1

307 6 0
                                        

Plak!

Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi wanita bercadar. Dada Vania naik turun, dengan napas tak teratur menatap simpanan ayahnya.

"Cadar itu bisa melindungimu dari tatapan lelaki di luar sana, tapi kain itu tidak bisa melindunginya dari tamparanku!" tegas Vania sambil menunjuk geram wajah wanita bercadar yang ada di depannya.

"Siapa kamu?" Wanita itu tampak terkejut setelah mendapat tamparan tak terduga. Panas di pipi kiri masih terus menjalar, menimbulkan emosi dalam jiwa.

"Saya Vania. Anak sah dari lelaki yang tadi kamu peluk." Wanita itu terdiam sejenak setelah mendengar fakta yang dilontarkannya. Dahinya mengerut, matanya menatap sinis gadis muda dengan amarah yang membara.

"Oh, jadi kamu yang namanya Vania? Tidak kusangka, anak dari seorang Herman memiliki sifat yang tidak tahu malu dan minim sopan santun sepertimu." Wanita itu berbalik menunjuk Vania geram.

"Sudah tahu ya kalau beliau memiliki anak? Sudah tahu juga kalau beliau masih memiliki pasangan sah?" tanya Vania tak habis pikir. Bagaimana bisa dia masih mendekati ayahnya jika fakta bahwa lelaki tersebut sudah menikah dan memiliki seorang anak telah diketahuinya? Apa dia tidak memiliki hati? Semisal pun ayahnya yang mendekati wanita tersebut, apa tidak bisa hati nuraninya menolak?

"Saya juga istri sah dari Mas Herman secara agama!" bentak wanita tersebut sambil mendorong bahu Vania. Beruntung Vania memiliki reflek yang bagus sehingga tubuhnya tidak oleng.

"Tapi tidak di mata negara." Vania yang tadi menggebu-gebu sekarang tampak begitu santai. Dia maju selangkah lebih dekat menuju wanita tersebut.

"Agama ada di atas negara!-"

Tcuihhh!

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, wanita itu reflek menarik cadarnya hingga terlepas begitu ludah Vania mengenai kain penutup wajahnya. Ekspresi jijik sekaligus marah terlukis jelas di wajahnya.

"Apa agamamu?! Mengapa agamamu membenarkan perbuatan seorang jalang sepertimu?! Apa hatimu mati dimakan oleh agama yang kauanut selama ini? Hah?!!" Vania teriak begitu keras sehingga beberapa tetangga keluar melihat pertengkaran sengit mereka berdua.

"Dasar keparat! Kau terlah kurang ajar terhadap ibu tirimu! Lihat saja, Allah akan menghukum manusia sepertimu!" amuk wanita itu sambil membanting kursi kayu yang hampir mengenai kaki Vania yang berhasil menghindarinya.

"Se-keparatnya diriku, aku tidak pernah mengatas-namakan agama saat berbuat hina dan menyakiti orang lain, terlebih untuk sekadar menjadi wanita simpanan." Suara Vania yang lantang namun tenang membuat para tetangga yang menonton berbisik satu sama lain.

Dia pergi dengan sedikit perasaan puas. Belum sepenuhnya puas, tapi dia terpaksa pergi dan mengabaikan teriakan wanita itu yang terdengar seperti anjing gila yang menggonggong atau kepala RT setempat akan mengamankannya. Setidaknya para tetangga akan bergunjing dan kelakuan buruk wanita itu diketahui banyak orang.

Saat perjalanan pulang, gadis itu tidak bisa lagi menyimpan tangis yang ia tahan sedari tadi. Air mata jatuh bak bendungan yang roboh. Ribuan pertanyaan menggumpal seperti benang kusut di otaknya dan menuntut untuk segera mendapat jawaban dari ayahnya. Walaupun terlihat tidak peduli dengan kalimat wanita tadi, Vania benar-benar kepikiran. Kalimat menyebut nama Tuhan masih terngiang dan terputar berkali-kali di otaknya seperti rekaman.

'Apa aku harus mengganti Tuhanku agar tidak sama dengan Tuhannya? Apa memang perbuatannya diizinkan oleh Tuhan? Jika Tuhan kami sama mengapa pemikiran kami berbeda mengenai-Nya? Apa kutukannya akan dikabulkan oleh Tuhan dan menjadi karma bagiku? Katanya Tuhan maha benar, apa dia yang salah? Atau apa aku yang tersakiti ini yang salah?' Begitulah pertanyaan yang terbesit di dalam hatinya.

VaniaWhere stories live. Discover now