Masih dengan menggunakan seragam sekolah, bocah kelas enam SD itu mengangkat box donat yang di dalamnya masih tersisa beberapa biji. Dia memberikan box itu dengan tangan bergemetar dan tubuh yang mengeluarkan keringat dingin. Takut, takut wanita yang berdiri di hadapannya akan memarahi dan memaki kembali seperti hari sebelumnya.
"Tidak habis lagi?!" Teriakan wanita dewasa itu sangat menggelegar, ia mengambil box donat dari tangan sang bocah dengan sedikit kasar dan segera menghitung donat yang tersisa.
Bocah tersebut menunduk dalam, tidak bernyali menatap wanita yang amarahnya sedang muncul ke permukaan. "Maaf, Bu. Tadi di sekolah ada penjual donat yang baru, dan ..., banyak yang menjual makanan-makanan baru juga."
"Naraya juga sudah berusaha keliling menjual donat itu supaya habis, tapi hanya terjual satu, Bu." Begitu takut Naraya menjelaskan pada sang ibu, dia berusaha agar tidak menyinggung perasaannya.
"Astaga ..., lalu kenapa kamu pulang, Naraya?! Bukankah Ibu pernah bilang jika donat yang dijual belum habis, kamu tidak boleh pulang? Kamu masih ingat perkataan Ibu yang itu, tidak?!" Wanita itu menaruh kasar box donat ke atas meja makan, membuat terkejut sosok pria yang tak lain adalah suaminya yang sedang mengisi perut.
Naraya tidak menjawab, sebab dia memang tahu dan masih ingat. Ini kesalahannya karena sudah pulang lebih awal. Tapi jika boleh jujur, Naraya juga lelah, dia ingin sekali bisa menikmati tidur siang sehabis pulang sekolah tanpa terus berkeliling untuk menjual donat sampai habis.
Lagi pula, Naraya masih kecil, tidak seharusnya dia mencari uang, kan? Iya, seharusnya orang tuanyalah yang bekerja, mereka sudah dewasa dan memiliki banyak tenaga.
"Jawab, Naraya, kamu ingat atau tidak?!" Kepala Naraya ditoyor, begitu kuat hingga Naraya hampir terjungkal ke belakang.
"Sudahlah, Minerva, jangan berisik. Suaramu mengganggu telingaku." Riven; yang sedari tadi diam karena sedang menyantap makanan akhirnya terganggu dan berakhir menegur sang istri.
"Dia yang membuat suaraku meninggi."
"Dan seharusnya kamu tidak mengomel disaat aku sedang makan! Itu membuat selera makanku berkurang, Minerva!" bentak Riven, dia kesal karena tidak bisa mengisi perut dengan suasana tenang.
Naraya mengangkat kepala, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Ibu, Ayah, maaf. Jangan bertengkar, ini semua salahku. Biarkan aku kembali menjual donat itu sekarang." Naraya menengahi dua orang dewasa itu, lebih baik mengalah karena Riven sangat mengerikan ketika sedang marah.
Minerva tersenyum sinis. Dia kembali raih box donat yang berada di atas meja. "Jual sampai habis, atau Ibu akan menghukummu nanti." Dengan tegas Minerva berkata demikian.
Saat Naraya hendak menerima benda di tangannya, Minerva sengaja mendorong Naraya menggunakan box itu, membuat putrinya jatuh tersungkur ke belakang.
"Sakit, Bu ...," ringis Naraya, namun tak lama segera bangkit.
Riven yang melihat itu berdecak kesal. "Jangan kasar pada putriku, Minerva!" geramnya, Naraya tersenyum tipis.
Jangan kasar, putriku. Senang sekali Naraya mendengar kalimat tersebut, akhirnya ia mendapat pembelaan.
"Kamu lupa jika kita harus merawatnya dengan baik, huh? Sebentar lagi Minerva, sebentar lagi kita akan menyerahkan dia pada orang itu. Jadi, jangan membuat kulitnya terluka sedikitpun. Kamu mengerti?" papar Riven, yang saat itu Naraya sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan ayahnya.
Menyerahkan?
Pada orang itu? Siapa?
TBC.
Hai, cerita ini mungkin akan sedikit mengganggu kenyamanan kalian, sebab terdapat adegan sensitif seperti penculikan, kekerasan, pelecehan serta eksploitasi terhadap anak. Jika di tengah cerita kalian merasa tidak nyaman, silakan berhenti membaca, atau loncat bab untuk memprioritaskan kenyamanan diri kalian.
Ikuti cerita ini hingga selesai saat yakin bisa mempertahankan ketidaknyamanan itu.
jangan lupa beri vote & coment setelah membaca. Pun kritik dan saran.
Terima kasih.
YOU ARE READING
Kelam
Mystery / ThrillerJudul awal: Shadows of Wrath ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ⚠️CERITA SENSITIF⚠️ ⚠️KAWASAN 1718+⚠️ ⚠️MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN, EKSPLOITASI & ADEGAN PEMBUNUHAN⚠️ ••• Sebelum namanya berubah, Kelam pernah dikenal dengan nama yang sangat indah; Naraya Maarisha...
