berdeham, menyadarkan Semesta dan Ilham bersamaan. "gue percaya deh kalo Jaka Tarub emang nikah sama bidadari." gumam Semesta.

Ilham melempar Raga dengan kulit kacang, tak perlu bicara dia tahu apa maksud kedatangan Aca ke sini. karena Ilham satu-satunya manusia waras sekaligus peka.

Raga tak menggubris, ia tetap fokus bermain ponsel. walau Aca sudah memanggilnya beberapa kali.

Dengan terpaksa Ilham merebut ponsel Raga dan mentitahnya untuk menatap Aca. dengan malas ia menoleh,
"Apa," tanyanya ketus.

Aca menyodorkan kotak sterofiam yang berisi makanan hangat pada Raga, "buat kamu."

"gue bisa beli sendiri." mendengar jawaban Raga, membuat Semesta harus menginjak kakinya hingga si empunya meringis. tatpannya seolah berkata 'ngomong yang bener atau gue bunuh lo di sini.'

"Taruh," titah Raga seraya merebut kembali ponselnya yang Ilham amankan di pojok meja.

"Aca pasti pegel kan berdiri terus, duduk dulu sini samping gue. Tamu adalah calon ibu anakku." ujar Semesta sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.

Aca tersenyum, "Aduhai, senyumnya terngiang bund..." celetuk Semesta.

"Kalo pegel balik sono." senyum Aca menghilang, "Ganggu aja."

"Aku mau nunggu kamu habisin makanannya aja, boleh."

-BRAK!

"Gue bukan bocah, Lo pergi atau gue buang makanan ini." kalimat Raga berhasil membuat tiga temannya mendelik kaget. Aca Menundung dan mengangguk pelan sebelum pamit pergi.

"gila emang Lo, kasian anak orang Ga!" Raga tak peduli, dia tak suka ada orang asing mendekatinya tanpa alasan jelas.

RagaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora