Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Sepupu Cinta

spinner.gif

Aku merasa punya alasan untuk benar-benar menunda menginap bersama Karel di sini. Di tempat yang ratusan kilometer jauhnya dari ayah ibuku dan puluhan kilometer dari ayah ibu Karel. Masih menganggap tawaran pacaran Karel jauh lebih tepat. Aku bahkan menganggap bahwa tawaran Karel untuk tetap pacaran pasca menikah berhubungan erat dengan cerita mereka sebagai sweet couple itu. 

Tuhanku..ampuni aku..

Aku benar-benar hanya bisa mengeluhkan ini pada Dia yang selalu mengerti aku. Hanya Dia satu-satunya dan aku percaya bahwa apapun keputusanNya, itulah yang terbaik. Kepasrahan itu membuat hatiku menjadi lebih lega dan itu membawa kepada sebuah pencerahan.

Aku tiba-tiba memiliki sebuah keputusan yang berbeda dari sebelumnya ketika kami masih dalam perjalanan sebelum sampai masuk ke gang menuju tempat kost ku. Ada minimal 2 alasan yang melatarbelakangi keputusanku. Pertama, Karel benar-benar sah sebagai suami dan aku memiliki kewajiban untuk taat kepadanya asalkan itu bukan sebuah ajakan untuk berbuat menyekutukan Tuhan atau berbuat keburukan. Sekarang dia memintaku untuk menginap bersamanya, jadi kenapa tidak? Hanya menginap kan?  Kedua, kalau memang apa yang akan Karel ceritakan kepadaku adalah sebuah permasalahan, maka aku fikir lebih cepat selesai jelas lebih baik.

Karel perlu bicara dan aku perlu mendengarkan. Lagi pula alasanku untuk tidak memberitahukan mengenai pernikahanku di mall tadi hanya karena aku kuatir akan reaksi sahabat-sahabatku di tengah keramaian. Aku sebenarnya tidak bermaksud menyembunyikan status pernikahanku sama sekali.

Aku menepuk bahu Karel perlahan.

“Ke tempatmu aja…”ujarku mantap.

“Maksudnya?” teriaknya  sambil membuka kaca helmnya.  

“Aku menginap di tempatmu saja. Biar kamu bisa lanjutin ceritamu...”balasku  berusaha mengatasi suara lalu lintas yang masih cukup ramai di sekitar kami.

“Oh ya?,.. .teman-temanmu?”

Karel terlihat senang dengan keputusanku.

“Nanti aku sms..”jawabku pendek sambil berusaha mengambil ponsel di saku jaketku. Tiba-tiba kurasakan Karel berbelok ke arah mini market. “Kok ke sini?” tanyaku ketika Karel turun dari motor. Aku mengikuti. “Kost mu di sini?”tanyaku merasa aneh.

“Nggak lah…beli snack sama minuman. Di kamarku  “gersang”. Belum ada apa-apa.”jawabnya sambil melangkah ke dalam mini market yang logonya bertebaran di mana-mana dan di jalur-jalur utama biasanya buka 24 jam.

Aku mengangguk mengerti. Karel kan memang baru hari ini tiba di kota ini.

Tidak lebih dari 20 menit kemudian di sinilah aku. Di sebuah kamar “cowok”. Ini bukan yang pertama aku tidur dalam kamar yang sama bersama Karel tapi dua-duanya ada di rumah  bersama seluruh keluarga. Di Palembang ataupun di Temanggung. Maka memasuki kamarnya membuatku merasa berbeda. Ada semacam rasa bersalah-tak beralasan-mengingat selama ini hal ini tidak mungkin aku lakukan. Berkunjung ke kamar kost milik seorang laki-laki. Sebuah paviliun tepatnya. Masing-masing dengan akses pintu  kunci sendiri.

Sebuah ruangan berjendela dan berpintu warna coklat, dinding berwarna gading sehingga nampak bersih. Ada satu kamar mandi, satu meja kecil, satu almari buku, satu busa ukuran queen (seperti di kamarku) dan…setumpuk buku serta dua tas punggung yang kelihatan padat isi. Inilah kamar “cowok” yang sudah resmi menjadi suamiku.

Sembari menunggu Karel beraktivitas di dalam kamar mandinya, aku membuat sms untuk sahabat-sahabatku.

“Girls, Aslmkm. Aku nginep di tempat Karel. Mf terlambat ngasih tahu, sejak 9 Sept kmrn aku sudah sah jadi istrinya.  Cerita menyusul. Jgn sms or telp. ”

Kutekan tombol send sambil berharap semua baik-baik saja. Semoga kata-kata singkatku mewakili semua yang harus aku sampaikan pada mereka dan tak lupa aku berdoa semoga mereka bisa mengerti setelah aku ceritakan semua prosesnya.

Karel keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dengan air wudhu.

“Sekalian wudhu aja kalau belum isya…”ujarnya sambil lalu. Tangannya meletakkan handuk di hanger.

“Aku lagi nggak sholat..”jawabku juga sambil lalu. Karel menoleh ke arahku.

“Ya…tertunda lagi nih..”ujarnya sambil nyengir bandel. Aku tertawa.

“Jangan bilang kamu punya agenda tersembunyi ngajak aku nginep ya…”olokku sambil melempar bantal ke arahnya.

“Ya..usaha kan boleh…”sahutnya masih bandel.

Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (12)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan