Siapa bilang jika Cinta tidak akan menyakiti. Pada kenyataannya, cinta lebih banyak menyakiti. Ia mengelus bagian dimana hati rapuhnya berada. Berharap gelenyar ngilu itu hilang. Ia tatap dua sosok lawan jenis yang jauh di hadapannya.
Ia tahan sakit dihatinya. Ia tutup mulutnya berharap tak ada yang mendengar isak yang hendak meronta minta di lepas.
Satu bulan, ditemani malam panjang mencekam penuh kegalauan dan kebimbangan.
Satu bulan ia habiskan dengan tangis, malam penuh mimpi buruk.
Hingga akhirnya, kata mengakhiri terucap dari belah bibirnya. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun itu kandas. Tanpa balasan apapun.
Awalnya ia pikir pria itu begitu mencintainya. Pria itu selalu berkata bahwa cintanya amatlah besar ketimbang dirinya.
Pada kenyataannya, kini ia tahu seberapa kedalaman cinta itu.
Ia tatap lagi kemesraan kedua orang itu sebelum kakinya melangkah pergi. Berharap sakit di hatinya sembuh seiring ia menjauhi mereka.
Berawal dari pertanyaan yang selalu terlontar dari bibirnya. Menanyakan kepastian dari pria yang ia cintai, namun selalu kata nanti dan sabar itu mengaung tak tahu diri. Merobek harap yang selalu tinggi.
Ia merajuk, memilih mendiamkan pria itu.
Hingga akhirnya tak satupun yang pria itu lakukan untuk meredakan masalah di antara mereka.
Berharap pria itu mau memperjuangkannya. Berharap pria itu mengejarnya. Mengucap bujuk rayu yang terdengar basi. Tapi, lagi ia menelan kecewa.
Satu bulan berlalu dan tak kunjung membaik. Ia pun mulai lelah menunggu. Kapan pria itu mau berusaha untuk lebih memperjuangkannya. Ia kembali teringat kala satu tahun yang lalu, mereka pun juga seperti ini. Dan ia memilih mengalah. Namun nihil, pria itu tak lagi membahas perihal perdebatan mereka.
Akhirnya dengan segala pertimbangan. Ia memilih menyerah, bukan karna sudah tak lagi mencinta. Namun karna hati nya sudah begitu lelah berharap pada sesuatu yang tak kunjung pasti. Bukan keadaan, namun kemaun pria itulah yang tak terlihat.
Benar saja, berselang dua minggu ia mengakhiri hubungan, pria itu sudah mengandeng perempuan lain.
Ia hancur, hatinya menjerit ngilu menahan sesak. Itukah pria yang ia cintai. Pria yang selalu mengabulkan semua keinginannya. Yang selalu ada untuknya. Setiap hari. Bagaimana bisa.
'Ya Allah... Hiks.. mengapa mencintai makhlukmu harus begini menyakitkan.. hiks'
***
Dengan berat ia hembuskan nafasnya yang terasa sedikit sesak. Ia tatap wajahnya pada pantulan cermin besar di kamarnya.
Di dalamnya terpantul sosok wajahnya yang terbilang biasa saja. Ia baru selesai berdandan. Hari ini ia hendak menghadiri resepsi pernikahan salah satu temannya.
Getir.
Kembali ia termenung, hampir embun hangat mengaliri pipinya. Ia tahan dengan kuat. Sudah hampir enam bulan berlalu, sejak berakhirnya hubungan cintanya.
Tapi, rasa kecewa diselipi rasa sakit berdenyut ngilu kerap melanda. Itu manusiawi. Ia tatap lagi wajahnya. Di bola mata yang biasanya ceria ini terdapat begitu banyak kesedihan.
Begitu banyak pertanyaan.
Mengapa? Kenapa? Apa?
Mengapa ia tidak bisa mengecap indahnya cinta dan pernikahan bersama orang yang ia cintai dengan begitu tulusnya. Namun, jawab langsung muncul, bahwa pria itulah yang tak memiliki niat menikahi dirinya.
Kenapa pria yang ia kira baik dan mencintainya, mengabaikan perasaannya, keinginannya. Lagi, karena pria itu belumlah siap. Pria itu belumlah dewasa. Pria itu tidak memikirkan masa depan seperti ia memikirkannya.
Dan, sebaik-baiknya pria adalah yang berani menemui orang tuamu dengan niat baiknya. Melamarmu.
Ia tertampar, tentu saja.
Apakah yang ia jalani selama ini adalah kesalahan. Atau salah satu dari cobaan yang Allah beri.
Jawaban itu telah ia ketahui. Namun, ia tolak kebenarannya.
Bukankah, Allah hanya akan memberikan apa yang umatnya butuhkan. Bukan yang umatnya inginkan.
***
Ia menggulirkan jemari nya naik-turun pada layar hp di tangannya. Meng-upload foto hidangan tahun baru yang akan segera terjadi dalam hitungan jam.
Lagi, ia teringat sudah melewati tiga kali malam tahun baru dengan pria itu.
Tersenyum kecut ia mengernyit menatap salah satu notifikasi di layar hp nya.
Jantungnya berdetak kala melihat sesosok foto wanita paruhbaya di sana. Ia baca salah satu komentarnya.
Jemarinya dengan lincah membalas sepatah demi kata dari wanita itu.
Sampai hatinya berdenyut kala sebuah kalimat tertera disana.
|'Ibu harap Ami bahagia dan bisa menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari Arya, anak Ibu'
|'Aamiin... terimakasih, buk'
Ia dekap erat hp itu di dadanya. Masih detak nyeri bernaung di sana.
Ia lelah, dimana rasa sakit ini berasal, ia harap rasa ini bisa hilang. Ia harap kebahagiaannya segera tiba.
Ia akan mencoba menerima dan mengikhlaskan berakhirnya hubungan mereka. Mungkin ini adalah salah satu cara Allah untuk memisahkan mereka.
Ia putar kembali perjuangannya memulai hubungan itu, di awali dengan ketidaksukaan dari ibunya Arya padanya. Wanita itu berpikir bahwa ia membawa pengaruh buruk bagi anaknya. Namun, menginjak satu tahun berpacaran, akhirnya wanita itu mulai menerimanya. Atau entahlah, setidaknya wanita itu tidak terlihat membencinya. Menginjak dua tahun berpacaran, ia meminta Arya untuk segera melamar dikarenakan keluarganya mulai sering bertanya, namun keluarga pria itu belum siap. Ia tahan kecewanya walau sedikit drama ngambek di dalamnya. Kini di tiga tahun mereka, ia yang memutuskan untuk menyerah. Siapa yang menyangka pria itu dengan mudah menemukan pengganti dirinya.
Teman kerjanya pernah berkata bahwa, 'tidak mungkin seseorang dengan mudah mendapatkan pengganti, kecuali ia sudah memulai hubungan itu jauh-jauh hari'.
Entahlah, ia tak tahu siapa yang harus ia percaya. Memang jika dipikir logika, mustahil dalam waktu dua minggu pria itu begitu cepat mendapat kekasih lain, jika tidak pendekatan dulu sebelumnya.
Denyut itu kembali hadir, memang kini segala hal yang berhubungan dengan pria itu hanya membawa luka.
Tbc
Spam like n spam next
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir
Romance"pepet penciptanya di sepertiga malam. Insya allah, kalo jodoh ya bakal terkabul" Amira Qadira "Apa yang sudah menjadi milik saya. Gak akan pernah saya lepas. Kecuali saya mati" Aradea al junaid "Aku ingin dicintai olehmu, sama seperti kamu mencinta...
