Menikmati senja ditepi pantai, duduk didahan kelapa seraya menikmati hembusan angin yang menerpa pori-pori wajah. Dinginnya menyejukkan, menenangkan dan inilah yang aku suka dari kesendirian.
"Senja itu sama seperti bunda, indah namun tak bisa ku nikmati dalam jangka waktu lama" batinku
Kubuka mata lalu kupandangi sang senja yang akan kembali pada peraduannya. Kuturun dari dahan untuk menyisir tepi pantai dan kembali kepenginapan. Kali ini, Bali menjadi tempat liburan sebagai hadiah lulusan dari Ayah. Aku hanya berlibur sendiri, karna Ayah mengurusi pekerjaannya di ibu kota. Namun ia tak pernah absen untuk menanyakan kabarku. Bahkan tak terhitung jari dalam sehari ia menghubungiku. Ku hanya bisa tersenyum saat ia begitu perhatian, sosoknya selalu menjadi dua peran. Menjadi Ayah sekaligus Ibu bagiku, meski tak sama rasanya namun aku tak pernah mengeluh dengan kuasa Allah, karena Ayah saja sudah lebih dari kata cukup bagiku.
Tak terasa 10 menit aku berjalan hingga sekarang telah berada didepan halaman penginapan. Aku langsung masuk kedalam untuk membersihkan diri serta melaksanakan sholat magrib.
Selesai beribadah aku langsung melangkah kaki menuju balkon penginapan, berdiri ditepi pembatas balkon dan dari sini aku bisa melihat betapa indahnya malam dikota orang. Setitik rasa rindu pada Ayah, karena biasanya sehabis beribadah kami selalu bertukar cerita tentang kegiatan hari itu. Tak lama ku pandangi pesona depan ini, tiba-tiba hp dalam saku jaketku bergetar.
My Hero 💚 is calling...
"Assalamualaikum Ayah" ujarku sesaat menerima telpon
"Waalaikumsalam anak Ayah" jawab Ayah, "gimana nak senang liburannya?" Selanjutnya tanya Ayah
"Senangnya kurang lengkap tanpa Ayah" jawabku dengan pandangan yang tak lepas dari pesona malam
"Maaf ya sayang, Ayah tak bisa menemani kamu liburan kali ini. Untuk liburan selanjut Ayah pastikan kita akan berlibur bersama" ucap ayah
"Iya Ayah, apa Ayah sudah makan malam?" Tanyaku
"Bagini sayang, Ayah kan baru pupang nih..." ucap Ayah
"Pasti belumkan, kalau belum makan bagaimana Ayah bisa selalu menjaga putri Ayah yang cantik ini." Ucapku setelah memotong perkataan Ayah
"Sayang, Ayah kan belum selesai bicara" ujar Ayah
"Hihi... Ayah sih" ucapku terkekeh
"Kok bisa Ayah coba, kan Adinda Rumi yang memotong perkataan Ayahanda" ujar Ayahpun dengan sedikit nada bercanda
"Yaudah sekarang Ayah makan malam dulu, jaga kesehatan Ayah kala aku jauh. Miss you my heroo" ucapku mengingatkan Ayah yang selalu lupa jika tidak diingatkan jika sudah waktunya makan.
"Iya princess, ya sudah Ayah tutup dulu, sekarang kamu istirahat ya. Miss you too my bocil" Ucap Ayah diselingi meledekku.
"Ayah..." pekikku
"Haha... iya sayang iya. Assalamualaikum" jawab Ayah dengan suara yang masih tertawa
"Waalaikumsalam"
****
Bising suara kendaraan tak membuat lelaki tersebut perpindah tempat. Duduk dipinggir terotoar, seraya menikmati minuman soda. Tatapannya selalu fokus pada hilir mudik kendaraan.
Sudah 2 jam ia duduk tanpa merasa terganggu dengan sekitar. Bahkan iapun seolah tak sadar seberapa lama ia terdiam dalam keramaian namun merasa sendirian. Merasa minumannya telah habis, ia meremas kemasan botol tersebut dengan mudah, lalu melemparnya pada bak sampah yang lumayan jauh dari tempatnya.
"Setidaknya meskipun kau bernama sampah, namun kau harus berada ditempat yang seharusnya" batinnya seraya menatap fokus tempat sampah tersebut.
Ia menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya. Namun ia limbung karena pertahan kakinya yang tidak kuat karena kesemutan. Saking lamanya ia terduduk hingga mengakibatkan kakinya seperti nyilu namun serasa mengambang. Luar biasa, waktu ini terasa sebentar tapi, saat melihat jam dipergelangan tanganku, aku baru sadar seberapa lama aku duduk terdiam. Perlahan kukembali berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar namun kupaksa untuk melangkah.
Perlahan namun pasti nyilunya semakin menghilang.
Ia memasuki mobil yang sedari awal ia parkir di dekat taman. Ia memutar setir untuk menuju kediamannya. Tak lama namun tak sebentar ia telah sampai dikediaman Chandra. Marga tersebut kadang membuatnya risih. Namun, apa mau dikata, ia terlahir sebagai bagian dari penyandang marga tersebut.
Ia turun dari mobil lalu memasuki kediaman dengan mengendap-endap. Membuka pintu dengan sangat pelan, melangkah dengan penuh kehati-hatian. Namun naas, diujung tangga ia melihat pria paruh baya yang sedang bersidekap dada.
"Dari mana?" Tanyanya dengan tatapan mengintrogasi
"Hihi... Aga barusan datang kerja kelompok pa, kok papa belum tidur?" Jawabnya dengan wajah berkeringat karena gugup dan takut
"Yasudah sekarang kamu istirahat, kita bahas esok hari saja" ujar sang Papa dan pergi menuju kamarnya
"Selamat malam, Pa." Teriaknya
"Jangan berteriak" teriak papa yang membalas teriakannya
Bingung dengan jawaban papanya karena ikutan berteriak padahal menyuruhnya untuk tidak berteriak. Dari pada memusingkan hal tersebut ia pun bergegas memutuskan untuk memasuki kamar dan membersihkan diri. Selelai mandi, ia merebahkan diri dan tanpa tahu telah memasuki alam bawah sadarnya.
_Utamakan kewajiban, dari pada kebutuhan_
Jangan lupa ketik sesuatu ya😋👌
YOU ARE READING
Hining
Teen FictionTerlalu indah dalam ilusi, hingga aku tak sanggup untuk kembali melihat ekspektasi. Kadek Mahega Chandra_ Baik itu pilihan, berprinsip itu kewajiban. Arumi Naskiyah Al-Meer_
