Pagi yang indah ini Laura awali dengan wajah murung karena harus naik taksi sendirian ke sekolahnya. Sebelumnya ia tidak pernah berangkat sendirian, apalagi menggunakan anggukatan umum.Ini semua karena ulah nakal kakaknya yang dengan sengaja meninggalkannya di rumah saat akan berangkat sekolah.
"Pak buruan dong dikit lagi saya telat nii." sekarang Laura benar-benar panik. Ia belum pernah terlambat sebelumnya, jika kali ini ia terlambat ini akan benar-benar menjadi pengalaman pertamanya.
"Sabar neng, bentar lagi nyampe kok" saut supir taksi itu, yang sepertinya ikut panik mendengar segala keluh kesa yang dilontarkan oleh Laura sedari tadi.
"Aahhggg Ka Delon bener-bener yah. Awas aja pasti bakalan aku bales"
Sekarang Laura sudah sampai di depan sekolahnya. SMA TRISANA, salah satu sekolah favorit di kotanya. Dan benar saja, sekarang gerbang sekolah telah ditutup, yang artinya Laura mendapatkan hari keterlambatan pertamanya. Laura berusaha mencari Pak Iwa, satpam disekolahnya yang bertugas membuka dan menutup gerbang sekolah.
"PAK IWAA!" Laura langsung berteriak memanggil nama itu, saat orang yang ia butuhkan itu datang dengan segelas kopi ditangannya.
"Waduhh, neng Laura kenapa ada di luar? Kelas udah mulai dari 20 menit yang lalu neng." Ujar Pak Iwa yang terlihat bingung, karena ini pertama kalinya ia mendapati Laura telat.
"Itu pak, tadi saya nungguin taksi lama banget pak. Makanya saya telat deh. Hmm saya boleh masuk kan pak? Saya kan baru kali ini telatnya" pinta Laura dengan penuh harap.
"Aduh neng kalo itu nggak bisa. Bapak takut dimarahin lagi karna udah terlalu sering ngasih masuk anak-anak yang telat neng."
"Yahh, pak kali ini aja. Saya kan selama ini nggak pernah telat" Unggkap Laura yang masih berharap diberikan belas kasihan.
"Maaf neng, tetep nggak bisa, kalo neng mau neng Laura bisa balik lagi kesini pas jam istirahat, pas itu neng Laura boleh masuk." tawar pak Iwa.
"Hufft yaudah deh pak, nanti saya balik lagi pas jam istirahat." Laura akhirnya pasrah dan memilih pergi. Sekarang ia benar-benar bingung harus kemana. Tidak mungkin ia pulang dulu kerumah, itu hanya akan membuang waktunya saja.Belum lagi Bunda nya yang akan marah jika tau ia telat ke sekolah. Pergi ke taman akan sangat membosankan. Lalu ke mall? Oh Tuhan tentu saja tidak.Ia masih mengenakan seragam sekolah, ia hanya akan diusir dan dikira anak tukang bolos jika nekat kesana.
Laura sekarang sangat bingung harus memilih kemana membawa kakinya ini berjalan. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu.
"Warung Bu Santy!!!" pekiknya keras.
"Mending gua kesana aja, kak Delon kan pernah bilang kalo warung itu tempat mereka nongkrong dulu. Lagian tempatnya juga deket, cuman di belakang sekolahan."
Dengan wajah sumringah dan cerah khasnya, ia memutar arah langkahnya menujuh belakang sekolah, tempat warung Bu Santy berada. Dari jauh Laura sudah bisa melihat warung berukuran lumayan besar yang tampak dipenuhi banyak motor serta beberapa mobil.
"Kok banyak kendaraan sih? Apa mungkin warung itu dijadiin tempat parkir juga yah?Ahh taulah, yang terpenting sekarang aku punya tempat buat menghilangkan kegabutan."
Laura terus melangkah hingga depan warung, dan mulai terdengar gelak tawa laki-laki dari dalam warung itu. Hal itu tak mengecilkan niat Laura untuk masuk. Ia mulai membuka suaranya.
"Permisiii" seketika itu juga gelak tawa yang sedari tadi memenuhi warung itu lenyap. Kini semua mata memandang kearah Laura dengan ekspresi yang aneh menurut Laura. Nyalinya hampir saja ciut, sampai akhirnya salah satu dari mereka memecah keheningan.
"Lo anak TRISANA juga? Ngapain lo disini pas jam sekolah?Lo bolos yah? "
Kini Laura memandangi seragam yang ia pakai, ia baru sadar kalau seragam mereka sama.
"Tuh kan bener, lo bolos kan? Aduh cantik-cantik ternyata nakal juga yah" lanjut pria tadi.
"Ehh enggak kok, aku nggak bolos. Tadi itu aku telat masuk, karna gerbang cuma dibuka lagi pas jam istirahat pak Iwa nyuruh aku balik lagi nanti pas jam istirahat." jelas Laura yang agak tak terima dibilang bolos dan nakal.
"Terus lo ngapain ke sini? " tanya seorang pria berbadan kecil tetapi terlihat sangat tinggi itu.
"Aku kesini cuman buat nunggu sampe jam istirahat doang kok. Hmm terus kalian sendiri ngapain disini? Apa jangan-jangan kalian lagi yang bolos sekolah."
"Dihh bocah,sembarangan aja kalo ngomong. Kita itu bukan bolos, ini itu rutinitas kita sebelum sekolah."
"Rutinitas? Maksudnya? " Laura kembali bertanya karna ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan 'rutinitas' itu.
"Hadehh ribet dah. Intinya kita itu selalu dan wajib kesini dulu sebelum masuk sekolah. Udah gitu doang nggak usah nanya lagi. Gedeg banget gue lo nanya teruss!" ucap seorang laki-laki tinggi dengan wajah tampan yang sedari tadi diam saja itu.
"Dihh kok ngegas sih? Aku kan nanya cuman dikit. Dasar nggak jelas" dumel Laura dengan suara setengah berbisik agar tidak terdengar oleh mereka.
"KITA DENGERR!!!" teriak mereka semua bersamaan sambil menatap Laura dengan pandangan yang sulit diartikan.
Deggg....
Kini jantung Laura berdegup sangat kencang, kaki serta tangannya juga bergetar. 'Sial' kali ini Laura merutuki segala kesialan serta kebodohannya itu.
"Lo ngatain kita?" tanya seorang laki-laki yang berbadan cukup gembul.
"E.. Enggak kok, aku nggak sengaja. Maaf yah. Piss" jawab Laura dengan wajah ketakutan sambil mengangkat kedua jarinya membentuk tanda V.
"Jadi nongkrong disini nggak bareng kita? " tanya seorang pria berkulit hitam manis.
"Nanti gue yang traktir dah"
"Enggak usah kak, makasih. Aku pulang aja" seketika Laura langsung membawa kakinya untuk pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Deru nafasnya yang semakin tak beraturan membuatnya berhenti sejenak.
"SIAL BANGET SIH HARI INI. INI SEMUA GARA-GARA KAK DELON, TUNGGU AJAA AKU PASTI BAKALAN BALES!!!" Laura mulai mengeluarkan sumpah serapahnya untuk segala kesialannya yang terjadi diawal hari ini.
Akhirnya Laura benar-benar memutuskan untuk kembali ke rumah, mengingat mood nya yang sudah sangat amat rusak itu.
************************************
JANGAN LUPA VOTE YAHH
MAKASIH💙
YOU ARE READING
KISAH LAURA
Teen FictionLauranie Agatha, gadis cantik yang penuh cerita bahagia bersama sahabat-sahabatnya. Terjebak friend zone dengan teman smp yang terus berusaha mendapatkannya, hingga bertemu kakak kelas idaman yang menurutnya tepat mengisi hatinya. Jangan sampai ke...
