Lelaki Setengah Abad

3 0 0
                                        

Lelaki berusia setengah abad itu masuk ke rumah dengan langkah kasar. Di tangan kanannya sebilah bendo yang sudah menghitam bagian tajamnya teracung. Raut wajahnya seperti orang kesetanan.

Perempuan yang hanya separuh kurang sedikit dari umur lelaki setengah abad itu meradang. Tatapannya menunjukkan kemarahan luar biasa. Dia tak mau kalah. Lagi pula yang memulai pertikaian perang dingin setahun lebih itu bukan dirinya.

"Bacok saja. Saya tidak takut. Bunuh!!!," perempuan yang hatinya sudah mengeras itu berkata dengan garang.

Dia sudah tak peduli lagi mau mati hari ini atau besok. Dia menatap wajah lelaki setengah abad itu mulai tersulut. Dia tahu, bahwa bendo itu digunakan hanya untuk menakut-nakutinya.

"Dasar anak setan kamu," suara pria itu menggelegar bagai petir saat hujan sambil mengacung-acungkan bendo. Seisi ruangan itu tersentak.

Isak tangis beberapa perempuan memohon agar pertikaian itu berhenti hanya membuat rumah besar itu terasa makin memilukan.

"Memang, aku lahir dari seorang setan. Kenapa? Bukankah begitu?" dia semakin menantang.

Hatinya sudah begitu keras seperti batu. Kali ini tidak ada lagi air mata tertumpah. Dia sudah tidak peduli lagi. Benaknya hanya berpikir, mati saja. Mati saja, biar lelaki setengah abad itu puas.

Kejadian berlangsung cepat, perempuan sepuh yang juga ikut berdiri di situ ambruk lemas. Dia meraung-raung seperti anak kecil yang ketakutan melihat pemandangan di rumah itu begitu mengerikan.

Beberapa perempuan tampak memapah perempuan sepuh yang ambruk tadi menuju kamar.

"Uwis su!!!," hardik lelaki lain kepada lelaki setengah abad.

Rumah itu semakin panas. Orang-orang di dalamnya semuanya terbakar emosi.

Di luar tetangga kanan kiri melongok dari halaman. Penasaran kenapa ada suara ribut-ribut dari sebuah rumah besar pagi itu.

Lelaki setengah abad pun maju ke arah perempuan itu dengan bendo teracung. Emosinya sudah tidak terbendung, kesetanan. Sejurus kemudian, diayunkannya bendo itu satu gerakan.

"Dasar iblis kamu," kata lelaki itu.

Hanya satu gerakan dan semuanya selesai. Darah muncrat ke wajahnya dan beberapa orang di sampingnya yang berusaha mencegahnya. Kejadian itu terjadi begitu cepat.

Perempuan itu pun ambruk dengan kondisi luka yang cukup dalam di leher. Dari tempatnya jatuh, genangan darah mengitari tubuh yang sudah mati terkulai.

Orang-orang di rumah besar yang ada di dalam kamar lamgsung tahu. Bahwa di ruang tamu ada sebuah tragedi besar. Mereka langsung refleks berhamburan mendekat dan melihat pemandangan pilu itu.

Pekikan. Raungan. Pekikan. Lalu raungan lagi. Suara-suaranya semakin tidak jelas. Seperti dengungan kawanan lebah yang sedang merubung makanan. Berisik.

Napas lelaki setengah abad itu terengah-engah begitu bendonya sudah ia ayunkan hingga membuat perempuan itu jatuh. Wajahnya yang tadinya kesetanan seketika berubah. Dia kaget, matanya terbelalak. Ketakutan, panik dan sesal memburunya menjadi satu.

Dijatuhkannya bendo tajam dari tangan kanannya. Kakinya mendadak lemas, tubuhnya ambruk. Dia terduduk dalam genangan darah yang dia buat sendiri setelah membunuh anaknya.

Para tetangga yang kasak-kusuk di luar kaget melihat pemandangan rumah besar pagi itu. Mereka yang tadinya melihat pertikaian itu dari ujung rumah mendekat masuk. Beberapa menutup hidung karena bau anyir darah segar langsung tercium begitu mendekat.

"Panggil ambulans... panggil ambulans," teriak seorang lelaki setengah baya yang ada di luar.

"Lukanya parah?" seorang ibu-ibu penasaran.

"Belum tahu. Lukanya cukup dalam. Barangkali dia sudah mati," kata lelaki lain.

FragmenWhere stories live. Discover now