Ekaanta, nama yang singkat tetapi memang tidak buruk untuk seorang lelaki tampan seperti gue.
Nama pemberian petugas akte akibat salah ketik ini udah mendampingi gue selama tujuh belas tahun gue hidup. Untungnya nama ini masih ada artinya, gue cari katanya sih dari bahasa Sansekerta yang artinya kesunyian. Padahal nama gue lain, udah dari lama dirancang Ayah dan Ibu.
Sebenarnya Ayah, Ibu inginnya memberi gue nama Ekadanta yang berarti cerdas, berharap agar anaknya kelak menjadi orang berguna. Etapi meleset, 'd'nya ilang.
"Gapapa. Setidaknya namamu masih berarti walau hidupmu tidak, nak." Kata Ayah gue, waktu gue nanya Ayah menyesal gak nama anaknya keganti.
Menjadi Ekaanta juga gak masalah, toh waktu itu gue masih bayi. Ya kali tiba-tiba ngelabrak petugas aktenya, minta ganti. Gue malah bersyukur nama itu gak jadi disematkan kepada gue. Bisa-bisa Ibu hidup lagi waktu ngeliat anak yang diharapkannya menjadi cerdas tumbuh dengan otak pas-pasan.
Tetapi memang nama mempengaruhi kepribadian. Buktinya gue lebih suka menyendiri-
"Bayar uang kas!"
-lebih suka dengerin musik, gak bar-bar, gak banyak ngomong, sekali ngomong lembut bange-
"Heh! Anta! Lu budeg?"
"Apaan?! Sabar dulu napa. Et dah."
Si Ryo emang dah, gangguin gue monolog aja. Heran gue, narikkin duit kas mulu kerjaannya. Mentang-mentang bendahara.
"Nunggak berapa bulan anjir lu? Tiga bulan."
"Ntar aja, bokek. Abis main gundu, kalah taruhan gue."
Yang lagi dialog sama gue namanya Rio, sahabat gue sekaligus musuh bebuyutan kelas. Iya, bendaharanya lakik, jantan. Hebat kan?
Iyalah, gimana gak jantan, sekolah gue sekolah khusus cowo. Namanya aja udah mencerminkan ke'laki'an, Macho High School. Aneh sih, tapi emang bener. Katanya typo waktu mau daftar ke pemerintah. Karena ribet ganti-ganti lagi, si Bapak kepsek pasrah dan berakhir sukses.
Sekolah gue jajaran sekolah top, private school tapi public school juga, punya asrama lagi. Sekolah disini sppnya perbulan cuma 200rb-an, kalo ada surat keterangan tidak mampu, gratis. Semuanya udah termasuk nginep di asrama.
Jangan tanya si Bapak dapet duit dari mana, dia punya banyak perusahaan, kepala sekolah cuma kerjaan sampingan. Tapi emang terpencil, lu harus naik turun bukit baru ketemu sama ini sekolah. Karena itu banyak murid yang ldr dan kekurangan kasih sayang. Berakhirlah pada membelai sesama, alias humu.
Gue sih straight.
Walau semuanya laki dan kemungkinan meng-humu itu besar, tapi jadi gay terang-terangan di sekolah masih gak bisa. Sama sekali gak leluasa. Peraturan sekolah disini gak memperbolehkan pacaran sesama jenis. Kalau ketauan, pasti ada yang berakhir dibully, ada juga yang berakhir dikeluarin. Tapi sebagian anak-anak sekolah gue ada yang ga sekejam itu, mereka ada yang dukung juga.
Jadinya gak semua humu. Banyak yang pacarnya cewe. Faktor utamanya karna sekolah ini punya cabang, di sebelahnya pas. Namanya Yeoja High School, yang isinya cewe semua. Kadang gue suka ngeliatin tuh kalo abis pulang atau istirahat. Disini juga gak dilarang, gak dibatesin kalo mau ketemuan ama cewe. Tapi kalo ada kabar macem-macem langsung blacklist.
"Diem, semua diem! Om ganteng mau ngajar." Si bapak kepsek gaul gue masuk kelas sambil garuk-garuk perut.
Anak-anak tentunya nurut. Mereka duduk di tempatnya masing-masing.
Btw, pak Kepsek guru ekonomi. Biasanya si Bapak dipanggil Pak Mar, atau Pak Ho. Namanya Marcho soalnya.
Beliau terkenal di kalangan anak IPS, tapi gak di IPA. Dia gak suka lalu lalang di koridor-koridor kelas. Biasalah orang sibuk, ngajar kalo mau doang.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Ekaanta
Ficção Adolescente"Ini cinta. Tapi bedanya gak ada, kan sama jenisnya. Gue cowo, lu cowo." -Ekaanta. "Go-blok." - Gray Cakra Deanta. Berada satu kamar dengan bocah slegean membuat Anta ingin segera menghadap Tuhan. Tetapi siapa sangka, ia malah jatuh cinta dengan pri...
