Tyga adalah salah satu pria dari west alligator. Pria ini tenang nan irit bicara. Pria satu ini punya kemampuan yang hebat dalam bertarung. Walau terlihat sangat tenang dari luar sebenarnya ia sangat menakutkan. Belum ada satupun dari bangsanya yang...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Seorang gadis mendobrak ruangan yang berisi puluhan mahkluk sepertinya dengan kasar, mereka hanya terdiam kemudian mendengus. Ia menatap sinis satu persatu dari mereka.
"Cih!"
Gadis itu menatap dingin pintu di pojok ruangan tanpa aba-aba ia menonjok pintu itu hingga hancur, ia berjalan santai melewati pintu hancur itu.
Seorang pria yang berusia dua tahun lebih tua darinya menghela nafas. Selalu seperti ini adiknya akan sangat brutal jika di usik.
"Ada apa Sirena?"tanya sang kakak. Lucas, ia menatap adiknya tajam.
"Kak, aku ingin makan! Ayo antar berburu!"wanita itu membalikkan tubuhnya menampakan tato alligator yang di kelilingi bunga mawar menempel indah di punggungnya.
"Lam, kau urus ini! Aku harus menemaninya. Kau tau kan dia bagaimana." Lucas memberikan tugas yang sedang ia kerjakan tadi.
Sirena berjalan mendahului kakaknya lalu berlari cepat melompati derasnya air terjun lalu tiba di seberang.
Matanya melirik ke sana kemari mencari sesuatu yang enak untuk dimakan. Matanya melotot dan memutih saat melihat rusa gemuk sedang memakan makanannya.
Hap!
Lucas duduk di samping adiknya membiarkan gadis itu melakukan hal sesukanya. Ia melipat tangannya di dada kekarnya.
"Sana. Katanya mau makan?" Lucas menatap mata beriris putih Sirena. Pupil yang aneh.
Sirena mengangguk lalu berjalan perlahan sedikit lagi batinnya. Terus berjalan dengan hati-hati. Yap! Batinnya senang, sebelum itu terjadi rusa tersebut sudah terseret dengan cepat.
Sial!
Sirena berlari kencang mengejar mangsanya yang dibawa kabur makhluk sialan itu.
Dug!
"Ini milikku!"desis Sirena setelah menendang punggung seorang pria. Lalu kembali menyeret rusa miliknya.
Sang rusa hanya pasrah tergeletak di tanah yang sudah pasti ia akan segera mati setelahnya.
Pria tersebut berbalik, deg! Mereka cukup terkejut melihat satu sama lain mata putih Sirena kembali ke warna semula hijau terang. Dan pria itu semula wajahnya mengeras menahan kobaran yang ingin meledak mulai melunak.
"Silahkan."
Setelah berucap, pria itu berlari meninggalkan tubuh kaku Sirena dengan tangan mencekik leher rusa.
"Dia mate-mu bukan?"tanya Lucas yang sudah berdiri di sampingnya.
Ia mengambil alih rusa tersebut, lalu dengan giginya ia merobek tubuh malang sang rusa. Dari leher ke punggung. Muncullah daging segar disertai darah yang mengucur deras.
Pria tampan itu menguliti hewan yang sudah mati itu lalu menyerahkan pada adiknya.
"Makan."tegasnya.
Sirena menurut pada kakaknya ia duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai. Sungai ini terhubung dengan air terjun tadi.
Sebelum memakannya gadis itu mencuci daging yang sudah dikoyak kakaknya membuang sisa-sisa darah. Ia tak suka darah.
••••
"Um kak, menurutmu pria kawasan mana?"tanya Sirena pada Lucas yang sedang sibuk membuat pedang.
Pedang bagi kaum Alligator adalah hal yang anehnya sangat penting. Mereka percaya leluhur mereka menggunakan pedang untuk mempertahankan kekuasaan mereka.
Mereka juga tak bisa dibunuh dengan sembarang cara. Hanya pedang yang mereka buatlah yang bisa membunuh mereka.
Selain itu, pedang melambangkan seberapa kuat Alligator mempertahankan diri. Mereka memang tak menggunakan pedang saat bertarung, pedang hanya sebuah simbol kekuatan masing-masing. Tak begitu penting sebenarnya.
"Sepertinya kawasan barat. Dari wajah dan fisiknya memang seperti itu. Bicaranya sedikit bukan?"jelas Lucas melirik Sirena yang masih berpikir.
Gadis itu lalu mengangguk.
"Rumor tentang mereka cukup menakutkan Na, jangan coba membuat marah pasanganmu. Ia tak akan segan-segan membuhmu."peringat Lucas lalu tersenyum saat melihat Irene--matenya-- menghampiri mereka.
Saling berpagutan sebentar lalu melepaskan cepat mereka masih sadar ada Sirena disini.
"Jadi kau menemukannya Na, hampiri dia."tukas Irene saat Sirena tak kunjung berbicara.
"Um, baiklah. Sampai jumpa."
Gadis itu berjalan keluar meninggalkan rumah kakaknya. Dengan brallete hitam yang senada dengan hotpantsnya ia berjalan menuju sungai kawasan barat.
Sirena merupakan Alligator kawasan timur. Ia belum pernah masuk ke kawasan barat yang terkenal brutal dan inilah saatnya ia tau apakah benar berita itu.
Yang ia dengar Alligator kawasan barat terkenal dengan pria-prianya yang panas. Kisaran tinggi mereka 192-198 cm dengan tubuh atletis dan wajah tegas nan sadis.
Cara mereka bertarung pun tak main-main. Sekali kau membuat masalah dengan mereka, sampai akar-akarnya akan mereka habisi.
Mereka juga dikenal sebagai senior diantara Alligator lainnya. Yang pernah ia baca di sebuah buku Alligator barat masih mempunyai leluhur yang hidup. Tapi entah dimana, langkah gadis itu berhenti saat sudah sampai di perbatasan.
Ia memandangi garis perbatasan itu sejenak lalu memandang lurus sungai besar di depannya.