Part 1

4.6K 183 0
                                        

Lendra meneguk kopi hitamnya. Pria itu masih fokus pada layar laptop yang diletakkan di atas meja. Sejak tadi, ia sibuk mengecek perkembangan pembelajaran para mahasiswa yang ia bimbing di semester 3 ini. Lendra menghembuskan nafas lelah. Melihat progress yang campur aduk begini cukup menguras pikirannya. Lendra sebenarnya tidak pelit memberi nilai, asal semua aturan yang ia terapkan selama mengajar tidak dilanggar. Tapi namanya manusia punya tingkat memahami materi berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga yang lamban. Dan sebagai seorang dosen, Lendra sering kali dilema. Apakah ia harus membantu mahasiswanya dalam pemberian nilai, atau ia biarkan. Tapi terkadang, Lendra baik hati menaikkan nilai sebanyak dua puluh persen. Setidaknya nilai mahasiswa yang ia bantu tidak anjlok terlalu jauh. Lendra juga tegas tidak menaikkan nilai, jika mahasiswa tersebut bermasalah di mata kuliah yang ia ampu.

Sekali lagi, kopi hitam itu diteguk dan menciptakan decakan pelan dari bibirnya. Lendra menyudahi kegiatannya. Lendra baru ingat kalau ia butuh buku yang berkaitan dengan Akuntansi. Bukan hal aneh baginya mencari buku setiap ada kesempatan. Baginya, buku itu penting. Jendela ilmu. Dengan itu, Lendra juga dapat menyesuaikan keahlian di bidangnya dan tipe pelajaran yang memudahkan mahasiswa paham.

Lendra meraih benda yang perlu ia bawa. Tidak lupa mengunci pintu rumah, Lendra menyalakan mesin mobil. Benda beroda empat itu melaju di jalanan yang cukup ramai. Hari ini kelas mengajarnya tidak banyak sehingga ia punya waktu untuk pulang lebih awal. Lendra sampai di sebuah toko buku bernama gramedia. Di sini ia selalu mencari buku yang ia butuhkan. Terkadang jika terpaksa, Lendra hanya memesan melalui online. Biasanya buku yang terbatas akan susah dicari.

Saat kakinya melangkah memasuki toko besar itu, beberapa orang khususnya wanita memandang ke arahnya. Lendra tidak terlihat peduli dengan sekitar. Ia terus melangkah semakin dalam. Menaiki tangga, Lendra menuju lantai 2 toko. Di sini banyak berbagai macam buku. Lendra berkeliling mencari buku yang ia perlukan. Ia berhenti di rak keempat. Matanya memindai deretan buku yang terpajang rapi.

"Ayo, dong! Kamu dari tadi nyari ini mulu, udah tau nggak ada kalau nggak mesen. Bukunya itu terbatas, De!"

Lendra mendengar adu mulut dua orang perempuan yang bisa Lendra tebak mahasiswa juga.

"Tau! Tapi nyari apa salahnya, sih, Ay? Kamu mau nyari apa, sih?!"

"Novel! Kemarin tere liye baru luncurin novel baru, De. Aku harus dapetin itu!"

"Hih! Nih anak gila novel banget, dah. Mending belajar biar makin pinter. Jangan halu aja pinterin!"

Lendra melirik seorang perempuan berambut agak coklat tampak misuh-misuh. Sementara perempuan berambut kunciran kuda tidak peduli dengan temannya itu. Lendra membenarkan kacamatanya, lalu kembali bergeser ke rak lain.

"Belajar terus, mikirin hatinya kapan? Nggak pengertian banget jadi temen!" Perempuan berambut agak coklat tadi masih menggerutu sambil membuka beberapa buku dengan sebal. Lendra yang melihat tingkah perempuan itu jadi geram juga. Pasalnya itu buku masih baru, kalau dikasari yang ada rusak.

"Kalau tidak niat lihat, lebih baik jangan disentuh." Lendra menegur perempuan itu. Yang ditegur mendongak. Matanya menyipit. "Benar kata temanmu, lebih baik belajar daripada baca novel terus," cibir Lendra keceplosan. Perempuan itu melotot tidak terima. Siapa pria tampan ini yang sok menasihati dirinya? Kenal saja tidak.

"Urusan Anda apa, ya? Kita juga nggak kenal, jadi nggak usah sok bijak, deh!" balasnya tersinggung. Lendra mengambil alih buku yang dipegang perempuan itu dan diletakkan di posisi semula.

"Keras kepala," gumam Lendra. Lendra melewati gadis itu yang masih menatapnya tajam. Seakan terhina dengan ucapan Lendra, perempuan itu mendekat. Ia menarik tangan Lendra yang hanya berbalut kaos polo sehingga tangan perempuan itu bisa merasakan kerasnya tangan Lendra.

Tangannya enak banget dipeluk, ya ampun!

"Kenapa?" tanya Lendra bingung. Perempuan itu malah gagal fokus sekarang. Tangannya masih bertengger di tangan Lendra. Tangan kurang ajar.

"Menyebalkan sekali Anda!"

Lendra berdehem. Ia tidak paham. Apa perempuan ini tersinggung dengan ucapannya barusan? Loh, Lendra hanya menyetujui ucapan temannya perempuan ini.

"Kamu tersinggung dengan ucapan saya?"

"Iya! Tiba-tiba ceramah, kenal nggak. Anda kalau mau cari perhatian nggak usah sok bijak. Saya tau kalau saya cantik," cerocos perempuan itu sembari menyibakkan rambutnya sok angkuh. Sudut bibir Lendra berkedut. Ingin tertawa tapi takut menyinggung. Yang ada, Lendra hanya menyentil kening perempuan itu dan membuat orangnya memekik tertahan.

"Aargh. Sakit!" desisnya.

"Itu tandanya tempurung kamu lemah. Orang lemah maka berpikirnya semakin lamban."

"Apa kata Anda?! Wah, cari ribut nih cowok! " geramnya tidak terima.

Baru saja tangan perempuan itu akan melayang ke wajah Lendra akhirnya lebih dulu ditangkap Lendra. Pria itu memicing tidak suka. Sikap perempuan bar-bar yang menyebalkan di matanya.

"Kamu tidak sopan, ya? Perempuan itu harusnya bertingkah anggun, bukan seperti ini," sentil Lendra terus terang. Lendra bukan orang yang suka diam saja. Ia akan bicara jujur jika apa yang ia lihat tidak pantas dilakukan. Lendra menunduk agar wajahnya sejajar dengan perempuan yang mendadak membisu itu. "Percuma cantik jika akhlak buruk," bisik Lendra telak. Ia melepas tangan perempuan itu.

"Ay!"

Lendra melihat perempuan yang mungkin disebut 'De' itu mendekat dengan wajah bingung.

"Kamu ngapain?" Pertanyaannya tidak digubris. Lalu beralih pada Lendra yang tampak begitu tenang. "Maaf. Anda kenal teman saya?"

"Tidak. Kebetulan dia ingin menampar saya tadi. Lain kali, ajari temanmu sopan santun sama orang lain." Lendra berlalu setelah mengucapkan kalimat itu. Perempuan berkuncir itu menatap temannya geram.

"Kenapa, sih?! Kamu tuh bar-bar nggak liat tempat, ya!"

"Denada! Aku habis dihina sama manusia itu! Apa kamu pikir aku bakal diem aja, hah?!" balasnya emosi.

Perempuan bernama Denada itu memijat kepalanya pusing. "Tapi nggak nampar juga, Ayunda. Kalau kamu dilaporkan ke polisi, gimana? Heran aku sama kamu! Otaknya ketinggalan di mana, sih?" gerutu Denada yang putus asa. Ayunda merengut. Ia meninggalkan Denada yang sibuk mengejarnya.

"Ay, tapi ganteng sih itu cowok. Naksir aku, Ay! Gimana, dong?" rengek Denada mulai genit.

"Ih, mulai! Aku aduin ke Ardi, ya?"

Denada menepuk bahu Ayunda kesal. "Nggak seru, ah!"

"Lagian cewek tu nggak boleh genit. Liat yang bening malah oleng."

"Iya, iya! Yuk ke McD! Aku traktir donal bebek!"

"Ish! Ngejek!"

Denada tertawa puas menjahili Ayunda yang sibuk mayun di sampingnya. Satu hal yang hampir terlewatkan bahwasannya Lendra memerhatikan Ayunda. Lendra menggeleng kepala saking herannya.

"Semoga nggak ketemu dia lagi."

.
.
.
.
.
.
To be continue

Ayo, aku ketemuin pak Le sama Ay lagi nanti. Haha

Status Kita Apa? Histórias para pegar e não largar. Descubra agora