Dokter Bedah

96 8 1
                                        

Hai, perkenalkan, namaku Kalina, biasa dipanggil Lina. Kesibukan ku sekarang adalah menjadi tenaga medis di sebuah rumah sakit swasta di suatu daerah di Indonesia. Aku punya sebuah kisah seru, sebuah kisah flashback yang membawa ingatanku kembali pada masa-masa kuliahku dulu.

Saat itu, aku kuliah di sebuah universitas yang cukup ternama dan terbilang mewah, universitas kami pun terhubung dengan bangunan rumah sakit swasta yang masih satu-kepemilikan dengan universitas ini. Aku mengambil program studi kedokteran. Malam itu aku pulang cukup larut, aku terlalu sibuk menghabiskan waktu di Lab untuk belajar karena besok akan diadakan ujian praktik. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat, aku segera merapikan buku-buku dan tumpukan kertas rangkuman ku yang berserakan di lantai Lab. Beberapa menit kemudian aku segera meninggalkan ruang lab, keluar menuju lorong panjang yang sepi dan cukup redup, ruang lab praktik ku terletak di lantai 4 dan ini adalah lantai yang cukup sepi, bukan karena malam hari, siang hari pun memang terkenal sepi, karena di lantai ini hanya terdapat ruangan lab-lab dan beberapa ruang kosong yang biasa digunakan untuk kegiatan mahasiswa.

Langkahku telah sampai di ujung lorong, tepat di depan lift, telunjuk ku segera menekan tombol turun pada lift tersebut. Lampu lift menyala, memberikan tanda bahwa lift sedang menjemput ku di lantai 4 yang sepi nan sunyi ini, aku menunggu dengan was-was, pikiranku berlari kesana kemari, memikirkan hal yang tidak-tidak...
Pada dasarnya, aku bukan tipe orang yang penakut, tapi lain dengan kondisi sekarang ini, karena selain sepi di siang dan malam hari, serta gelap penerangan, lantai 4 ini juga terkenal dengan 'penunggu'nya...😭

Mataku melirik ke belakang, hanya memastikan barangkali ada mahasiswa lain yang terlambat pulang dan bernasib sama sepertiku. Namun sialnya, harapanku pupus, tak ada satupun sosok yang aku harap bisa menjadi teman berbincang saat di dalam lift nanti...

Pintu lift terbuka, kakiku segera melangkah memasukinya, sesaat sebelum aku menekan tombol tutup pada pintu lift, ada seorang dokter perempuan yang masuk dengan tergesa-gesa. Aku tidak heran, karena memang sangat sering sekali mahasiswa berpapasan dengan para dokter di kampus ini, secara gedung kampus dan rumah sakit terhubung menjadi satu. "Mungkin beliau adalah dokter jaga malam yang sedang bertugas" pikirku dalam hati.

Badanku mundur ke belakang, menempel pada dinding lift di pojokan, merasakan ruang lift yang perlahan-lahan menuruni tiap lantainya, aku coba menghafal ulang materi-materi yang baru saja kupelajari tadi.
"Kok baru pulang jam segini?" Tanya dokter itu memecah fokusku.
"Ah, Iya dok, tadi abis belajar buat ujian praktik besok" jawabku gugup sambil melempar senyum kecil padanya.
"Oh gitu, emang ujian di materi apa?" Tanya dokter itu lagi
"Anatomi, Dok" jawabku singkat, kali ini tanpa melempar senyum tipis padanya.
"Oh, anatomi... sini Dokter ajarin..."

Mataku melirik ke arah Dokter tersebut.... Dan kini aku benar-benar dengan jelas menyaksikan ia dengan mata kepalaku sendiri.

"Ini namanya jantung..." Dokter itu melanjutkan dialognya sambil merobek dadanya dan menunjukan sebuah jantung yang masih berdetak dan penuh dengan darah segar.
"Yang ini namanya liver..." Ia kembali merogoh organ dalamnya dan menunjukannya padaku.
"Yang ini namanya....." Ia melanjutkan penjelasannya... Pikiranku sudah tidak lagi fokus, badanku kaku, mataku terpaku, bibirku Kelu...

Kini tepat di hadapanku terdapat sosok "penunggu" yang selalu diceritakan oleh banyak mahasiswa disini... Sosok ini disebut "Dokter Bedah"😭

Lantai lift berlumuran darah segar, sosok itu masih saja "merobek" tubuhnya di hadapanku, bau anyir menyeruak memenuhi sekotak sempit lift ini, kepalaku mulai berat, tiba-tiba pusing menyerang dengan tanpa aba... Sedetik kemudian aku tumbang tak berdaya.

Hidungku mencium aroma minyak kayu putih, badanku terasa sangat lemas, mataku terasa begitu berat untuk dibuka...
"Kamu gapapa?" Suara berat itu tertangkap samar di telingaku.
Ku coba untuk melirik kearah sumber suara tersebut, 'security' terbaca cukup jelas di kantong dadanya.

Syukurlah...

Dokter BedahStories to obsess over. Discover now