Happy Reading!!
•
•
Bugh...
"Aduh!" pekik seorang gadis kecil.
Pekikan itu tak dihiraukan, dua anak lelaki itu tetap berkelahi, tak peduli dengan seorang gadis kecil yang terjatuh karena tak sengaja terkena sikut.
Mata indah itu membulat dan pipinya menggelembung. "Ih! Kalian bisa enggak, gak berantem tuh. Pantat aku sakit, nih ....," Omel gadis kecil itu sambil mengusap-usap pantatnya yang masih terasa sakit.
Kedua anak lelaki itu menghentikan aksinya dan menatap gadis kecil itu tajam. "Cerewet amat sih! Masa gitu aja sakit, cemen," ejek seorang anak lelaki berambut hitam pekat itu sambil melipat tangannya dan memasang wajah angkuh.
"Betul! Namanya aja cewek, lemah," ejek seorang anak lelaki lainya yang memiliki rambut pirang sambil menatap gadis kecil itu dengan sinih.
Mata indah itu mulai berkaca-kaca dan siap mengeluarkan bulir-bulirnya. "Hikss... Kok, kalian jahat ...." Tangis gadis kecil itu pecah. Membuat kedua anak lelaki itu membulatkan matanya tak percaya.
"Oy! Jangan nangis, nanti kita dikira ngapa-ngapain kamu." Dua lelaki itu berucap dengan kompak.
"Hikss... Kalian kan udah buat aku jatuh, terus ejek aku. Kalian jahat! Pergi sana hikss...." Gadis kecil itu terus menangis. Menghiraukan ocehan kedua anak lelaki di hadapanya itu.
"Kamu mau apa?? Nanti kita kasih, tapi kamu jangan nangis," bujuk Traiten, anak lelaki berambut pirang itu.
"Iya, please," mohon Jio, anak lelaki berambut hitam pekat itu.
Tangis Shaxi, terhenti. Gadis kecil itu menatap Traiten dan Jio bergantian. "Bener??" Tanya Shaxi pelan.
"Iya. Tapi jangan nangis lagi, berisik," jawab Jio meyakinkan Shaxi.
"Aku mau .... kalian jadi sahabat aku, mau??" Tanya Shaxi sambil menunduk.
Kedua lelaki itu terdiam, sambil berpikir. Sebelum mereka berkata, "Iya. Kita mau."
Shaxi mendongah, matanya menatap Traiten dan Jio dengan tatapan berbinar dan tersenyum lebar.
"Serius?" Tanya Shaxi tak percaya.
"Hmm ...."
"Yeyeye .... Horee .... Shaxi punya sahabat." Shaxi berlari mengelilingi kedua anak lelaki itu dengan perasaan riang. Tapi larinya terhenti, saat ia menyadari jika ia tidak mengenali nama kedua anak lelaki itu.
"Emm .... Nama kalian siapa?" Tanya Shaxi.
Jio mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Aku, Jiovan." Gadis kecil itupun membalas uluran tangan Jio.
"Aku, Traiten. Kalau kamu??" Tanya Traiten sambil menatap Shaxi yang belum memperkenalkan diri.
"Aku, Shaxi. Salam kenal," jawabnya sambil tersenyum. "Sekarang kita sahabat kan, boleh enggak aku kasih nama khusus buat kalian??" Tanya Shaxi takut.
Dua anak lelaki itu saling bertatapan dan berucap, "Boleh. Kan, sekarang kita sahabat."
"Makasih. Kalau gitu nama Jio jadi Ikan Buntal dan Traiten jadi Ikan Biru, kalau aku jadi Ikan Paus. Gimana? Setuju??" Tanya Shaxi dan dibalas anggukan oleh keduanya.
Dan disaat itu pula kisah persahabatan Paus, Biru dan Buntal dimulai.
To Be Continue
Penghuni laut mengatakan "terima kasih" untuk jejak bintangnya.
Sampai bertemu di bagian berikutnya, Pai Pai...
VOCÊ ESTÁ LENDO
Paus, Biru & Buntal
Ficção AdolescentePaus, Biru dan Buntal merupakan tiga sahabat yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Keluh kesah mereka ceritakan bersama, tanpa rasa canggum dan malu. Hingga suatu hari rasa cinta muncul diantara Biru dan Buntal, membuat persahabatan mereka han...
