Satu sore di musim salju. Naruto Uzumaki sedang dalam perjalanan sepulang kerja. Karena masih suntuk, ia melepas syal merah pemberian istrinya untuk dipasang ulang di lehernya. Namun nahas, syal merah Naruto terbawa angin kencang. Aghh mana cuacanya dingin sekali... Terpaksa Naruto segera lari mengejarnya.
Saat syalnya terjatuh, Naruto pun memelankan langkahnya. Ahh... setidaknya masih bisa dipakai, pikir Naruto melihat syalnya terjatuh di aspal jalan yg tak terlalu kotor.
Tapi...
Tunggu.
Seorang wanita entah dari mana tiba-tiba saja muncul dan memungut syal itu. Naruto segera menghampirinya.
"Hei, itu punyaku!" seru Naruto di hadapan wanita yg kini memegang erat syalnya. Wanita itu mengernyit. Tampak kaget. "Apa?" tanyanya.
Naruto menunjuk syalnya. "Syal itu punyaku. Tadi tertiup angin dan jatuh di sini,"
Mikasa, wanita yg memegang sehelai syal merah, kebingungan. "Maaf, tapi kurasa ini syalku. Tadi syalku terjatuh di sekitar sini. Dan seperti yg kau lihat, hanya ini syal yg ada di jalan ini," ujarnya memberi penjelasan.
Naruto memicing. "Hei, tetap saja. Itu punyaku. Syalmu mungkin jatuh di tempat lain,"
Mikasa diam, namun cengkramannya makin erat. "Maaf, ini punyaku," katanya dingin.
Naruto mulai kesal. "Hei nona! Apa buktinya kalau syal itu adalah punyamu? Apa ada namamu di situ?"
Mikasa lalu membentangkan syalnya. Disitu hanya ada .... merah. Yah, sebenarnya baik syal Mikasa maupun Naruto tak ada tanda apa-apa. Hanya warna merah polos. Itu saja.
"Di sini juga tidak ada tanda apapun milikmu," sahut Mikasa. Naruto makin kesal. Wanita berambut pendek ini sangat menyebalkan!
"Tetap saja itu punyaku!"
"Punyaku."
Naruto makin kesal. Teringat saat Toneri merebut Hinata di depan matanya dan menghancurkan syal yg dibuat Hinata dengan susah payah berbulan-bulan. Aghh!
"Syal itu pemberian dari istriku yg berharga! Semua rasa cintanya terkumpul dalam setiap helai benang di syal merah itu! Kau tak berhak mengambilnya! Kembalikan milikku!" ketus Naruto. Ia tahu tak seharusnya ia bersikap keras begini terhadap wanita. Tapi... tapi... wanita aneh itu duluan yg memulainya...! Menyebalkan!
Mata Mikasa melebar.
Apa? Syal ini pemberian dari istrinya?
"Syal ini juga pemberian dari suamiku yg berharga! Ia penyelamat hidupku, malaikatku! Aku selalu memakai syal ini sejak masih anak-anak sampai sekarang!" Balas Mikasa tak mau kalah. Tanya pada seluruh anggota Scout Legion, betapa legendanya seorang Mikasa Ackerman dengan sehelai syal merah yg tak pernah seharipun ia lepas. Mikasa tanpa syal merah di leher bagai ikan tanpa sirip.
Lalu keduanya terdiam. Masing-masing berpikir kisah cintanya-lah yang paling hebat yang tertuang dalam syal merah tersebut.
Sebenarnya mudah saja bagi Naruto merebut syal itu dengan sekali gerakan. Ah, bahkan sambil mabuk pun tentu ia bisa melakukannya. Tapi tentu saja hal itu tak akan pernah dilakukannya. Lagipula ia belum tahu siapa wanita di hadapannya ini, bukan?
Mikasa merasa tak ada artinya perdebatan ini. Syal merah ini miliknya. Titik. "Permisi," sahutnya sedingin salju yg turun, lalu berbalik mengacuhkan Naruto. Suaminya pasti sudah menunggunya pulang.
Naruto sudah membuka mulut, siap untuk mendebat lagi, tapi seseorang sudah mendahuluinya.
"Mikasa!"
"Eh?"
Mikasa sontak berhenti. Seorang lelaki berambut coklat tua menghampirinya.
"Eren?" Mikasa refleks senyum melihat suaminya. Tapi... Eren memakai syal merah? Senyum Mikasa terhenti.
"Ah, aku menunggumu di halte, kupikir kita bisa pulang bersama. Tapi kau lama sekali jadi aku menyusulmu ke sini," kata Eren memberi penjelasan.
"Syalnya..." Mikasa menunjuk syal diikuti tatapan Eren. "Oh ini... Aku menemukannya di dekat kantormu. Sudah pasti ini punyamu kan? Wangi parfummu masih tercium di syal ini. Jadi kupakai deh," terang Eren tersenyum kecil.
Perasaan tak enak menyelimuti Mikasa. Ah aura tak menyenangkan ini berasal dari belakang tubuhnya...
"Hei nona, bisakah kau berbalik sebentar? Aku yakin masalah di antara kita belum selesai,"
Mikasa berbalik. Sepasang Yeager memandang Naruto. "Ya, ada apa?" tanya Eren sopan. Naruto mau tak mau ikut senyum melihat 'sang penyelamat hidup' wanita keras kepala itu.
"Syalku... Dia masih membawanya," tunjuk Naruto kalem pada sesuatu yg dipeluk erat Mikasa. Eren mengikuti arah telunjuknya. Ah, syal merah! Warnanya sama persis dengan apa yg dipakai Eren sekarang.
"Ini," Mikasa cepat-cepat menyerahkan syal yg sebelumnya ia kira miliknya. Ahh malu sekali ia, sudah salah, ngotot pula. Untung Eren datang menjemputnya.
"Maaf, aku salah kira," ucap Mikasa sembari membungkuk. Naruto melambaikan tangan, entah kenapa ia jadi tak enak hati padahal seharusnya ia tak perlu merasa konyol. "Ahahaha, tak apa. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Syalmu mirip sekali dengan milikku. Aku pun juga tak bisa membedakan sebenarnya kedua syal ini bila tertukar," Naruto nyengir ramah pada Mikasa dan Eren.
Bagaimanapun, ia tahu, sepasang suami istri ini bukan orang sembarangan. Begitu sang suami muncul, Naruto bisa merasakan aura seorang Alpha. Yah... kurang lebih sedikit mirip dengan dirinya.
"Maaf, istriku melakukan kesalahan," Eren ikut membungkuk. Naruto makin salah tingkah. "H-hei sudah tak apa. Bukan masalah besar. Toh masing-masing dari kita sudah menemukan syal yg benar," Naruto garuk-garuk kepala.
Hening sejenak, lalu Naruto mengacungkan syalnya. "Baiklah, syalku sudah ketemu. Permisi ya, aku pergi dulu," ucap Naruto. Ia ingat ada acara makan malam bersama keluarga Yamanaka. Tak boleh telat~
Usai saling bertukar senyum dan anggukan kepala, Naruto pun pergi menuju halte sembari melingkarkan syal merah berharganya di leher. Udara dingin yg membelai tengkuknya tak lagi terasa. Hangat. Samar-samar tercium aroma Hinata.
Ah..
Iya...
Ciri khas syal merahnya ini tentu saja aroma Hinata.
Senyum Naruto terukir lembut mengingatnya.
.
.
"Jadi.. kau salah mengira kalau syal tadi milikmu, begitu?"
"Ya. Tadi syalku basah kena minum, lalu aku menggantungnya di tas. Saat aku sudah mau naik bus, aku baru sadar syalku tak ada. Maka dari itu aku mencarinya kemana-mana... Kupikir pasti di sekitar jalan ini saja. Lalu aku menemukannya. Syal merah itu sama persis dengan punyaku. Tentulah kupikir itu punyaku. Ternyata... bukan," Mikasa nyengir di akhir cerita. Eren terkekeh, menggenggam erat jemari Mikasa.
"Tapi, kau tahu... syal merah pria itu ternyata juga punya makna yg dalam baginya," beritahu Mikasa.
"Oh ya? Apa?" tanya Eren ringan. Mereka beriringan berjalan pulang sembari saling berpegangan tangan. Musim salju bukan lagi masalah bagi para pasangan. Toh hangat menjalari kulit, menembus sampai ke hati mereka.
"Syal itu, ternyata istrinya yg membuatnya. Dia bilang semua rasa cinta istrinya tertuang dalam tiap helai benang syalnya. Romantis kan?" Mikasa berseri menceritakannya. Yah terus terang saja, bagi para tentara sepertinya, ia sangat jarang mendengar kisah romantis yg nyata. Toh bagaimanapun ia tetaplah seorang wanita...
Iris Eren melebar. "Oh? Begitu kah?"
Mikasa mengangguk semangat. "Ya. Pantas saja pria itu mati-matian ingin merebut syalnya dariku," sahut Mikasa.
Eren mengerjap. "Hmm...." Sesuatu bermain di otaknya, tapi kemudian ia memandang wajah istrinya. "Syal kita juga berharga kan?" ucapnya lembut. Mikasa tersipu lalu mengiyakan.
"Aku pernah bilang," Eren berhenti melangkah, diikuti Mikasa. Butiran salju menimpa kepala mereka. Tangan Eren meraih syal yg sebelumnya melilit di lehernya, melepasnya, lalu mengalungkannya di leher Mikasa. "Kalau hanya sekadar memasangkan ini, sejuta kali pun akan kulakukan untukmu," senyum Eren lembut.
Geez! Mikasa ingin pingsan saja rasanya! Eren menahan tawa tiap Mikasa blushing. Kadang ia lupa istrinya bisa seimut ini.
Satu sore di musim salju, terlewati (lagi) dengan satu kisah cinta yg manis.
