Part 1

15.9K 1.6K 624
                                        

~Seindah apapun sebuah tempat namun, rumah tetaplah tempat ternyaman. Selezat apapun makanan mahal namun, masakan ibu adalah makanan ternikmat~
*Alex Andrean Pratama*

-
-
-

Hari ini hari pertama pemuda itu kembali ke tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun lamanya ia tinggal di London.

Pesawat baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Tampak seorang pemuda tampan dengan kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya baru turun dari pesawat, ya siapa lagi kalau bukan Alex Andrean Pratama, putra tunggal dari Tuan Pratama dan Nyonya Arsinta.

"Aku sudah tiba di bandara, dimana kalian?" ujar Alex kepada seseorang di sebrang telepon.

"Kami akan segera sampai tuan" jawab orang tersebut.

"Aku tunggu 5 menit, jika telat aku akan pulang sendiri menggunakan Taxi!" tegas Alex, lalu mematikan panggilan secara sepihak.

Yah begitulah Alex, ia paling tidak suka menunggu, Ia juga paling tidak suka dibantah. Benar-benar keras kepala bukan?

Selang beberapa menit, tampak mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat di depan Alex, orang di dalam mobil itu langsung keluar dan membukakan pintu untuk Alex.

Setelah Alex masuk, mobil itu pun segera melesat dengan kecepatan sedang meninggalkan bandara, menuju kediaman Pratama.

Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mereka pun sampai di kediaman Pratama. Saat turun dari mobil, Alex langsung disambut oleh kedua orang tuanya dengan senyuman bahagia.
Seorang wanita menatap alex haru "Alex.... Mami sangat merindukanmu." Seru wanita tersebut kemudian berhambur kepelukan Alex.

Wanita yang telah berumur kepala tiga tetapi masih terlihat menawan tersebut adalah ibu alex, Arsinta.

Alex langsung membalas pelukan maminya "Akupun juga sangat merindukan mami." balas Alex sambil tersenyum.

Kemudia seorang lelaki dibelakang Arsinta berkata "Apakah kau tidak merindukan papimu ini?" sindir lelaki tersebut dengan nada yang dibuat seolah ia sedang kesal.

Lelaki yang telah berkepala tiga itu adalah papinya Alex. Meski sudah berumur, ia tetap terlihat gagah dan berwibawa, Pratama.

Alex melepas pelukan maminya kemudian berali menuju papinya. "Bagaimana mungkin aku tidak merindukan papi" jawab Alex kemudian segera memeluk Pratama.

"Mengapa kamu baru kembali setelah begitu lama alex? Apakah kamu tidak merindukan kami? Apakah kamu tidak merindukan masakan mami mu ini?" tanya Arsinta ketus.

Alex menghela napas, dia sudah yakin maminya akan bertanya seperti itu. "Mamiiii... Mengapa mami berkata begitu? Mami tau, Seindah apapun sebuah tempat namun, rumah tetaplah tempat ternyaman. Dan selezat apapun makanan mahal namun, masakan ibu tetaplah makanan ternikmat." jelas Alex sambil menatap Arsinta.

Arsinta tersenyum mendengar jawaban putranya tersebut. "Baiklah, kalau begitu mami akan masak makanan kesukaan mu nanti malam" seru Arsinta bahagia.

Karna begitu senang, mereka sampai lupa mengajak putranya itu masuk. "Ehm... Apakah kita tidak akan masuk, apa aku tidak boleh istirahat?" kelakar Alex.

Pratama tertawa, kemudian berkata "Ah ya, papi sampai lupa. Mari kita semua masuk" ucap Pratama. "dan tolong kalian bawa barang-barang Alex" sambungnya lagi.

Mereka pun masuk ke dalam rumah, mungkin lebih pantas disebut mansion karna kediaman Pratama terlalu megah untuk sebuah rumah.

Setelah masuk kedalam rumah alex izin ke kamarnya. "Mih, Pih, alex izin masuk kamar untuk istirahat, karna Alex benar-benar lelah" Ucap alex, kemudian ia pergi ke kamar nya.

Alex menatap sekeliling kamarnya sambil tersenyum. "Tidak ada yang berubah, semua masih terlihat sama seperti lima tahun yang lalu." lirihnya kepada dirinya sendiri.

Alex membaringkan tubuhnya sambil melihat langit langit kamarnya yang terlihat indah, dengan lukisan luar angkasa yang begitu menawan.

Kemudian ia melirik jam yang ada dikamarnya. "Masih pukul empat sore, aku akan tidur sebentar" ucapnya kemudian ia mulai memejamkan matanya.

~Pukul 20.00~

Alex terbangun dari tidurnya setelah empat jam lamanya ia tidur. Ia melirik jam yang ada diatas nakas. "Astaga sudah malam, dan aku baru terbangun." ucapnya terkejut, kemudia ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah mencuci muka, ia pun turun untuk menemui orang tuanya. "Pih, Mih, kenapa kalian tidak membangunkan alex?" tanya nya kepada Pratama dan Arsinta.

"Maafkan mami sayang, tapi mami pikir kamu butuh istirahat." Sesal Sinta yang merasa bersalah.

"Kalau begitu, sekarang kita harus makan!" ajak Pratama kepada istri dan anaknya.

Alex menatap kedua orang tuanya kemudian berkata. "Mami dan papi belum makan malam?"
tanya Alex yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.

"Mami mu ingin makan bersama putranya Alex!" ujar Pratama diakhiri dengan kekehan. Dan mereka pergi ke meja makan.

Saat tiba di meja makan, alex melihat makanan kesukaannya. "Yeyy mami masak udang! Aku sangat menyayangi mami" Seru Alex dengan mata yang berbinar. Mereka pun makan dengan hikmat.

"Aku sudah selesai makan, boleh aku kembali ke kamar?" ucap alex setelah ia menyelesaikan makan malam nya.

"Pergilah nak" jawab sang papi.

Alex berdiri di balkon kamar nya sembari menatap langit malam yang terlihat cerah. Terdapat begitu banyak bintang yang bertebaran di langit.

"Kau belum tidur sayang?" tanya sinta yang ntah sejak kapan berada di belakangnya.

"Belum mam" Alex menjawab tanpa mengalihkan tatapannya.

"Emmely ingin datang kemari," ungkap Sinta, kepada Alex. "Bisakah kau menjemputnya besok sayang? tanya Sinta. Emmely adalah sepupu alex, dia anak dari adik kandung sinta.

"Bukankah mereka tinggal di bandung mam? Bagaimana mungkin aku menjemput nya kesana?" Alex menatap Sinta bingung.

"Mereka sudah pindah ke jakarta satu minggu yang lalu"

"Dimana alamat rumah om Daniel sekarang mam?

"Mereka tinggal di perumahan cempaka, mami tidak ingat nomor rumahnya, tapi kalau tidak salah rumahnya berwarna putih." jelas Sinta sembari mengingat.

Alex tersenyum. "Baiklah mam, besok pagi aku akan menjemput Emmely" ucapnya.

Sinta membawa Alex ke dalam kamar. "Sekarang kamu harus tidur, mami tidak mau melihat kamu begadang!" tegas Sinta tak ingin dibantah.

Alex pasrah melihat sifat protektif maminya keluar. "Baiklah mam, Good night" Alex mengecup pipi maminya, kemudian memejamkan mata.

"Good night too my little boy." balas Sinta, Ia mencium kening Alex sebelum pergi meninggalkan kamar putra kesayangannya itu.

Huaaa......
Padahal masih ragu,
Tapi tetap maksain buat nulis:)
Pasti typo bertebaran:(

Btw, jan lupa vote yakk,
Sekalian komen biar jadi motivasi://

Sayang Kleannn❤

NabilahWhere stories live. Discover now