Prolog

54 6 3
                                        

"Kamu mau gak jadi pendamping hidup kakak?" pertanyaan itu keluar dari laki-laki yang tengah serius menatap lawan bicaranya. Di depannya duduk seorang wanita yang matanya membelalak kaget mendengar pertanyaan itu.

"Ma..maksudnya gimana ya kak?" hanya itu yang bisa wanita yang saat ini mengenakan pashmina abu tua itu katakan saat Rafka melamarnya.

Perempuan itu adalah Raisa Shabrina, lebih suka dipanggil Shabrina. Gadis blasteran Turki-Sunda. Kulitnya yang putih bersih dengan hidung mancung bak prosotan, bulu mata lentik, dan pipi yang bisa dibilang bulat. Lesung di pipi kanan menambah kesan baby face pada dirinya.

Saat ini Shabrina sedang berada di kafe dekat kampusnya bersama Rafka, laki-laki yang baru saja melamarnya. Sebelumnya mereka ke sini bertiga dengan sahabat Shabrina. Tapi karena ada kepentingan mendadak dia harus pulang. Rafka adalah kakak tingkat Shabrina di kampus. Mereka akrab karena bernaung di organisasi yang sama.

Rafka pria yang baik. Dia juga famous karena wakil ketua BEM pada masanya. Laki-laki itu telah menyelesaikan kuliahnya seminggu yang lalu. Hubungan mereka memang terbilang dekat dan banyak anggota organisasinya menjodohkan mereka. Namun bagi Shabrina sifat Rafka yang lembut, penyayang, dan perhatian yang membuatnya senang berteman dengan Rafka.

Shabrina juga tidak munafik kalau dia mengatakan Rafka itu kriteria suami idamannya. Wanita itu bahkan bisa melihat bahwa banyak dari teman-temannya yang mengharapkan Rafka jadi pendamping mereka. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Rafka melamarnya. Keberuntungan apa ini? Mimpi apa ia semalam? Tapi tetap saja ia masih bingung harus menjawab apa pertanyaan Rafka tadi.

Rafka sedikit tertawa melihat wajah merah padam Shabrina karena menahan malu. "Ya, seperti yang kakak bilang tadi, kamu mau gak jadi istri kakak?" Rafka mengulang pertanyaannya.

"T... tapi kok mendadak gini sih kak?" Shabrina berusaha menutupi kegugupannya. Lututnya mendadak lemas, debaran jantungnya bekerja 2 kali lebih cepat dari biasanya. Tangan Shabrina sekarang dingin seperti es saking gugupnya.

"Butuh waktu, Rin, buat kakak bicara ini sama kamu. Perlu keberanian dan nyali yang kuat untuk menyampaikan ini. Awal kenal sama kamu kakak rasa gak ada yang spesial, namun tanpa disadari perasaan nyaman itu muncul hingga akhirnya kakak sadar kalau kakak jatuh cinta sama kamu. Dan kakak ingin menghalalkan hubungan kita."

"Tapi seperti yang kamu ketahui, kakak akan melanjutkan kuliah di luar kota. Setelah lulus kakak akan langsung lamar kamu di depan orang tuamu. Jadi kamu mau gak nunggu saat itu akan tiba?"

Bersambung....

Kira-kira Shabrina mau gak ya nungguin Rafka? 🤔
Menurut kalian apa jawaban Shabrina? Komen di sini👉

Shabrina akan menjawab di part selanjutnya ☺

Jangan lupa vote dan komen 😍

~Semoga istiqomah dalam kebaikan~

ShabrinaWhere stories live. Discover now